Rabu, 29 Desember 2021

“BERAPA HARGA ANAK KITA?”

Berapa harga anakmu?

Bingung pasti… Karena nilai anak tak bisa diukur dengan materi, tak ternilai..! Tapi benarkah anak itu tak ternilai? Kadang atau mungkin seringkali anak bernilai sangat rendah di mata orangtua.. Kadang dia lebih rendah dari sebuah guci kristal. Ketika guci itu pecah tanpa sengaja, maka rasa marah kemudian memecahkan perasaan anak, merendahkan nilai anak…. guci lebih berharga saat itu..! Kadang dia lebih rendah nilainya dari sebuah mangkok atau piring.. Yang jika pecah, suara kemudian meninggi memecahkan hati sang anak.. Atau lebih rendah dari semangkok sayur yang tertumpah, karena tangan kecilnya berusaha membantu ibu di dapur. Mata yang melihat terasa lebih pantas walaupun harus menumpahkan air mata sang anak…! Atau lebih rendah dari sebuah mobil baru yang jika tergores, maka goresannya dianggap lebih berbahaya ketimbang goresan luka di hati sang anak… Kadang anak juga lebih rendah nilainya dibanding facebook atau pertandingan bola…. sehingga lebih banyak waktu dan keseriusan yang dihabiskan untuk facebook dan nonton bola ketimbang mendengarkan cerita anaknya di sekolah.. Kadang anak lebih rendah nilainya dari handphone.. “gak boleh nanti rusak…!” kekhawatiran HP rusak lebih besar dibanding kekhawatiran rusaknya perasaan sang anak.  Berapa nilai anak bagi kita?
Adalah sejauh keikhlasan kita menahan diri hingga tidak merusak hatinya…. Adalah sejauh kemampuan kita menempatkan harga dirinya jauh diatas benda-benda mati yang kita miliki… Benda itu tidak akan menolong kita di YAUMIL   AKHIR ..!
Sementara ANAK , adalah..
investasi kita dihadapan Allah. Dia yang akan memperpanjang usia historis kita dengan doa dan amal sholih yang kita ajarkan dan dia melakukannya..
Ya Allah…jika ada keburukan akhlak kami ketika membesarkannya… hilangkanlah dari ingatan anak2 kami… hilangkan jejak2 keburukan dari tangan, mata atau mulut kami. Kami hanya penitipan, sesungguhnya Engkau akan mengambil titipanMu.
والله أعلم

۞اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.۞

  Join :
Telegram : t.me/chymh

“ILMU AGAMA ADALAH BEKAL HIDUP”

 العلم ليس لأجل السابقة و الامتحان،، لكن العلم لنعمل به في حياتنا لنسلم في الدنيا و اخرتنا...

كيف نعلم العمل الصالح بلا علم،،..

إذا زعم شخص أن العلم لأجل الامتحان أو لنعلمه فقد بدون العمل،، لا فاءدة فيه،، لا ينفع له علمه...

اعلموا.... إن الله لا يقبل من العمل بدون العلم..

Ilmu bukanlah untuk pertandingan dan tidak pula hanya untuk ujian...

Akan tetapi ilmu untuk di amalkan dalam kehidupan kita, supaya hidup kita selamat di dunia dan akhirat kita...

Bagaimana seseorang melakukan amal Sholeh tanpa ilmu ?

Jika seseorang beranggapan bahwa ilmu untuk pertandingan dan untuk menghadapi ujian saja, tanpa di amalkan.
Maka ilmunya tidak akan berfaidah dan bermanfaat baginya...

📌 Ketahuilah...  Sesungguh nya Allaah tidak menerima amal ibadah tanpa ilmu..

Ayo belajar ilmu agama dan mengamalkannya..!

Belajar & Muroja'ah ilmu Agama ikhlas karena Allaah 📖

Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Selasa, 28 Desember 2021

“SEJARAH SINGKAT SYECH NAWAWI AL BANTANI”

BIOGRAFI SYACH NAWAWI AL BANTANI

Syekh Nawawi lahir dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. (Sekarang di Kampung Pesisir, Desa Padaleman, Kecamatan Tanara, Serang).

Pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin 'Umar bin 'Arabi al-Bantani.

Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah.

Beliau merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin.(Raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon).

Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani.

Sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa.

Syaikh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 4 orang anak: Ruqoyah,Nafisah, Maryam, Jahroh.

SILSILAH SYECH NAWAWI AL BANTANI

Silsilah Syekh Nawawi al-Bantani sampai kepada Rasulullah SAW.

Syekh Nawawi al-Bantani bin

Syekh Umar al-Bantani bin

Syekh Arabi al-Bantani bin

Syekh Ali al-Bantani bin

Syekh Jamad al-Bantani bin

Syekh Janta al-Bantani bin

Syekh Masbuqil al-Bantani bin

Syekh Maskun al-Bantani bin

Syekh Masnun al-Bantani bin

Syekh Maswi al-Bantani bin

Syekh Tajul Arsy al-Bantani (Pangeran Sunyararas) bin

Sultan Maulana Hasanuddin bin

Sultan Syarif Hidayatullah bin

Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin

Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan bin

Sayyid Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini (Syekh Jumadil Kubro) bin

Sayyid Ahmad Jalal Syah Azmatkhan bin

Sayyid Abdullah Azmatkhan bin

Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin

Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadramaut) bin

Sayyid Muhammad Shahib Mirbath (Hadramaut) bin

Sayyid Ali Khali' Qasam bin

Sayyid Alawi ats-Tsani bin

Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin

Sayyid Alawi Awwal bin

Sayyid al-Imam 'Ubaidillah bin

Sayyid Ahmad al-Muhajir bin

Sayyid 'Isa Naqib ar-Rumi bin

Sayyid Muhammad an-Naqib bin

Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin

Sayyidina Ja'far ash-Shadiq bin

Sayyidina Muhammad al-Baqir bin

Sayyidina Ali Zainal Abidin bin

Sayyidina Husain bin

Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti

Sayyidina MUHAMMAD SAW.

PENDIDIKAN SYECH NAWAWI AL BANTANI

Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.
Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu.

