Selasa, 27 Oktober 2020

“ORANG YANG PANDAI”

Teringat ketika kita masih kecil, maka orang tua kita sering mendoakan kita menjadi orang yang pandai atau pintar. Memang kepandaian merupakan satu hal yang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Tapi apakah kepandaian itu? Mungkin dari kita ada yang menghitung berdasarkan IQ. Tapi kasihan juga orang yang ditakdirkan dilahirkan dengan IQ yang rendah, mereka tidak akan pernah menjadi orang pintar. Bahkan kepintaran dijadikan iklan obat anti masuk angin.


Yang menarik dalam Islam, kepandaian itu dapat diraih oleh setiap orang, walaupun IQ nya tidak tinggi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:


Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)


Jadi ada dua parameter orang yang pandai yaitu orang yang sering bermuhasabah dan melakukan amal untuk persiapan setelah meninggal.


Muhasabah


Muhasabah dari kata hisab yang berarti perhitungan atau melakukan evaluasi. Kesibukan aktifitas kita terkadang melupakan kita untuk mengevaluasi sejauh mana progres aktifitas dan menilik hal apa yang kurang dan perlu diperbaiki. Padahal evaluasi itu perlu dilakukan, agar kita bisa bernafas dan menata ulang kehidupan kita.


Al Quran menyuruh kita untuk muhasabah [QS. Al-Hasyr 18]:


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”


Sahabat Umar r.a. berkata:


”Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.”


Pernyataan sahabat Umar r.a. diatas bermakna bahwa semakin sering kita melakukan muhasabah maka semakin lebih sering memperbaiki diri dan semakin ringan hisab di yaumil akhir. Oleh karena itu, muhasabah bisa dilakukan tiap hari, pekanan, bulanan atau tahunan.


Muhasabah tidak hanya bermanfaat untuk akhirat tapi juga untuk kehidupan dunia. Bill Gates, seorang milyuner, selalu menyempatkan untuk beristirahat seminggu atau “think week” dalam enam bulan sekali dari kepenatan di perusahaannya, Microsoft. Dia akan beristirahat disuatu tempat yang sunyi dan membaca buku sekitar 18 jam sehari. Dari kesempatan untuk berkontemplasi tersebut, muncul ide-ide segar dalam pengembangan software.


Beramal untuk Bekal


Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.


Orang yang pandai bukan hanya bisa bekerja atau mengumpulkan harta, tetapi orang yang juga beramal sholeh untuk hari kemudian. Orang tersebut akan sibuk beraktifitas dan juga berinfaq atau membantu sesama agar mendapatkan pahala di hari akhir. Dalam surat Al Qashash 77, Allah SWT berfirman:


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”


Bahkan dalam ayat ini disebutkan keutamaan terhadap bekal di dunia, dengan tidak melupakan kebahagiaan di dunia. Beginilah pola hidup yang patut ditiru sehingga terjadi keseimbangan dalam kehidupan kita agar kebahagiaan di dunia dan akhirat bisa diraih.


Secara ringkas, kepandaian yang hakiki dapat dicapai oleh setiap orang. Kepandaian itu dapat digapai dengan melakukan muhasabah secara berkala dan beramal untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Semoga kita mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk menjadi seorang muslim yang pandai


ORANG YANG BISA MENGHARGAI WAKTU ORANG LAIN JUGA TERMASUK ORANG YANG PANDAI


SEMOGA BERMANFAAT



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Senin, 26 Oktober 2020

“IBU”

Ibu adalah sosok yang sangat istimewa dan tiada duanya bagi setiap anak. Ibu juga merupakan seseorang yang tempatnya tak akan pernah bisa digantikan siapapun itu, bahkan oleh ayah sekalipun.


Ibu adalah adalah sosok yang luar biasa dalam kehidupan kita. Ibu adalah sosok perempuan tangguh yang selalu tangguh dan tegar ketika badai kehidupan menghempas. Ibu secara fisik boleh saja merupakan sosok yang lemah, namun ketika harus menyelamatkan anak-anaknya, ia bisa berubah menjadi jiwa pemberani dan tegas. Rela pasang badan tatkala membela anak-anaknya dari ancaman dan bahaya apa pun.


Dalam Islam, kedudukan seorang ibu lebih tinggi dari ayah.

Hadist Nabi Muhammad shallallahu 'Alahi wasallam:


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ


Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan berkata, Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, Kemudian siapa lagi?Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR.Bukhari dan Muslim)


Dalam Hadist di atas Rasulullah mengatakan ibu 3 kali setelah itu baru bapak. Dalam beberapa tafsir, hal tersebut mengartikan bahwa kita harus berbakti kepada ibu 3 kali lebih besar dari bakti kita kepada bapak kita.


Kenapa ibu disebut 3 kali??  Karena ibu yang mengandung, ibu yang melahirkan dan ibu pula yang menyusui.


وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: بُرُّوا آبَاءَكُمْ تَبُرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ وَعِفّوا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ.


Nabi saw. bersabda, “Berbuat baiklah kepada orang tua-orang tua kalian maka anak-anak kalian akan berbuat baik kepada kalian, dan jagalah diri kalian (dari zina), maka istri-istri kalian akan terjaga (dari zina).” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabarani.


Maka berbaktilah kepada orang tua.

Sebagaimana kamu berbuat maka akan kembali kepadamu pula, Sebagaimana Engkau berbakti kepada orang tuamu maka anak mu akan berbakti pula kepadamu.


Berbaktilah kepada orang tua, baik orang tua yg sholeh ataupun orang tua yang kafir sekalipun, maka wajib ia berbakti kepada orang tuanya selagi tidak menyimpang dari syariat Allah.

Andaikata menyimpang dari syariat Allah ia tidak wajib mengikuti nya tapi bukan berarti tidak diperbolehkan nya berbakti kepada orang tuanya.


Anak yg memasang muka masam kepada orang tuanya nya saja para malaikat cepat² ke arasy karena arsy bergoncang, para malaikat dengan cepat memegangi arsy karena takut jatuh ke orang tersebut, sangking Allah murka kepada Anak yg ngasih muka masam ke orang tuanya. Apalagi anak yg ngomong kasar kepada orang tuanya, anak yg membentak orang tuanya maka akan mendatangkan kemurkaan Allah yang luar biasa. Naudzubillah min dzalik


Apabila kita sudah menikah maka kita adalah milik suami kita sedangkan suami kita adalah milik ibunya maka jangan halangi suami mu untuk berbakti kepada ibunya.