GURU GURU SYECH NAWAWI AL BANTANI

Berikut adalah para ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Syekh Nawawi

Syekh Umar bin Arabi al-Bantani (Ayahnya)

K.H. Sahal al-Bantani

Syekh Baing Yusuf Purwakarta

Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi

Syekh Ahmad Zaini Dahlan

Syekh Abdul Ghani al-Bimawi

Syekh Yusuf Sumbulaweni

Syekh Abdul Hamid Daghestani

Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi

Syekh Ahmad Dimyati

Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali

Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki

Syekh Junaid al-Batawi

Syekh Zainuddin Aceh

Syekh Syihabuddin

Syekh Yusuf bin Muhammad Arsyad al-Banjari

Syekh Abdush Shamad bin Abdurahman al-Falimbani

Syekh Mahmud Kinan al-Falimbani

Syekh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani

Dan lain sebagainya.

*MURID MURID SYECH NAWAWI AL BANTANI*

Di antara murid-murid Syekh Nawawi yang menjadi ulama berpengaruh antara lain.

Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi.

Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura[10]

Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri

Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani, Caringin, Labuan, Pandeglang

Syekh Arsyad Thawil al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 dan Penyebar Islam di Sulawesi Utara.

Syekh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India - Pengajar di Masjidil Haram[12]

Sayyid Ali bin Ali al-Habsy - Pengajar di Masjidil Haram

Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat

Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, Pattani, Thailand

Syekh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Bantani - Cucu Syekh Nawawi

K.H. Saleh Darat as-Samarani

K.H. Hasyim Asyari, Jombang - Pendiri Nahdlatul Ulama

K.H. Ahmad Dahlan, Yogyakarta - Pendiri Muhammadiyah[13]

K.H. Hasan Genggong - Pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong

K.H. Mas Abdurahman - Pendiri Mathla'ul Anwar

K.H. Raden Asnawi, Kudus

Haji Abdul Karim Amrullah, Sumatra Barat

K.H. Thahir Jamaluddin, Singapura

K.H. Dawud, Perak, Malaysia

K.H. Hasan Asyari, Bawean

K.H. Najihun, Mauk, Tangerang

K.H. Abdul Ghaffar, Tirtayasa, Serang

K.H. Ilyas, Kragilan, Serang

K.H. Wasyid - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Tubagus Ismail - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Arsyad Qashir al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Abdurrahman - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Haris - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Aqib - Pejuang Geger Cilegon 1888

Dan lain sebagainya.

والله اعلم باالصواب....


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“ALLAH TIDAK INGKAR JANJI ”

 لايشككنك في الوعدعدم وقوع الموعودوان تعين زمنه لئلا يكون قدحافي بصيرتك واخماد النور سريرتك

"sungguh, janganlah kamu meragukan janji Allah ketika janji itu belum terjadi, meskipun masanya tidak jelas, agar keraguan itu tidak membutakan mata hatimu serta tidak memadamkan cahaya hatimu."

keterangan,
Hikmah ini lebih umum bila dibandingkan dengan hikmah yg sebelumnya. Inti dari hikmah ini adalah jangan pernah meragukan terhadap janji yg telah diberikan oleh Allah karena Allah tidak akan pernah ingkar janji.

Keraguan ini akan memadamkan lentera hati dan apabila lentera hati telah padam maka hidup terasa semu dan bahkan gelap gulita.
kekasih Allah adalah orang yg selalu beretika terhadap Tuhannya serta tidak akan gundah dan gelisah ketika apa yg dijanjikan Allah belum terjadi.

Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“TEKS YA ARHAMAR RAHIMIN”

 ياأرحم الراحمين ۰۞۰ ياأرحم الراحمين - ياأرحم الراحمين ۰۞۰ فرج علی المسلمين

Yâ Arhamar-Rôhimîn Yâ Arhamar-Rôhimîn Yâ Arhamar-Rôhimîn Farrij ‘alâl muslimîn

Wahai yang Maha Berkasih sayang lebih dari semua yang memiliki sifat kasih sayang, wahai Yang Maha Berkasih sayang lebih dari semua yang memiliki sifat kasih sayang, Wahai yang Maha Berkasih sayang lebih dari semua yang memiliki sifat kasih sayang, berilah pertolongan kepada kaum muslimin.

ياربنا ياگريم ۰۞۰ ياربنا يارحيم -  أنت الجواد الحليم ۰۞۰ وأنت نعم المعين

Yâ Robbanâ Yâ Karîm Yâ Robbanâ Yâ Rohîm Antal jawâdul halîm wa anta ni’mal mu’în

Wahai Tuhan yang Maha Pemurah, Wahai Tuhan kami yang maha Berkasih sayang, Engkaulah Yang Maha Pemurah dan Maha berlemah lembut, dan Engkaulah Yang Maha melimpahkan kenikmatan dan Maha menolong

وليس نرجو سواك ۰۞۰ فادرك إلهي دراك  -  قبل الفنا والهلاك ۰۞۰ يعم دنيا ودين

Wa laisa narjû siwâk Fadrik ilâhî darôk Qoblal fanâ wal halâk Ya’ummu dunyâ wa dîn

Dan tiadalah kami mengharap pada selain-Mu, Maka datangkanlah Wahai Tuhan kami pertolongan-Mu dan kepedulian-Mu. Sebelum terjadinya kerusakan dan kehancuran yang menyeluruh di permukaan bumi dan agama kami.

ومالنا ربنا ۰۞۰ سواك ياحسبنا -  ياذاالعلا والغنی ۰۞۰ وياقوي يامتين

Wa mâ lanâ Robbanâ Siwâka Yâ hasbanâ Yâ dzal’ulâ wal ghinâ Wa Yâ qowiyyu Yâ Matîn

Dan tiadalah yang bersama kami, wahai Tuhan kami selain-Mu wahai Yang Maha mampu mencukupi kami, wahai Yang Maha memiliki keluhuran, wahai Yang maha kaya, wahai yang Maha kuat, wahai Yang Maha Dahsyat kekuasaannya.

نسألك والی يقيم ۰۞۰ العدل گی نستقيم - علی هداك القويم ۰۞۰ ولا نطيع اللعين

Nas-aluka wâlî yuqîm. Al’ad-la kay nastaqîm ‘Alâ hudâkal qowîm wa lâ nuthî’ulla’în

Kami minta kepada-Mu, Pemimpin yang menegakkan keadilan, agar kami bisa lebih melakukan istiqomah ibadah, Diatas tuntunan hidayah-Mu yang tegak dengan benar dan mulia, dan hingga kami tidak berpemimpin kepada orang yang Engkau murkai.