Wallahu A'lam bish-shawaab



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“SALAH DAN DOSA”

Manusia itu cenderung terjatuh dalam kesalahan, dan dosa

Dan Allah Ta'ala Maha pengampun bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya 


Bila engkau lihat ada saudara atau sahabatmu yang terjatuh dalam maksiat 

maka

nasehatilah  dengan cara yg baik

bukan  mencelanya  serta membuka aibnya.


Rasulullohu shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.”

(HR. Tirmidzi no. 2505)


Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. 

Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat. 

Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.

Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya….” 

(HR. Muslim no. 2699)


Tetep semangat...!

Untuk senantiasa bertutur. berfikir dan berbuat positif


Semoga Allah Ta'ala selalu menjaga keberkahan hidup dan kehidupan kita didunia dan akherat. Semoga kita bisa menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.


Robbana Taqobbal Minna

Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami)

Aamiin Yaa Robb



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 25 Oktober 2020

“PELAJARI FIQIH NIKAH SEBELUM MEMBINA RUMAH TANGGA”

Menikah adalah perkara yang merupakan sunnah para Nabi. Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 38:


“Sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelum engkau dan Kami jadikan untuk mereka istri-istri dan keturunan-keturunan.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 38)


Di sini Allah mengatakan bahwa para Rasul semuanya beristri dan mereka punya keturunan. Dan Allah juga memerintahkan untuk menikahkan para pemuda dan pemudi. Allah berfirman dalam surat An-Nur ayat 32:


“Dan nikahkanlah para gadis-gadis di antara kalian dan orang-orang shalih dari hambasahaya laki-laki dan wanita kalian.” (QS. An-Nur[24]: 32)


Dan Allah bahkan menjadikan adanya pernikahan, ketertarikan antara laki-laki dan wanita, itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21:


Diantara tanda-tanda kebesaran Allah, yaitu Allah menciptakan untuk kalian dari diri kalian istri-istri kalian agar kalian merasa tenang kepadanya dan Allah menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Dan sesungguhnya didalam itu semua terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Ar-Rum[30]: 21)


Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan para pemuda untuk menikah. Rasulullah bersabda:


Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu ba’ah (mampu untuk memberikan nafkah baik batin maupun lahir), hendaklah ia menikah.”

Karena itu lebih menundukkan pandangan kalian, dan lebih menjaga kemaluan kalian.”

Dan siapa yang belum mampu untuk menikah, hendaklah ia berpuasa karena itu menjadi perisai untuknya.”


Dan Nabi mengatakan bahwa hubungan suami istri itu termasuk sedekah. Nabi bersabda

dalam hadits Abu Dzar yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya:


Dan kemaluan kalian ada sedekahnya.”


Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang mendatangi syahwatnya itu menjadi pahala buat dia wahai Rasulullah?” Kata Rasulullah:


Bagaimana pendapat kalian jika seseorang meletakkan kemaluannya di tempat yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa?


Demikian pula apabila ia meletakkan kemaluannya di tempat yang halal maka ia mendapatkan pahala.”


Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa


 sebaik-baik umat Islam adalah yang paling banyak istrinya. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Bukhari:


“Menikahlah! Karena sebaik-baik umat ini yang paling banyak istrinya.” (HR. Bukhari no. 5.069)


Islam tidak pernah menganjurkan kependetaan dimana seseorang tidak mau menikah. Karena menikah itu banyak sekali faedahnya.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag


Jumat, 23 Oktober 2020

“FAEDAH MENIKAH”

1. Mempraktekkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah memerintahkan untuk menikah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memerintahkan untuk menikah. Maka kalau kita mempraktekkan perintah Allah dan RasulNya akan mendapat pahala. Bahkan dalam riwayat Hakim bahwa menikah itu menyempurnakan setengah agama kita. MasyaAllah.


2. Menyalurkan syahwat sehingga kita bisa menundukkan pandangan


Dengan kita tersalurkan syahwat kita, maka insyaAllah kita bisa menundukkan pandangan kita. Dan menentukan pandangan itu sangat penting. Karena itu adalah jalan untuk menjaga hati. Orang yang pandangannya selalu jelalatan sana-sini, pasti hatinya juga tidak terjaga. Maka dari itu dengan cara kita menikah itulah kita bisa menjaga hati kita dengan cara menundukkan pandangan.


3. Menjaga kemaluan dan menjaga kehormatan para wanita


Ketika para wanita itu menikah, terjaga kehormatan mereka. Berbeda dengan wanita-wanita yang melacur dan yang lainnya.


4. Mencegah tersebarnya perzinahan


5. Memperbanyak keturunan


Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbangga dengan banyaknya keturunan. Dalam haditsnya Nabi bersabda:


Nikahilah wanita yang banyak cinta dan banyak anaknya, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya pengikut pada hari kiamat.”


Membuat Nabi bangga itu sesuatu yang luar biasa. Caranya tiada lain dengan cara menikah.


6. Mendapatkan pahala yang banyak


Karena suami kalau punya istri dan dia mencari nafkah, dia akan mendapatkan pahala. Dia sabar menghadapi istrinya mendapat pahala,  dia mendidik istri dan anaknya mendapat pahala. Bahkan dengan menikah itu seorang laki-laki dan wanita dilatih kedewasaannya. Bagaimana menjadi seorang suami yang baik, bagaimana menjadi seorang istri yang baik, melatih jiwa pengertian, bagaimana seorang suami yang penuh pengertian kepada istrinya, bagaimana seorang istri jadi pengertian terhadap suaminya. Coba kalau sendirian, tidak punya istri, jomblo?


7. Mencintai apa yang dicintai oleh Rasulullah


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dijadikan mencintai dua perkara dari kehidupan dunia; yang pertama minyak wangi, yang kedua wanita. Rasulullah diberikan oleh Allah kekuatan syahwatnya sama dengan 30 laki-laki yang normal. Antum saja kalau ngga ketemu istri seminggu, safar di perjalanan, pusing. Itu baru kekuatannya 1 kali laki-laki. Bagaimana dengan Rasulullah yang diberikan oleh Allah kekuatan jima’nya sama dengan 30 laki-laki? Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberikan oleh Allah kelebihan boleh menikah lebih dari 4, beda dengan kita.