ياربنا يامجيب ۰۞۰ أنت السميع القريب -  ضاق الوسيع الرحيب ۰۞۰ فانظر إلی المؤمنين

Yâ Robbanâ Yâ Mujîb Antas-samî’ul qorîb Dlôqol wasî’ur-rohîb Fandhur ilâl mu'minîn

Wahai Tuhan kami, wahai yang maha menjawab doa dengan lebih dari apa yang diminta, Engkaulah Yang Maha mendengar dan Maha dekat, Sungguh telah sempit hal-hal yang sebelumnya luas dan menyenangkan kini telah berubah menjadi kesempitan, maka pandanglah kepada orang-orang mukmin dengan kasih sayang-Mu dan kasihanilah orang-orang yang beriman.

نظرة تزيل العنا ۰۞۰ عنا وتدنی المنا - منا وکل الهنا ۰۞۰ نعطاه فی کل حين

Nadhrot tuzîlul ‘anâ ‘Annâ wa tudnîl munâ Minnâ wa kullal hanâ Nu’thôhu fî kulli hîn

Pandangan kasih sayang yang membuat sirnanya segala kesedihan pada diri kami dan dekatkanlah pada kami semua yang kami cita-citakan pada diri kami, dari apa apa yang kami cita-citakan dan semua kebahagiaan, agar kami dilimpahi anugerah setiap waktu.

سالك بجاه الجدود ۰۞۰ والی يقيم الحدود -  فينا ويکفی الحسود ۰۞۰ ويدفع الظالمين

Sâlak bijâhil judûd Wâliy yuqîmul hudûd Fînâ wa yakfîl hasûd Wa yadfa’udh-dhôlimîn

Kami meminta kepada-Mu, demi wali-wali-Mu yang selalu memperbaharui keadaan, kami meminta kepada Mu Pemimpin yang menegakkan kebenaran pada kami, dan menjaga kami daripada orang-orang yang dengki dan melindungi kami dari kedholiman.

يزيل للنگرات ۰۞۰ يقيم للصلوات -  يأمر بالصالحات ۰۞۰ محب للصالحين

Yuzîlu lilmunkarôt Yuqîmu lissholawât Ya,muru bisshôlihât Muhibbun lisshôlihîn

Pemimpin yang selalu membenahi kemungkaran, melakukan shalat, pemimpin yang selalu memerintah kepada hal hal yang baik, dan mencintai orang orang yang shalih

يزيح کل الحرام ۰۞۰ يقهر کل الطغام  - يعدل بين الانام ۰۞۰ ويؤمن الخالفين

Yuzîhu kullal harôm Yaqharu kullath-thoghôm Ya’dilu bainal anâm wa yu,minul khô-ifîn

Pemimpin yang selalu membenahi segala hal yang dilarang agama, dan menindas semua mereka yang berbuat dzalim, pemimpin yang adil diantara manusia, dan mengamankan serta melindungi orang orang yang dalam ketakutan dan kerisauan.

رب اسقنا غيث عام ۰۞۰ نافع مبارك دوام  - يدوم فی کل عام ۰۞۰ علی ممر السنين

Robbi-sqinâ ghoitsa ‘âm Nâfi’ mubârok dawâm Yadûmu fî kulli ‘âm ‘alâ mamarris-sinîn

Wahai Tuhan kami, hujani kami dengan lebatnya rahmat~Mu sepanjang tahun, yang membawa limpahan manfaat dan keberkahan yang berkesinambungan, yang berlanjut sepanjang tahun dari masa ke masa

رب احينا شاکرين ۰۞۰ وتوفنا مسلمين -  نبعث من الآمنين ۰۞۰ فی زمرة السابقين

Robbihyinâ syâkirîn wa tawaffanâ Muslimîn Nub’ats minal ãminîn fî zumrotis-sâbiqîn

Wahai Tuhan kami, jadikanlah kehidupan kami selalu jadi hamba yang bersyukur, dan wafatkanlah kami sebagai orang yang muslim, Hingga kami dibangkitkan dalam kelompok orang-orang yang aman dari siksa dan kemurkaan-Mu di dalam kelompok orang-orang yang masuk surga terlebih dahulu.

بجاه طه الرسول ۰۞۰ جد ربنا بالقبول -  وهب لنا کل سول ۰۞۰ رب استجب لی امين

Bijâhi Thôhâr-Rosûl Jud robbanâ bil qobûl Wa hab lanâ kulla sûl Robbistajib lî amîn

Demi tingginya derajat Nabi Muhammad saw, maka berkasihsayang lah wahai Tuhan kami kepada kami dengan memberikan pengabulan-pengabulan terhadap harapan-harapan kami, Dan limpahkanlah bagi kami apa-apa yang kami minta, Wahai Tuhan kami jawablah untuk kami dan kabulkanlah.

عطاك ربی جزيل ۰۞۰ وکل فعلك جميل  - وفيك املنا طويل ۰۞۰ فجد علی الطامعين

‘Athôka robbî jazîl Wa kullu fi’lik jamîl Wa fîk amalnâ thowîl Fajud ‘alâth-thômi’în

Anugerah-Mu wahai Tuhan kami sungguh indah dan banyak, dan semua perbuatan-Mu Indah, Dan pada-Mu cita cita kami sangat panjang, maka bermurah hatilah kepada orang orang yang sangat mendambakan anugerah-Mu.

يارب ضاق الخناق ۰۞۰ من فعل مالا يطاق  - فامنن بفك الغلاق ۰۞۰ لمن بذنبه رهين

Yâ Robbi dlôqol khinâq Min fi’li mâ lâ yuthôq Famnun bifakil ghilâq Liman bidzanbih rohîn

Wahai Tuhan kami, telah sempit tenggorokan kami (dalam kesulitan yang besar), dari perbuatan perbuatan yang tidak mampu kami hindari, Maka anugerahilah kami dengan terlepasnya segala kesulitan yang mengunci kami, untuk sang hamba yang tergadaikan oleh dosa-dosanya sendiri.

واغفر لکل الذنوب ۰۞۰ واستر لکل العيوب  - واکشف لکل الکروب ۰۞۰ واکف أذی المؤذيين

Waghfir likullidz-dzunûb wastur likullil ‘uyûb Waksyif likullil kurûb wakfi adzâl mu,dziyîn

Dan ampunilah setiap dosa, dan tutupilah segala aib aib kami, Singkapkanlah dari kami dan singkirkanlah segala permasalahan dan cobaan dan musibah, lindungi kami dan cukupkanlah gangguan dari orang orang yang mengganggu kami.