8. Mendapatkan keturunan


Dengan adanya keturunan itu meneruskan kita, mendo’akan kita dan bahkan menjadi pahala buat kita. Kita punya anak kita didik supaya membaca Al-Qur’an dan ketika si anak itu sudah besar pahalanya terus mengalir buat orang tuanya. Alhamdulillah.. Makanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka akan terputus seluruh amalnya kecuali tiga.” Diantaranya adalah anak shalih yang mendo’akan.”


9. Mengikat cinta dan kasih sayang


Cinta dan kasih sayang di antara suami dan istri dengan cinta dan kasih sayang yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang namanya lelaki pasti punya keinginan untuk menintai wanita. Wanita pun juga ada keinginan mencintai laki-laki. Maka dengan adanya pernikahan, tali kasih sayang dan cinta kasih itu menjadi sesuatu yang halal dalam syariat.


Dan banyak lagi keistimewaan-keistimewaan menikah yang lainnya.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“SABAR”

 ‘’sabar’’. Sabar berasal dari kata sobaro yasbiru yang artinnya menahan.


Menahan disini pengertiannya luas bisa saja kita sedang berpuasa menahan nafsu untuk ini dan itu, kita menahan lapar berarti kita harus bersabar dari rasa ingin makan sampai adzan maghrib yaitu waktu untuk berbuka, kita harus bersabar menghadapi perilaku seseorang yang buruk pada kita berarti kita harus sabar dari kezaliman.


Sekali lagi tidak semua orang bisa memperoleh kemenangan dan kenikmatan dari rasa sabar tersebut karena dari awalnya memang tidak dapat menahan, oleh karena itu perlunnya kita selalu mendekatkan diri kepada Allah agar selalu diberi kesabaran yang tiada batasnya. Agar kita dapat memperoleh pahala yang seluas-luasnya.


Sebagai mana firman Allah Q.S Albaqarah 153 yang Artinnya :


Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”


Dari penjelasan ayat tersebut bahwa kita sudah ketahui jka Allah selalu memberikan pertolongan pada setiap hambannya yang mau menjalankan perintahnya, dialah ayat tersebut dijelaskan bahwa jika kita mengerjakan sholat wajib dan dapat menahan diri dengan rasa sabar maka Allah menjanjikan pertolongan bagi hambannya yang sedang dalam kesusahan.


Sabar memang tidak mudah, sabar adalah ujian, justru karena ketidakmudahan itulah Allah menguji hambannya seberapa hambannya dapat lolos dari ujian sabar. Jika kita lolos, kita selalu beristigfar dan berfikir positif terhadap segala ketentuan Allah niscaya kita akan mendapat beribu kemuliaan dan keberuntungan yang datang dari pintu manapun.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Kamis, 22 Oktober 2020

“TIGA AMAL YANG TIDAK DITIMBANG DI HARI KIAMAT karena hebatnya..”

ثلاثة أعمال ليس لها موازين يوم القيامة لعظمتها


Tiga amal yang tidak akan ada timbangannya pada hari kiamat, karena keagungannya...


1- العفو عن الناس: لم يحدد الأجر

قال الله تعالى: { فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ}.


1- Memaafkan Kesalahan Orang: (amal istimewa yang) tidak terbatas pahalanya.


Allah berfirman:


(وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ)


[Surat Ash-Shura 40]

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.


2- الصبر: لم يحدد الأجر 

قال تعالى: (إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}


2- Sabar:  (amal istimewa) yang juga tidak terbatas pahalanya.


Allah berfirman:


(قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ)


[Surat Az-Zumar 10]

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.


3- الصيام: لم يحدد الأجر (كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به).


3- Puasa: (juga amal istimewa) yang tidak terbatas pahalanya.


Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya:


كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به.


Yang artinya: semua amal anak Adam adalah diperuntukkan kepadanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya. (Bukhori dan Muslim)


وينادي مُنادٍ يوم البعث: أين الذين أجرهم على الله؟ فـيقبل الصابرون والصائمون والعافون عن الناس.


Pada hari kebangkitan ada Penyeru yang memanggil : Mana orang-orang yang pahalanya atas (tanggungan) Allah..?!


Maka menghadaplah orang-orang yang sabar, orang-orang yang berpuasa dan orang-orang yang lapang hati suka memberi maaf kepada orang lain.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Rabu, 21 Oktober 2020

“AKHWAT BERCADAR ZAMAN NOW, PAKAIAN SUNNAH DIGUNAKAN UNTUK BERGAYA.”

Awal pertama baca kata² ini..

Langsung jlebb ke hati..
Terdiam sejenak sembari mengulang perjalanan dari awal lalu..

Mohon bersabar ini ujian!!! . Ketika pelaku selfie mengatakan, "harap maklum kami baru berhijrah dan masih belajar". . Kami pun demikian. Catat. . Tapi yang tidak masuk diakal adalah ketika mereka penggemar selfie juga berdalih, "apa salahnya mengupload foto diri dengan bercadar, kan untuk menginspirasi orang lain", "niatnya baik kok untuk dakwah". . Lhaaa kan tanda tanya (?)

Katanya baru belajar kok udah banyak gaya dan getol mendakwahkan hijab syar'i plus cadar dengan berselfie? Belum paham fitnah wanita? Belajar! . Salah prioritaskah antunna? Kalau sadar (baru berhijrah dan masih belajar) ya harusnya sibuk menuntut ilmu toh? Mana nih slogan Sami'na wa atho'na nya? Kan udah pernah ngaji sih? . Lagian, hasilnya juga apa dari dakwah sambil selfie? Menginspirasi orang lain?

Benar. Banyak. Menjamur malah. . Tapi mereka para awam terinspirasi untuk gaya-gayaan dengan hijab lebar juga cadar macam-macam, bukan menyibukkan diri dengan menuntut ilmu syar'i. . Kalaupun ada yang tergerak untuk ke majelis ilmu, pas pulang yang dibagi-bagi bukan ilmu tapi justru foto selfie² dengan sesama akhawat bercadar, demi mendongkrak "keshalihan" di sosial media. . Ketahuilah saudariku.. Cara menginspirasi orang lain yang paling ampuh adalah dengan akhlak mulia. Tak perlu narsis-narsis di dunia maya untuk mensyiarkan hijab dan cadar. . Percaya deh itu jauh lebih aman dari fitnah. Orang akan melihat dan mampu menilai. Lagi ilmu bisa disampaikan tanpa orang lain kenal siapa kita kok. . Semangat hijrah. Tapi jangan tertipu karena sudah menginspirasi banyak orang untuk berhijrah tapi kitanya justru tidak ada perubahan. Masih keukeuh membenarkan dakwah nyelfie. -

Seperti yg kita ketahui ketika seseorang telah memutuskan untuk mengubah penampilannya..
Maka ia dapat di katakan HIJRAH..
.
Memang benar..
.
Tapi hijrah juga tidak hanya soal penampilan..
Toh sekarang baju syari sedang trend²nya di pasaran atau di toko online..
Sehingga, siapapun dan bagaimana pun orangnya bisa dengan bangga menggunakannya..
.
Namun, apalah arti berubahnya penampilan tanpa diringi perubahan sikap..
Perubahan cara beribadah...
Perubahan pola pikir...
.
Coba renungkan...
Selama kita mengenakan pakaian syar'i..
Sudah di perbaiki kah sholat kita????
Sudah rutin kah sedekah kita??
Sudah sampai tahap apa perubahan sikap kita???
Sudah seberapa sering kita menyentuh al-qur'an???
Sudah terbiasa kah menjalankan ibadah sunnah???
.
(Silahkan jawab dalam hati)
.
Coba bandingkan dengan..
.
Sudah berapa banyak koleksi baju syari kita???
Sudah berapa model khimar yg kita punya???
Sudah bagus kah gamis yang kita pakai??
.
Mana yang lebih sering terlintas di fikiran kita???
.
Maka dari itu..
Yuk mari perbaiki niat kita..
Perbaiki sikap kita...
Perbaiki ibadah kita...
Jangan biarkan setan membuat kita merasa sudah hijrah padahal kita masih di tempat.. ^^

Hakekat hijrah itu bagaimana?

Hijrah kok yang dipusingin cuma soal gamis, makanan, jalan-jalan, dunia aja

Emangnya kalau sudah pakai baju hitam, khimar hitam, cadar hitam, ganti² brand dan model gitu itu sudah hijrah? Gitu itu cuma ganti baju, ganti casing aja. isinya tetep jahil

Perlu di format ulang

Up grade lagi isi kepala dan hatinya.

Kalau ngaji jangan yang tematik aja. Kalau ngaji jangan cuma nonton dari TV aja.Yang begitu banyak gak konsennya. Banyak subhatnya. Makanya kelihatan sudah hijrah, padahal masih jalan ditempat.

Sudah berhijab cadar masih marahan, emosian, borju gaya hidupnya, masih hasad, masih suka ghibah, masih keras terhadap nasehat, masih ngeyelan, masih menyelisihi syariat , MASIH SUKA APLOD FOTO SELFI .

Sudah hijrah Berhijab/Bercadar tapi kok narsis? Mugkin perlu diluruskan lagi niatnya. . Berhijab = Menutup diri Narsis = Ingin dilihat/Menampakkan diri Berhijab + Narsis = ?????? (tanda tanya) . Berhijab syari atau bahkan bercadar tidak akan serta merta membuatmu sebagai sosok terasing, jika engkau masih tidak ada bedanya dengan wanita yang belum berhijab, yaitu saat mengunggah foto diri di dunia maya. . Orang yang benar-benar "ghuraba" tentu tidak akan berperilaku yang bertolak belakang dengan syari'at. . Perlu diingat disini, bahwasannya wanita shalih tidak akan merelakan dirinya menjadi konsumsi publik. Entah ia sudah bercadar atau masih menuju ke arah sana. . Jangan berbangga dengan ribuan like juga ratusan pujian yang dilontarkan orang lain sebab "keshalihan" yang nampak dari dirimu melalui foto selfie. . Sungguh itu bukan sebuah kemuliaan saat semua mata dengan mudah menangkap sosokmu yang indah. Matamu yang jelita. Juga ujung khimarmu yang sampai menyapu jalan. . Mohon niqobis, yang sudah syari juga, agar berhenti narsis-narsis di dunia maya, pakaian takwa itu BUKAN MAINAN apalagi sekedar TREND FASHION semata. . Mohon kesadarannya.

Hijarah kok masih ngeyelan mencari-Cari pembenaran ketika mendengarkan Firman Allah ta'ala & Sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam .
yang namanya hijarah itu  Sami'Na Wa'Atho'Na bukan Sami'Na Wa' pikir-pikir , apalagi mencari pembenaran dari uztad,  kiyai,  ulama,  habib yg MENYELISIH Dari ajaran rasullah, kalian fikir mereka jauh lebih pandai DARI rasullah, memang Kalian fikir mereka dijamin syurga,  oooh tidak,  yang pasti dijamin syurga Adalah Rasullah,  Maka ikutilah Ajaranya,..

Kenapa kok yasinan, tahlilan, isra mijraj, maulid Nabi, ulang TAHUN, itu dilarang,  Karena itu bid'ah. Ibdah yg tidk DI contohkan Rasullah.

Maka seperti itu pula,
Kamu tak perlu bertanya mengapa harus berjilbab.
Mengapa harus menjauhi pacaran.
Mengapa harus sholat.
Mengapa ada hewan ya di haramkan.
Mengapa harus menjauhi Alkohol & Musik
Atau mengapa harus taat pada Allaah.
Dan banyak lagi ketentuan 2 lain yg perintahkan oleh Allah Subhanallahu wa ta'ala

Karena sadarilah.
Bahwa itu perintah dari RABB mu yang menciptakanmu.
Bahwa itu yang disampaikan oleh Rasulullaah, teladanmu.
Bahwa Allaah tidak akan melarang jika itu baik untuk ummatNya.
Bahwa Allaah tidak akan mewajibkan jika itu buruk untuk umatNya. .

Hijrah dalam konteks Islam berarti memutuskan atau meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintaiNya, atau yang dikenal dengan istilah "hijrah kepada Allah dan RasulNya".
Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang disampaikan ketika beliau hijrah dari Mekah ke Madinah: "Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya." (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain, Rasulullah menegaskan bahwa berhijrah berarti meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.
“Seorang Muslim ialah orang yang Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Para ulama menyatakan hijrah ini harus dilakukan segera, sesuai dengan surat Adz Dzariyaat ayat 50: “Maka segeralah kembali pada Allah.”
Selain itu, mereka yang hijrah tidak khawatir meninggalkan pekerjaannya sekarang karena yakin Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Hal ini disampaikan Nabi Muhammad dalam sebuah hadits shahih:
"Sesungguhnya tidaklah Engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR Ahmad).