واختم بأحسن ختام ۰۞۰ إذا دنی الإنصرام  - وحان حين الحمام ۰۞۰ وزاد رشح الجبين

Wakhtim bi-ahsan khitâm Idzâ danâl inshirôm Wa hâna hînul himâm Wa zâda rosyhul jabîn

Dan akhirilah kami dengan Husnul khotimah, bila telah dekat ajal kami, Dan telah dekat nafas kami yang terakhir, dan tambahkanlah keringat yang mengalir di dahi sebagai tanda kematian kami yang mulia (orang-orang yang ahli surga wafat dalam keadaan husnul khotimah itu salah satu tandanya adalah dahinya berkeringat saat dia menghembuskan nafas terakhir)

ثم الصلاة والسلام ۰۞۰ علی شفيع الأنام  - والآل نعم الکرام ۰۞۰ والصحب والتابعين
Tsummas-sholât was-salâm ‘Alâ Syafî’il anâm Wal ãli ni’mal kirôm wash-shohbi wat-tâbi’în

Dan limpahkan sholawat dan salâm atas sang pembawa Syafa’at bagi manusia, dan atas keluarga beliau semulia mulia orang yang mulia, dan para shahabat dan tabi’in.


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Selasa, 21 Desember 2021

“SEBAIK-BAIK AMAL ADALAH SHALAT”

Oleh

Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Dari Tsaubân Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَدِّدُوْا ، وَقَارِبُوْا ، وَاعْمَلُوْا ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْـرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ  وَلَا يُـحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Berlaku tepatlah sesuai kebenaran, (berusahalah) mendekati kebenaran, dan beramallâh. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidaklah menjaga wudhu’, melainkan seorang Mukmin.


TAKHRIJ HADITS

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/282); Ad-Dârimi (I/168); Ibnu Hibbân (no.1034-at-Ta’lîqâtul Hisân dan no.164-Mawâriduzh Zham-ân); Ibnu Nashr al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadris Shalâh (no. 167); Dan lainnya. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 115.

Ada juga yang diriwayatkan dengan lafazh:

اِسْتَقِيْمُوْا وَلَنْ تُحْصُوْا، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ، وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ.

Tetaplah kalian beristiqamah dan kalian pasti tidak akan mampu! Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah shalat. Dan tidak ada orang yang senantiasa menjaga wudhu’nya melainkan seorang Mukmin.


SYARAH HADITS

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : سَدِّدُوْا  (Berlaku tepatlah sesuai kebenaran)

Makna lafazh  سَدِّدُوْا  ‘saddiduu’: اَلسَّدَاد ‘as-sadâd’ yang merupakan hakikat atau inti istiqâmah adalah selalu benar, tepat dan tetap benar dalam semua ucapan, perbuatan, dan keinginan, sebagaimana seseorang yang sedang membidik sasaran, ia berusaha keras agar tepat dan tidak meleset sedikit pun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruh ‘Ali Radhiyallahu anhu untuk memohon kepada Allâh Azza wa Jalla kelurusan (ketepatan) dan petunjuk.

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ وَسَدِّدْنِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Ya Allâh! Berilah petunjuk kepadaku dan luruskanlah diriku. Ya Allâh! Sesungguhnya aku memohonkan petunjuk dan kelurusan kepada-Mu


Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : وَقَارِبُوْا  (dan berusahalah mendekati kebanaran”

Makna qâribû’ yaitu jika tidak memungkinkan tepat, hendaklah berusaha mendekati sasaran. Namun dengan syarat, tetap bertekad untuk senantiasa berusaha benar dan tepat sasaran. Sehingga bila ia tidak benar atau tidak tepat sasaran, maka akan mendekati, namun itu diluar keinginannya atau tidak ada unsur kesengajaan. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! إِنَّكُمْ لَنْ تَفْعَلُوْا – أَوْ لَنْ تُطِيْقُوْا – كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ ، وَلٰكِنْ سَدِّدُوْا وَأَبْشِرُوْا

Wahai manusia! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat melaksanakan dan tidak akan mampu melaksanakan semua yang diperintahkan (oleh agama) kepada kalian, akan tetapi berusahalah untuk benar dan bergembiralah (dengan pahala amalan kalian)


Maknanya yaitu, berusahalah untuk selalu lurus, benar dan istiqamah. Karena jika mereka lurus (tepat) dalam semua amalan, maka mereka telah mengerjakan semua apa yang diperintahkan kepada mereka.


Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : وَاعْمَلُوْا  (Beramallah)

Seorang Muslim harus selalu melakukan amal shalih dan bergegas dalam melakukannya dengan ikhlas dan ittiba’. Dia harus selalu berbuat yang terbaik yang bisa dilakukan dengan kemampuannya.


Hendaklah dia memilih amal shalih terbaik yang mampu ia lakukan. Yang harus didahulukan adalah yang paling penting kemudian yang penting. Karena amal shalih dalam Islam itu sangat banyak, jadi dia harus memilih dan melakukan yang terbaik.


Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْـرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاة

Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat


Shalat disebut amalan terbaik, karena shalat adalah tiang agama. Shalat tempat munajat (memohon do’a) seorang hamba. Shalat menjadi tolok ukur amalan yang lainnya, artinya, jika shalatnya baik, maka yang lainnya baik dan jika shalatnya buruk, maka amalan lainnya juga buruk. Shalat menjadi cahaya dalam diri seseorang, keluarga dan rumah tangganya, serta cahaya pada hari Kiamat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…وَالصَّلَاةُ نُـوْرٌ…

… Dan shalat itu adalah cahaya …


Shalat sebagai pembeda antara orang yang benar-benar beriman atau tidak. Shalat juga bisa mendatangkan keberkahan dalam kehidupan dan lainnya.

Dalam Islam, shalat memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi oleh ibadah lainnya. Sebab, ia merupakan tiang agama. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

… رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ …

… pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allâh …


Shalat adalah sebaik-baik amal seorang Muslim, dan merupakan amal yang pertama kali yang akan dihisab pada hari Kiamat. Sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.

Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk.

Di samping itu, shalat adalah wasiat terakhir Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَاةَ ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ.

Kerjakanlah shalat, dan tunaikan kewajiban kalian terhadap hamba sahaya yang kalian miliki.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memerintahkan umatnya agar mengingatkan putra-putri mereka untuk mengerjakan shalat ketika telah berumur tujuh tahun.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika ia telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.


Makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pemukulan adalah pukulan yang nyata bukan pukulan terhadap hatinya dan tidak mengandung konotasi yang lain. Namun, pukulan itu bukan pukulan yang melukai dan bisa mencederai. Pukulan itu adalah pukulan yang mendidik.