Itu tandanya hijrahnya masih dhohirnya saja .

Datangilah kajian-kajian rutin yang membahas kitab, dimana kajian-kajian tersebut di naungi oleh sayap malaikat. Duduklah bersama orang-orang yang zuhud, tawadu, qonaah, sederhana yang dengan melihatnya bisa membuat kita semakin baik dan semangat memperbaiki diri.

Yukkk belajar lagi

Yukkk kedepannya lebih baik

Yukkk musahabah diri

Menulis untuk diri sendiri, & sahabatku pdaa Umumnya supaya gak lupa apa itu hijrah meniti jalan para salafus sholeh.

Semoga bisa lurus aqidahnya

Semoga bisa lurus manhajnya



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Senin, 19 Oktober 2020

“APA HUKUM MENIKAH?”

Dalam masalah ini ada tiga pendapat ulama:


Pertama, pendapat pertama mengatakan wajib. Ini pendapat Dawud azh-Zhahiri dan Ibnu Hazm. Dan riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal. Dan juga pendapat Abu ‘Awanah Al-Isfaraini dari Mazhab Syafi’i dan beberapa Salafush Shalih terdahulu. Dalilnya adalah adanya ayat-ayat dan hadits yang memerintahkan menikah. Diantaranya ayat yang sudah kita sebutkan tadi, “Dan nikahkanlah para pemuda dan pemudi di antara kalian.” (QS. An-Nur[24]: 32)


Di antaranya hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Menikahlah!” Diantaranya hadits yang sudah kita sebutkan tadi, “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian telah mampu ba’ah, maka hendaklah ia menikah.” Sedangkan ini perintah dan perintah itu pada asalnya wajib.


Kedua, pendapat jumhur para ulama. Ini adalah pendapat imam yang empat; Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Bahwa hukumnya mustahab sunnah. Mereka mengatakan bahwa hadits dan ayat yang memerintahkan menikah itu tidak menunjukkan kepada wajib, akan tetapi hukumnya sunnah saja. Hal ini berdasarkan ayat, Allah berfirman:


“Nikahilah dari wanita-wanita yang baik, yang kamu sukai di antara kalian.” (QS. An-Nisa[4]: 3)


Kata mereka, Allah menyebutkan bahwa menikah itu berhubungan dengan sesuatu yang thayyib menurut kamu.


Ketiga, dan ini yang paling kuat (rajih) insyaAllah. Ini adalah pendapat mazhab Malikiyah dan juga pendapat sebagian Syafi’iyah dan Hanabilah bahwa menikah itu disesuaikan dengan keadaan. Hukum menikah berbeda-beda sesuai dengan keadaan. 

(1) Terkadang hukumnya wajib bagi mereka yang khawatir jatuh kepada zina karena begitu banyaknya fitnah apalagi dizaman sekarang. Menghindari zina hukumnya wajib, kalau kita tidak bisa menghindari zina kecuali dengan menikah, maka menikah menjadi wajib. (2) Keadaan yang kedua adalah sunnah. Yaitu bagi mereka yan tidak punya syahwat ingin menikah tapi aman dari jatuh kepada zina. Artinya ia tidak merasa khawatir akan jatuh kepada zina, tapi dia punya syahwat. 

(3) Keadaan yang ketiga, haram. Yaitu bagi mereka yang kalau menikah malah malah memberikan mudharat kepada istrinya. Contohnya karena dia impoten sehingga istrinya tidak bisa terpenuhi kebutuhannya. Atau misalnya sangat miskin sehingga tidak bisa memberikan nafkah. Kecuali kalau seorang laki-laki sangat miskin namun ada janda kaya yang mau. 

(4) Keadaan yang keempat, makruh. Yaitu keadaan seperti yang ketiga tapi itu tidak masalah untuk istrinya karena ternyata istrinya juga tidak ada keinginan untuk jima’. Maka yang seperti ini makruh saja. Karena tujuan menikahnya tidak terpenuhi.

Adapun untuk wanita hukumnya hanya 1 saja yaitu sunnah, kalau yang 5 tadi itu untuk laki-laki. Wanita tidak wajib untuk menikah kecuali kalau -sudah kita sebutkan tadi- dikhawatirkan si wanita ini jatuh kepada zina karena syahwat yang kuat, maka dia wajib menikah.


SEMOGA BERMANFAAT



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“MERAIH DERAJAT TINGGI”

Memang kita bukan nabi, tetapi inginkah kita disejajarkan dengan Nabi Muhammad saw?


Memang kita bukan orang yang jujur, tetapi inginkah kedudukan kita sama dengan Abu Bakar ra?


Memang kita belum tentu mati syahid, tetapi inginkah kita berkedudukan sama seperti Hamzah ra?


Jawabannya: bisa, untuk mendapatkan derajat yang sama seperti mereka telah disebutkan dalam QS. An-Nisaa’ 69:


Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”


Jadi singkatnya: ikutilah perintah Allah dan Rasul-Nya maka kita akan meraih kedudukan seperti orang yang telah Allah beri nikmat yang besar atas mereka.


Tapi apakah hanya itu saja caranya? Ternyata peluang yang sama juga diberikan kepada pedagang yang jujur dan dapat dipercaya seperti pada hadits berikut:


Sahabat Abi Sa’id Al-khudri ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: “Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya, kelak pada hari kiamat akan mendapat kedudukan bersama para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada’.” (HR. Timidzi dan termasuk hadis hasan).


Pedagang dalam hadits ini bisa juga dimaksudkan karyawan. Begitu besar hikmahnya bila kita bisa menjadi orang yang jujur dan amanat. Dan dengan semangat yang tersirat dalam hadits ini, marilah kita bekerja dengan kejujuran dan kepercayaan.


Semoga kita dapat mencapai derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat kelak.


SEMOGA BERMANFAAT



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“MEMBIASAKAN BERBUAT BAIK”

Dalam suatu hadits qudsi, Allah SWT berfirman “Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas.” (HR. Bukhari)


Didalam melihat jalan hidup masyarakat di sekitar kita, bisa kita lihat bahwa beberapa orang mempunyai kecenderungan tertentu. Orang yang terbiasa berbuat maksiat, maka dari hari kehari dia akan semakin terjerumus kedalam lembah yang hitam. Sebaliknya orang yang suka sholat berjamaah ke masjid, maka dia akan ramah ke tetangganya, rutin berinfaq dan bahagia kehidupan keluarganya.


Semakin seseorang memperbanyak dan membiasakan berbuat baik, maka semakin banyak terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain. Hal ini sesuai dengan hadits qudsi diatas bahwa semakin tinggi intensitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT maka semakin dekatlah kita dengan-Nya.


Salah satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup. Agar manusia terbiasa beribadah, maka beberapa ibadah dilakukan berulang dalam kurun waktu tertentu seperti sholat lima kali dalam sehari, puasa sunnah dua kali seminggu dan sholat jum’at sekali sepekan.


Permasalahan awal yang biasanya ditemukan dalam melakukan sesuatu yaitu dalam memulainya. Memulai suatu aktifitas terkadang lebih berat dibandingkan ketika melaksanakannya. Maka ketika kita mendorong mobil yang mogok, akan diperlukan tenaga yang besar saat sebelum mobil bergerak. Setelah mobil tersesebut bergerak, diperlukan daya dorong yang kecil. Ada juga sifat kita yang menunda perbuatan baik, padahal perbuakan baik janganlah ditunda. Kalau kita ada keinginan untuk menunda, maka tundalah untuk menunda. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah saw:


“Bersegeralah untuk beramal, jangan menundanya hingga datang tujuh perkara. Apakah akan terus kamu tunda untuk beramal kecuali jika sudah datang: kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang membuatmu berbuat melebihi batas, sakit yang merusakmu, usia lanjut yang membuatmu pikun, kematian yang tiba-tiba menjemputmu, dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang ditunggu, saat kiamat, saat bencana yang lebih dahsyat dan siksanya yang amat pedih.” (HR. Tirmidzi)


Salah satu cara untuk mempermudah kita dalam memulai suatu amal ibadah adalah dengan mengetahui akan besarnya manfaat yang akan dirasakan. Segala hambatan atau godaan untuk tidak melaksanakan kebaikan tersebut akan bisa dilewatkan dengan keyakinan yang kuat. Oleh sebab itu, kita wajib untuk mencari ilmu tentang fadhilah (kelebihan) dari suatu amalan atau ibadah. Bahkan untuk menguatkan hati, kita juga perlu mencari ilmu secara berulang kali. Bahkan beberapa pengulangan dalam Al Quran digunakan agar manusia semakin ingat


“Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari.” (QS. Al Israa’ 41)


Jadi, mulailah perbuatan baik yang ingin anda lakukan sekarang dan jangan ditunda. Kalau belum yakin, perluas dan perdalam ilmu agar kita semakin yakin.


Wallahu a’lam bish showab.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 18 Oktober 2020

“RAJIN BERDO'A KETIKA SUSAH DAN SEDIH”

Manusia memang benar tempatnya khilaf.

Namun, kita tidak boleh lalai dengan kesalahan kita.
Kita harus memperbaiki kesalahan yang pernah kita perbuat, termasuk Rajin berdoa ketika susah dan sedih. Sebab,manusia memiliki kewajiban untuk berusaha.
Sebab, akal kita begitu sempurna daripada makluk lain, sehingga kita patut  memanfaatkannya untuk mencapai kesempurnaan.
Sifat dasar  manusia yaitu tidak pernah cukup. Ketika seseorang dalam keadaan miskin. Apa yang diharapkannya tentu saja hidup berkecukupan. Setelah berkecukupan ia akan meminta kepada allah, agar diberi kekayaan lebih banyak lagi.

Rintangan adalah cara allah dalam memberi semangat dan menciptakan warna, agar hidup kita tidak terasa membosankan.
dengan rintangan tersebut, kita akan mencicipi penghasilan kita dengan penuh kenikmatan.
Rasullulah sallahu allahi wassalam. Pernah bersabda yang artinya: "kenalilah allah dimasa lapang, niscaya allah akan mengenalimu dimasa sulit."
(HR. At Thabrani)

Sabda rasulullah sallahu allahi wassalam. Tersebut menegaskan kepada kita, bahwa mengingat allah itu bukan hanya pada masa sulit menimpa kita. Disaat kemudahaan bersama kita, kita tidak boleh melalaikan apa yang sudah diwajibkan allah, dan apa yang dilarang allah. Kita harus menjadi pribadi yang taat, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah.

Jika kita memperbaiki cara dan waktu kita berdoa, maka kita akan senantiasa merasa dimudahkan oleh allah. Allah menyukai hamba-Nya yang selalu mengingat akan kerahmanan dan kerahiman allah subhanallah wata'ala..

Rasullulah sallahu allahi wassalam. Memberi nasihat kepada kita, apabila kita ingin doa yang kita ucapkan dikabulkan oleh allah subhanallah wata'ala. Rasulullah sallahu allahi wassalam. Bersabda : barang siapa yang senang apabila allah mengabulkan permohonannya saat ia timpa kesusahan dan kesulitan, hendaknya ia memperbanyak doa saat senang/lapang.

(HR.Tirmidzi)



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“13 ALASAN AGAR SHOLAT LEBIH KHUSYUK"

Dari banyak ibadah kita kepada Allah SWT, ada satu ibadah yang merupakan kunci dari seluruh ibadah dan amal yang lain dimana kalau kita berhasil melakukannya maka akan terbuka ibadah atau amal yang lain. Kunci dari segala ibadah adalah sholat.


“Amal yang pertama kali ditanyai Allah pada seorang hamba di hari kiamat nanti adalah sholat. Bila sholatnya dapat diterima, maka akan diterima seluruh amalnya, dan bila sholatnya ditolak, akan tertolah seluruh amalnya.”


Pada kenyataannya, bagaimana amalan sholat kita pada umumnya? Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:


“Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan sholat namun pada hakikatnya mereka tidak sholat.”


Banyak dari kita menganggap bahwa sholat adalah suatu perintah bukan suatu kebutuhan. Jadi sholat sering dianggap suatu beban dan hanya bersifat menggugurkan kewajiban. Betapa sering kita rasanya malas untuk sholat, sholat sambil memikirkan pekerjaan, sholat secepat kilat tanpa tumakninah, mengakhirkan waktu sholat atau bahkan lupa berapa rakaat yang telah dilakukan.