Dalam riwayat yang lain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا ، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan kalau sudah berusia sepuluh tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).


Ini ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan pendidikan Islam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan agar kita selalu memerintahkan keluarga kita untuk shalat, mulai umur tujuh tahun sampai seterusnya. Wajib menyuruh mereka untuk shalat dan wajib untuk selalu diingatkan. Kita tidak boleh mendiamkan mereka. Kita perintahkan mereka shalat mulai dari shalat Shubuh sampai shalat ‘Isya’ setiap hari.

Kepada setiap kepala rumah tangga, hendaklah ia menyuruh isteri, anak, pembantu dan sopirnya untuk mengerjakan shalat.

Setiap kepala rumah tangga, ayah dan ibu, wajib menyuruh anak-anaknya untuk shalat. Wajib memperhatikan orang yang di bawah tanggungannya, agar mereka melaksanakan shalat wajib yang lima waktu.


Hukuman Orang Yang Meninggalkan Shalat

Hendaknya seorang Muslim takut apabila keislamannya diperdebatkan oleh para Ulama dengan sebab meninggalkan shalat.

Yang pasti, orang yang meninggalkan shalat telah berbuat dosa besar yang paling besar, lebih besar dosanya di sisi Allâh daripada membunuh jiwa, mengambil harta orang lain. Lebih besar dosanya daripada dosa zina, mencuri dan minum khamr. Orang yang me-ninggalkan shalat akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan Allâh di dunia dan di Akhirat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mengatakan, “Orang yang enggan mengerjakan shalat fardhu maka ia berhak mendapatkan hukuman yang keras (berat) berdasarkan kesepakatan para imam kaum Muslimin, bahkan menurut jumhur ummat (mayoritas), seperti imam Mâlik rahimahullah, asy-Syâfi’i, Ahmad, dan selain mereka. Ia wajib disuruh bertaubat, jika ia bertaubat (maka ia terbebas dari hukuman) dan jika tidak maka ia dihukum bunuh.

Bahkan orang yang meninggalkan shalat lebih jelek daripada pencuri, pezina, peminum khamr, dan penghisap ganja.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fasal tentang orang yang meninggalkan shalat, apakah ia dibunuh karena hadd ataukah karena kafir?

Adapun masalah yang ketiga, yaitu: Apakah (orang yang meninggalkan shalat) dibunuh karena hadd seperti dibunuhnya muharib (pelaku teror) dan pezina, ataukah dia dibunuh seperti dibunuhnya orang murtad dan zindiq? Dalam masalah ini ada dua pendapat menurut para Ulama, dan keduanya adalah riwayat dari Imam Ahmad:

Pertama: Ia dibunuh seperti dibunuhnya orang yang murtad. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair, ‘Amir asy-Sya’bi, Ibrâhîm an-Nakhâ’i, Abu ‘Amr al-Auza’i, Ayûb as-Sikhtiyâni, ‘Abdullah bin al-Mubârak, Ishâq bin Rahawaih, ‘Abdul Mâlik bin Habîb dari madzhab Mâliki, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syâfi’i, dan diceritakan dari Imam asy-Syafi’i sendiri oleh ath-Thahawi, dan diceritakan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan para Shahabat yang lainnya Radhiyallahu anhum.

Kedua: Ia dibunuh karena hadd, bukan karena kafir. Ini adalah pendapat imam Mâlik rahimahullah, asy-Syâfi’i rahimahullah , dan riwayat inilah yang dipilih oleh ‘Abdullah Ibnu Baththah.”[13]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat karena malas maka masih sah dihukumi sebagai Muslim selama tidak ada sesuatu yang menyingkap apa yang disembunyikan dalam hatinya, atau yang menunjukkan hal itu, dan ia meninggal dalam keadaan demikian itu sebelum ia disuruh bertaubat; sebagaimana hal tersebut terjadi di zaman sekarang ini. Adapun jika ia telah diberikan pilihan antara hukum dibunuh dan bertaubat dengan kembali menjaga shalatnya, lalu ia lebih memilih untuk dihukum bunuh, maka ia harus dibunuh. Dan dalam keadaan seperti ini, berarti dia mati dalam keadaan kafir, tidak boleh dikubur di pemakaman kaum Muslimin dan tidak diberlakukan hukum-hukum kaum Muslimin atasnya … karena tidak masuk akal,  ia akan memilih hukuman mati karena meninggalkan shalat –kalau bukan karena ia mengingkari kewajiban shalat dalam hatinya–, secara akal ini mustahil seseorang memilih dibunuh daripada mengerjakan shalat. Ini diketahui secara pasti dari tabi’at manusia, untuk menetapkannya tidak membutuhkan burhan (dalil).”

Sementara itu ada ulama lain yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat tidak dibunuh tetapi dipenjara seumur hidup atau bertaubat. Ini adalah pendapat az-Zuhri, Ibnul Musayyib, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Abu Hanifah, Dawud azh-Zhahiri, al-Muzani, dan Ibnu Hazm.

Tetapi perlu diingat dan dicamkan bahwa yang melakukan hukuman ini adalah ulil amri (pemerintah kaum Muslimin), tidak semua orang berhak melakukan hukuman ini.

Wajib Mengerjakan Shalat Sesuai Dengan Contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Shalat lima waktu harus dilaksanakan sesuai dengan tata cara yang dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِـيْ أُصَلِّـيْ

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.


Kita tidak mungkin bisa mengerjakan shalat sesuai dengan contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa belajar, tanpa datang ke majelis ta’lim, maupun tanpa membaca buku yang benar dan ilmiah tentang tata cara shalat. Saya anjurkan kepada pembaca sekalian untuk membaca buku Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah karena menurut penulis buku ini adalah buku terbaik dalam pembahasan sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketahuilah bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bukan sekedar mengerjakan shalat, tetapi ingat harus bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. Jangan seperti sebagian besar orang yang mengerjakan shalat tetapi shalatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Janganlah seperti orang yang lalai dan riya’, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’.” [Al-Mâ’ûn/107:4-6]


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas, “Maksudnya, (Celakalah) orang yang senantiasa mengerjakan shalat, akan tetapi mereka melalaikan shalatnya, yakni mereka tidak mengerjakan shalat pada waktunya, dan tidak menyempurnakan rukun-rukunnya. Ini dikarenakan mereka tidak memiliki perhatian terhadap perintah Allâh, dimana mereka melalaikan shalat yang merupakan ketaatan yang paling penting. Lalai dari mengerjakan shalat inilah yang menyebabkan pelakunya mendapatkan kecaman dan hinaan. Adapun lupa dalam shalat, maka ini terjadi pada setiap orang, bahkan pernah terjadi pula pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan sifat mereka bahwa mereka itu berbuat riya’, keras hatinya, dan tidak ada kasih sayangnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘yang berbuat riya’, yakni mereka mengerjakan berbagai amal perbuatan dengan tujuan agar dilihat manusia.”