Padahal kunci amal ibadah kita adalah sholat. Jadi, kita bisa memasang strategi dalam hidup dengan memperbaiki sholat kita terlebih dahulu sehingga amalan yang lain akan mengikuti. Dan hal ini butuh suatu kesungguhan untuk mencapainya. Tahap awal untuk mencapai kekhusukan sholat adalah mengetahui kegunaan bagi diri kita apabila kita dapat melakukan sholat dengan khusuk. Berikut adalah 13 alasan mengapa kita perlu khusuk dalam sholat: 


1. Mendapatkan keberuntungan yang besar, yaitu masuk dalam surga firdaus. Hal ini tersebut dalam QS. Al Mukminun 2 dan 11


2. Solusi terhadap permasalahan kita 


“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah 45)


Bila ada problema hidup maka sholatlah, bila ada keiinginan sholatlah, bila akan marah sholatlah. Maka ketika akan bertemu dua kekuatan utama pada perang Badar, Rosululloh SAW sholat dan bermunajat kepada Allah SWT agar diberikan kemenangan dalam perang.


3. Mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al Ankabut 45)


Karena sholat khusuk hanya bisa dilaksanakan dengan menghadirkan perasaan dekatnya Allah SWT, maka bila akan berbuat maksiat akan ingat akan Allah SWT.


4. Melembutkan hati. Terkadang hati kita menjadi keras karena kesibukan dalam bekerja atau menghadapi masalah kehidupan. Dengan sholat yang khusuk, hati menjadi lebih lunak karena kita seringnya kita berserah diri dan merendah dihadapan Allah SWT.


5. Memupuk kesabaran. Dengan sholat yang dilaksanakan dengan tumakninah, maka diperlukan waktu beberapa saat untuk sholat; tidak dengan tergesa-gesa. Hal ini akan memupuk rasa kesabaran kita.


6. Menghapuskan dosa. Didalam suatu hadits disebutkan bahwa dosa-dosa kecil kita akan dihapus diantara sholat 5 waktu. Tentu saja hal ini bila kita menghayati bacaan didalam duduk diantara dua sujud rabbighfirli dan wa’fu’anni.


7. Menyembuhkan penyakit. Prof. M. Sholeh dari Universitas Airlangga Surabaya telah meneliti bahwa sholat malam bisa meningkatkan imunitas tubuh kita. halat bisa mencegah naik turunnya hormon kortisol yang berperan sebagai indikator stres. Sedangkan stres merupakan salah satu faktor utama pemicu penyakit, termasuk kanker. Yang sederhana saja, bila kita sedang pening atau sakit gigi maka sholatlah dengan khusuk maka rasa sakit tersebut akan hilang. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ada pendapat bahwa sholat juga merupakan sarana terbaik untuk bermeditasi.


8. Menunggu-nunggu waktu sholat. Karena sholat adalah kesempatan untuk bermunajat, berdialog dan mencurahkan hati ke Yang Maha Kuasa, maka waktu sholat akan selalu ditunggu. Pekerjaan rumah, rapat atau aktifitas lain akan diberhentikan 10-15 menit sebelum waktu sholat sehingga memberi kesempatan untuk sholat berjamaah di masjid. Perasaan untuk menunggu waktu sholat adalah seperti seorang perjaka yang menunggu waktu untuk bertemu yang dicinta.


9. Mempersiapkan sholat dengan sebaiknya. Karena kita merasa akan bertemu dengan Yang Maha Agung, maka pakaian akan diperhatikan seperti baju koko, kopyah dan sarung digunakan yang bersih. Tidak lupa minyak wangi juga dipakai agar harum ketika bertemu dengan Yang Maha Pencipta.


10. Menangis dalam sholat. Kesejukan dalam sholat akan membawa hati untuk bersyukur dan mohon ampun kepada Allah SWT. Tidak terasa air mata akan mengalir bahkan ketika sholat Dhuhur di masjid kantor.


11. Merasa sedih ketika sholat akan selesai. Tertanam rasa ingin berlama-lama dengan Yang Maha Pengasih. Ketika tasyahud akhir rasanya tidak ingin menyelesaikan sholat.


12. Merasakan nikmatnya sholat di masjid. Akan terasa suasana sholat di masjid lebih indah dibandingkan sholat di rumah. Sehingga, keinginan untuk sholat berjamaah di masjid akan selalu ada. Maka tidak heran ketika sahabat Umar ra menjual kebunnya dikarenakan terlupa sholat jamaah di masjid karena sibuk mengurus kebunnnya.


13. Tetap khusuk dalam berzikir. Terkadang dzikir yang kita lantunkan setelah sholat fardhu hanya mengalir sebatas di mulut saja tanpa penghayatan dalam hati kita. Setelah sholat dengan khusuk, maka kekhusukan tersebut akan berlanjut hingga kita berdzikir.


Allahumma a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika. Ya Allah, bantulah aku dalam mengingatMu dan dan bersyukur kepadaMu dan perbaiki ibadahku.


Wallahu a’lam bish showab.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Rabu, 07 Oktober 2020

“PROBLEMATIKA NIAT"

Ahlussunnah wal jamaah Vs Wahabi


Ada ustadz wahabi yg mempermasalahkan niat. Kata mereka niat itu tidak perlu, krn org yg mengerjakan sesuatu pasti sudah ada niat. Misalnya orang yg sedang pakai baju dan berkemas untuk pergi ke suatu tempat. Nggak mungkin org tersebut tidak memiliki niat. Jadi, niat itu sudah ada saat kita mengerjakan sesuatu. Itu kata mereka. 


Mereka mungkin kurang tau bahwa manusia itu memiliki gerakan yg tidak disengajainya, seperti reflek, latah, atau lupa. Artinya, tidak semua pekerjaan itu dibarengi kesengajaan. 


Mereka juga mengatakan bahwa dalil niat itu hanya hadis Innamal A'malu bin Niyat, hadis ini tidak relevan dijadikan sebagai dalil wajibnya niat pada shalat, krn asbabul wurud hadis ini berkaitan dengan hijrahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 


Mereka kurang paham bahwa dalam ilmu tafsir itu ada Qaedah populer yg berbunyi sebagai berikut:


العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب


"Yang menjadi barometer pada dalil adalah keumuman lafazhnya, bukan kekhususan asbabul wurudnya."