Kita wajib ikhlas dan mencontoh sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat supaya shalat kita bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.  

Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah Kitab (Al-Qur-an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Ankabût/29:45]


Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Maksudnya, shalat itu mencakup dua hal. (Pertama), meninggalkan berbagai perbuatan keji dan mungkar dimana menjaganya dapat membawa kepada sikap meninggalkan hal-hal tersebut… (kedua) shalat mencakup pula upaya mengingat Allâh Azza wa Jalla , itulah pencarian yang paling besar.”


Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya shalat itu mempunyai tiga pokok. Setiap shalat yang tidak memiliki salah satu dari tiga pokok tersebut, maka itu bukanlah shalat. (Pertama), ikhlas, (kedua) khasy-yah (rasa takut disertai pengagungan terhadap Allâh Azza wa Jalla ), dan (ketiga) mengingat Allâh. Ikhlas memerintahkannya kepada yang ma’ruf, khasy-yah mencegahnya dari yang mungkar, dan mengingat Allâh adalah al-Qur-an yang memerintah dan melarangnya.”


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Shalat dikatakan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena seorang hamba yang mendirikan shalat, menyempurnakan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, khusyu’nya, maka hatinya akan bercahaya, dadanya akan bersih, imannya akan bertambah, dan bertambah kecintaannya kepada kebaikan, dan menjadi sedikit bahkan hilanglah keinginannya terhadap kejelekan. Yang terpenting, terus melakukannya dan menjaganya menurut cara seperti ini, maka shalat (yang dilakukannya itu) dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Dan ini termasuk tujuan dan buah yang paling agung dan luhur dari shalat. Dalam shalat ada maksud yang lebih agung dan lebih besar, yaitu kandungan shalat itu sendiri, berupa dzikir (mengingat) kepada Allâh Azza wa Jalla dengan hati , lisan dan anggota badan. Karena sungguh Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , sementara ibadah paling utama yang dilakukan manusia adalah shalat.


Di dalam shalat terdapat penghambaan seluruh anggota badan (kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) yang tidak terdapat pada selain shalat. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ 

… dan mengingat Allâh lebih besar (keutamaan-nya)…


Setiap Muslim wajib mengetahui bahwa thuma`ninah adalah salah satu rukun shalat. Karena itu, barangsiapa tidak thuma`ninah dalam shalatnya, maka shalatnya tidak sah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang thuma`ninah dan khusyu’ dalam shalat. Seperti dalam hadits tentang orang yang buruk shalatnya.

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فِـيْ نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ ، فَصَلَّـى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ. فَقَالَ لَـهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ، اِرْجِعْ فَصَلِّ ؛ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ (( . فَرَجَعَ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ . فَقَالَ : (( وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ، اِرْجِعْ فَصَلِّ ؛ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ )). فَقَالَ فِـي الثَّانِيَةِ أَوْ فِـي الَّتِيْ بَعْدَهَا : عَلِّمْنِـيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ! فَقَالَ: (( إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِـغِ الْوُضُوْءَ. ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ ، فَكَبِّرْ. ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ لَكَ مِنَ الْقُرْآنِ. ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا. ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّىٰ تَسْتَوِيَ قَائِمًا. ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا. ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ جَالِسًا. ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا. ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ جَالِسًا. ثُمَّ افْعَلْ ذٰلِكَ فِـيْ صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid, sementara Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah duduk di sudut masjid. Laki-laki itu shalat. Kemudian ia datang dan mengucapkan salam kepada  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wa ‘alaikas salâm, ulangi lagi shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat!” Kemudian laki-laki itu kembali dan melakukan shalat, kemudian datang lagi dan mengucapkan salam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wa ‘alaikas salâm, ulangi lagi shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Maka pada kali yang kedua atau ketiga, laki-laki itu berkata, “Ajari aku, wahai Rasûlullâh!” Beliau pun bersabda, “Apabila engkau hendak shalat, maka berwudhu’lah dengan sempurna, kemudian menghadaplah ke arah Kiblat, lalu bertakbirlah. Bacalah ayat-ayat al-Qur-an yang engkau hafal, kemudian ruku’lah sampai engkau thuma`ninah dalam ruku’, kemudian bangkitlah (dari ruku’) hingga engkau berdiri lurus, kemudian sujudlah hingga engkau thuma`ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah (dari sujud) hingga engkau thuma`-ninah dalam duduk, kemudian sujudlah hingga engkau thuma`ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah (dari sujud) hingga engkau thuma`ninah dalam duduk, kemudian lakukanlah semua itu dalam semua shalatmu.”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ: رُكُوْعِـهِنَّ، وَسُجُوْدِهِنَّ، وَمَوَاقِيْتِهِنَّ ، وَعَلِمَ أَنَّهُنَّ حَقٌّ مِنْ عِنْدِ اللهِ؛ دَخَلَ الْـجَنَّةَ ، أَوْ قَالَ : وَجَبَتْ لَهُ الْـجَنَّـةُ ، أَوْ قَالَ : حَرُمَ عَلَى النَّارِ.

Barangsiapa menjaga shalat lima waktu: ruku’-nya, sujudnya (dengan thuma’ninah), pada waktu-waktunya, kemudian ia mengetahui bahwa perintah ini benar-benar datang dari Allâh, maka ia akan masuk surga,” atau Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atasnya surga,” atau Beliau bersabda, “Ia diharamkan masuk neraka.”


Wajib Shalat Berjama’ah di Masjid Bagi Laki-Laki

Bagi  kaum lelaki, shalat lima waktu harus dikerjakan dengan cara berjama’ah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk shalat berjama’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan shalat berjama’ah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِـي الْـجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَىٰ صَلَاتِهِ فِـيْ بَيْتِهِ ، وَفِـيْ سُوْقِهِ ، خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّىٰ  لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّـيْ عَلَيْهِ مَا دَامَ فِـيْ مُصَلَّاهُ: اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْهُ ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ.

Shalat seseorang dengan berjama’ah akan dilipatgandakan 25 (dua puluh lima) kali lipat daripada shalat yang dilakukan di rumah dan di pasarnya. Yang demikian itu, apabila seseorang berwudhu’, ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian keluar menuju ke masjid, tidak ada yang mendorongnya keluar menuju masjid kecuali untuk melakukan shalat. Tidaklah ia melangkahkan kakinya, kecuali dengan satu langkah itu derajatnya diangkat, dan dengan langkah itu dihapuskan kesalahannya. Apabila ia shalat dengan berjama’ah, maka Malaikat akan senantiasa bershalawat atasnya, selama ia tetap di tempat shalatnya [dan belum batal]. Malaikat akan bershalawat atasnya, ‘Ya Allâh! Berikanlah shalawat kepadanya. Ya Allâh! Berikanlah rahmat kepadanya.’ Salah seorang di antara kalian tetap dalam keadaan shalat (mendapatkan pahala shalat) selama ia menunggu datangnya waktu shalat.’”


Dalam hadits lain, dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada shalat sendirian.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

Barangsiapa pergi ke masjid lalu kembali, maka Allâh menyediakan baginya hidangan di Surga saat dia pergi dan kembali.


Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

Barangsiapa shalat jama’ah dengan ikhlas karena Allâh selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama (takbiiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan bagi laki-laki untuk mengerjakan shalat dengan berjama’ah di masjid dan menganjurkan wanita untuk shalat di rumahnya karena bagi wanita, shalat di rumah itu lebih baik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat berjama’ah di masjid, bahkan ketika Beliau sedang sakit, hingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipapah ke masjid untuk mengerjakan shalat berjama’ah.

Masjid dibangun untuk diramaikan oleh kaum Muslimin dengan shalat lima waktu berjama’ah setiap hari dan shalat jum’at. Orang yang meramaikan shalat berjama’ah di masjid adalah orang yang beriman. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid Allâh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allâh. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. [At-Taubah/9:18]


Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid, bukan di rumah karena masjid dibangunnya untuk tujuan agar shalat berjama’ah bisa dilaksanakan di sana. Sangat disayangkan, sebagian kaum Muslimin, padahal ia termasuk donatur pembangunan masjid, pengurusnya dan bahkan termasuk para ustadznya, namun ia tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid.


Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah berkata:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَىٰ هٰؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَىٰ بِهِنَّ ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى ، وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَىٰ ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِـيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّـيْ هٰذَا الْمُتَخَلِّفُ فِـيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّـةَ نَبِيِّكُمْ ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ … وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ

Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allâh di hari Kiamat kelak dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia menjaga shalat lima waktu dimanapun ia mendengar adzan. Sungguh, Allâh telah mensyari’atkan kepada Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam  sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Shalat lima waktu termasuk sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang yang tertinggal ini shalat di rumahnya (dia tidak shalat berjama’ah di masjid) niscaya kalian akan meninggalkan sunnah Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah-sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat... Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali seorang munafik, yang telah diketahui kemunafikannya.


Di zaman Sahabat, orang laki-laki yang meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udzur syar’i dimarahi dan ditegur dengan keras oleh para Sahabat Radhiyallahu anhum.

Kerasnya teguran mereka terkandung dalam ucapan ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhum, yaitu:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ

Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali orang munafik, yang telah diketahui kemunafikannya


Pada zaman para Sahabat, hanya orang munafik yang meninggalkan shalat berjama’ah. Kalau datang waktu shalat Shubuh dan ‘Isya’, mereka enggan untuk hadir shalat berjama’ah di masjid. Karena keadaan pada waktu keduanya gelap, berbeda dengan shalat yang dilakukan di siang hari, mereka ikut berjama’ah karena riya’ (pamer).

Konsekuensi yang terkandung dalam hal tersebut adalah jika ada kepentingan rapat, kerja, dan kesibukan yang lainnya, maka tinggalkanlah pekerjaan itu untuk sementara. Lalu kerjakanlah shalat terlebih dahulu! Laki-laki mengerjakan shalat berjama’ah di masjid sedangkan wanita mengerjakan shalat di rumah.

 

Inilah anjuran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Mengerjakan shalat berjama’ah tidak memakan waktu lama, hanya 10 menit, tidak lebih lama dari waktu berdagang, kerja, kuliah, dan makan.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَلَا يُـحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Dan tidaklah menjaga wudhu’  melainkan seorang Mukmin

Tidak ada yang dapat menjaga wudhu dan shalat dengan terus menerus kecuali orang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla danRasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa saallam. Disebut dalam hadits ini syarat shalat yaitu bersuci (berwudhu). Seorang Mukmin wajib berwudhu ketika hendak shalat dan ini sebagai syarat sah shalat. Jika dia tidak berwudhu kemudian dia shalat, maka shalatnya tidak sah.


Di dalam hadits ini terdapat perintah agar istiqamah di atas iman dan tauhid serta mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla semata dan melaksanakan ibadah dengan istiqâmah sampai meninggal dunia.

Iman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak sempurna kecuali dengan istiqâmah, yaitu istiqâmah dalam tauhid kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Derajat istiqâmah sangat tinggi yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang.

Istiqâmah sangat berat, namun Allâh mudahkan bagi orang-orang yang ikhlas bertauhid dan kontinyu dalam ketaatan.

Sebaik-baik amal yaitu yang dilaksanakan dengan kontinyu, terus menerus, meskipun sedikit.

Diperintahkan untuk berlaku tepat sesuai kebenaran.

Wajib untuk berusaha berpegang kepada kebenaran yang bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Wajib bagi setiap Muslim untuk melakukan amal-amal shalih dengan ikhlas dan ittiba’.

Seorang Muslim harus memilih yang terbaik dan yang mampu dia laksanakan dari sekian banyak amal shalih.

Sebaik-baik amalan atau perbuatan seorang Mukmin adalah shalat.

Shalat adalah tiang agama, cahaya seorang Mukmin dan penyejuk hati seorang Mukmin.

Seluruh amal, baik dan buruknya tergantung dari tauhid dan shalatnya.

Hubungan seorang hamba dengan Allâh Azza wa Jalla yang pertama kali dihisab adalah shalatnya.

Wajib mengerjakan shalat lima waktu dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Wajib mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya.

Wajib mengerjakan shalat dengan khusyu’ dan thuma`ninah.

Wajib bagi laki-laki mengerjakan shalat yang lima waktu berjama’ah di masjid.

Wajib menjaga wudhu dan shalat dengan terus menerus sampai wafat.

Orang yang tidak melakukan shalat lima waktu maka dia telah berbuat dosa besar yang lebih besar dari zina, minum khamr, dan lainnya.

Ulil amri (pemerintah) wajib memerintahkan rakyatnya untuk shalat dan memberi sanksi hukuman yang berat bagi orang yang meninggalkan shalat lima waktu.


MARAAJI’:

Tafsîr Ibni Katsîr

Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannâ

Kutubus Sittah dan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.

Ash-Shalâh wa Hukmu Târikihâ karya Imam Ibnul Qayyim.

Majmû’ Fatâwâ Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah.

Sifat Wudhu dan Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karya penulis, Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Dan lainnya..


Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 19 Desember 2021

“AT-TAGABUN AYAT 2”

At-Tagābun Ayat 2

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَّمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ (٢)

Terjemah :
Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu (juga) ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

• Tafsir Ringkas Kemenag :
Dialah yang menciptakan kamu dalam bentuk yang sebaik-baiknya, lalu di antara kamu ada yang kafir, karena mengikuti hawa nafsu; dan di antara kamu juga ada yang mukmin, karena Allah memberikan petunjuk dan manusia menggunakan akal dan nuraninya. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan sehingga tidak satu pun perbuatan manusia yang tidak diketahui-Nya.

• Tafsir Kemenag :
Ayat ini menerangkan bahwa Allahlah yang menciptakan semua yang ada menurut kehendak-Nya. Allah berfirman:

Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. (az-Zumar/39: 62)

Pada dasarnya manusia ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah, tetapi sebagian dari manusia itu memilih kekafiran yang bertentangan dengan fitrahnya dan sebahagian lagi memilih iman sesuai dengan tuntutan fitrahnya, sebagaimana sabda Nabi saw:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Maka kedua orang tualah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Andaikata manusia itu mau memikirkan kejadiannya dan kejadian yang ada di alam raya ini, pasti cukup menjadi jaminan bagi manusia untuk kembali kepada yang hak dengan memilih iman, dan mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Akan tetapi, manusia itu tidak sadar dan insaf atas semuanya itu, sehingga terjadilah perpecahan, mengingkari Tuhan yang menciptakannya, serta nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Selayaknya manusia itu menginsafi bahwa Allah melihat segala yang dikerjakannya, dan di akhirat nanti dia akan diberi balasan terhadap semua itu. Yang baik dibalas dengan surga, sedangkan yang jahat dibalas dengan siksaan dan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam, sejahat-jahat tempat kediaman, sebagaimana Allah berfirman:

Sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (al-Furqan/25: 66)


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“SAHABAT FILLAH”

Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal terbaik, termahal dan tercantik yg kita miliki atau dari hal-hal terindah yg selalu kita impikan..

Akan tetapi, kebahagiaan datang dari cara kita menyikapi apa yg kita miliki..

Syukurilah..

maka kebahagiaan itu akan datang..

Nikmatilah tanpa mengeluh, sebab boleh jadi apa yg kita keluhkan adalah kenikmatan yg diharapkan orang lain

Syukurilah..

karna syukur adalah kunci kekayaan hidup..

Syukur akan mengubah apa yg kita miliki menjadi cukup & mengubah tamak jadi qonaah

Mari kita belajar tuk menjadi bahagia dengan sederhana

Tersenyumlah tuk menyingkirkan duka dari diri kita & dari orang-orang disekeliling kita

Tersenyumlah, sebab bukan kita saja yg punya masalah dalam hidup ini..

Disana ada banyak orang yg kehidupannya mungkin jauh lebih susah dari kita, namun mereka memilih diam dan menyepi dalam munajat..

Jangan lupa semangat..

Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Sabtu, 18 Desember 2021

“SEMUA BERUBAH KARENA GADGET”

1. Dulu, kebersamaan begitu Indah. Suami istri bisa saling menatap wajah, tapi sekarang semua berubah karena Gadget. Saat menatap wajah, ternyata pasangan Anda sedang menatap gadget.

2. Saat makan bersama, dulu bisa saling bercakap-cakap. Kini, semua berubah...! Tangan kanan pegang sendok, tangan kiri pegang Gagdet.

3. Saat bersama di ruang tamu. Dulu, saling bertanya kabar antar anggota keluarga. Sekarang...? Anak main game di Tablet, Ayah sibuk melayani klien di WhatsApp dan Ibu sedang asyik bersosialita di Facebook.

4. Saat berada di dalam mesjid, dulu bisa khusyu mendengar pengajian. Tak ada yang dirisaukan. Sekarang...? Duduk bersila di depan ustadz, wajah menunduk, mata serius menatap gagdet dan tangan sibuk mengetik keypad...!

5. Saat berada di dalam kamar, harusnya bisa asyik becanda dengan pasangan. Tapi sekarang...? Yang satu menghadap tembok dengan tangan meraba screen gagdet, yang satu lagi juga melakukan hal yang sama.

6. Saat silaturahim ke rumah saudara, dulu bisa becanda ketawa ketiwi. Sekarang...? Meski perjalanan jauh sudah ditempuh, sampai tiba di lokasi juga dihabiskan waktu untuk sibuk dengan gagdet sendiri.

7. Bertamu di rumah orang, dulu disambut dengan wajah ceria dan bahagia, ramah bisa ngobrol banyak hal. Sekarang...? bertamu di rumah orang, disambut dengan membalas sms, menerima telepon dan whatsap-an, sembari sekedar menjawab obrolan kita dengan..."oh gitu ya iya... Oh, bener itu Oh.” Garing...!

8. Sehabis sholat, dulu bisa tenang dan khusyu berzikir. Hati bisa connect ke Allah langsung. Kini...? Setelah salam, langsung merogoh saku, gagdet pun dikeluarkan.

9. Dulu, saat pasangan curhat soal hatinya dan pikiran siap mendengarkan. Sekarang...? Saat pasangan curhat, konsentrasi pada gadget, sedangkan telinga pura-pura mendengar.

10. Saat anak mengeluh sesuatu, dulu kita jongkok memposisikan wajah kita tepat di wajahnya. Anak merasa disayang dan diperhatikan. Sekarang...? "Aduuhh nak...ibu sedang sibuk, masa gitu saja ngeluh sih..." Sembari ngetik obrolan di sosmed.

Bagaimana dengan kita...?


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KEBERSAMAAN DAN PERTEMUAN”

kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan pe...