Artinya, kekhususan latar belakang lahirnya hadis tidak dapat mempengaruhi keumuman lafazhnya. Walaupun ia dapat mempengaruhi keabsahan mafhum mukhalafah. Nah, di sini letak perbedaan antara Lafazh 'Am dan Mafhum Mukhalafah dalam kaitannya dgn asbabul nuzul atau asbabun nuzul.


Berdasarkan Qaedah ini, maka hadis tersebut bisa saja dijadikan dalil kewajiban niat pada shalat. Apakah hanya itu dalilnya? 


Dalam kitab Majmu', Syarah Muhazzab, halaman 276, juz 3, Imam Nawawi berkata:


ونقل بن المنذر في كتابه الأشراف وكتاب الإجماع والشيخ أبو حامد الاسفراينى والقاضي أبو الطيب وصاحب الشامل ومحمد بن يحيى وآخرون إجماع العلماء على أن الصلاة لا تصح إلا بالنية


"Beberapa Ulama mengaatakan telah terjadinya konsensus (ijma') bahwa shalat tidak sah melainkan dengan niat. Di antaranya Ibju Munzir dalam kitab Al-Asyraf dan Al-Ijma', Abu Hamid Al-Isfiraini, Al-Qadhi Abu Thalib, Penulis kitab Syamil, Muhammad bin Yahya, dan beberapa ulama lainnya."


Kewajiban niat itu berdasarkan 4 dalil sekaligus, Al-Quran, Hadis, Ijma' dan Qiyas. 


Dalil berupa Al-Quran adalah ayat ke 5, surat Al-Bayinah, sebagaimana keterangan Imam Mawardi dalam kitab Hawi Kabir sebagai berikut:


والدلالة على وجوبها قوله تعالى: {وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} [ البينة: 5]  والإخلاص في كلامهم: النية


Dalil yang lain adalah Qiyas pada puasa. Sebagaimana pada puasa disyaratkan niat, pada shalat jg demikian. 


Mereka juga mempermasalahkan tentang berbarengan niat dengan takbir. Kata mereka tidak ada dalil yg menegaskan bahwa niat itu harus berbarengan dgn takbir. Bahkan, sebagian yg lain menganggap keliru niat saat takbir. karena menurut mereka seharusnya saat takbir itu yg diingat adalah makna dari takbir, yakni Allah maha besar. 


Dalam hadis yg diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


إنما الأعمال بالنيات


Imam Ibnu hajar Asqalni memberi komentar terhadap hadis ini sebagai berikut:


قوله بالنيات الباء للمصاحبة ويحتمل أن تكون للسببية بمعنى أنها مقومة للعمل فكأنها سبب في إيجاده وعلى الأول فهي من نفس العمل فيشترط أن لا تتخلف عن أوله 


"Ba (الباء) yg ada pada hadis tersebut bermakna mushahabah (المصاحبة). Artinya niat itu harus berbarengan dgn permulaan perbuatan."


Sehingga oleh ulama-ulama syafi'i mendefinisikan niat sebagai berikut:


النية قصد الشيئ مقترنا بالفعل


"Niat adalah Qashad yg menyertai dengan mengerjakan sesuatu."


Nah, oleh karena awalnya shalat adalah takbir, makanya dalam Mazhab Syafi'i disyaratkan harus berbarengan niat dgn takbir. 


Jadi, apakah salah kalau niat berbarengan dengan takbir? 


Nah, saya coba menampilkan referensi 4 mazhab? 


Tujuannya, supaya wahabi tidak gagal paham dengan ibarat yg termaktub dalam kitab-kitab ulama besar yg representatif. Sehingga tidak sampai ngawur menyimpulkan bahwa salah kalau menetapkan niat harus berbarengan dengan takbir. 


1. Mazhab Hambali. Dalam kitab Raudh Murbi' Syarah Zad Al-Mustaqni', karya Al-Buhuti, salah satu referensi penting dalam mazhab Hambali, disebutkan sebagai berikut:


(وينوي مع التحريمة) لتكون النية مقارنة للعبادة (وله تقديمها) أي النية (عليها) أي على تكبيرة الإحرام بزمن يسير عرفا إن وجدت النية (في الوقت) أي وقت المؤداة والراتبة ما لم يفسخه


Artinya, "Niat itu berbarengan dengan takbiratul ihram. Namun boleh niat sebelum takbir."


2. Mazhab Maliki. Dalam kitab Kifayatut-Thalibur-Rabbani 'Ala Risalati Ibni Abi Qairawani, salah satu rujukan dalam mazhab Maliki, disebutkan sebagai berikut:


 ويشترط فيه أيضا مقارنة النية فإن تأخرت عنها فلا تجزئ اتفاقا، وإن تقدمت بكثير فكذلك وإن تقدمت بيسير فقولان مشهوران.


Artinya, "Disyaratkan pada takbir harus berbarengan dengan niat. Jika Niat mendahului takbir dalam rentang waktu yg lama, maka hukumnya tidak boleh. Sedangkan jika rentang waktunya pendek, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yg kuat adalah boleh."


3. Mazhab Hanafi. Dalam kitab Badai'us-Shanai', Salah satu kitab otoritatif dalam menjelaskan mazhab Hanafi, disebutkan sebagai berikut:


(وأما) بيان وقت النية فقد ذكر الطحاوي أنه يكبر تكبيرة الافتتاح مخالطا لنيته إياها، أي مقارنا أشار إلى أن وقت النية وقت التكبير، وهو عندنا محمول على الندب والاستحباب دون الحتم والإيجاب، فإن تقديم النية على التحريمة جائز عندنا إذا لم يوجد بينهما عمل يقطع أحدهما عن الآخر، والقران ليس بشرط، وعند الشافعي القران شرط


Artinya, "Niat harus berbarengan dgn takbir. Namun ini hukumnya sunnah, tidak wajib. berbeda dgn mazhab Syafi'i yg mensyaratkan mesti berbarengan niat dengan takbir."


Bagaimana dgn mazhab Syafi'i? 


Ini seharusnya tidak perlu dinukil lagi, karena sudah sangat terang kecuali bagi orang yg menderita katarak. Dalam Kitab Majmu' Halaman 227, jilid 3, Imam Nawawi berkata:


قال الشافعي رحمه الله في المختصر (وإذا أحرم نوى صلاته في حال التكبير لا بعده ولا قبله) ونقل الغزالي وغيره النص بعبارة أخرى فقالوا قال الشافعي (ينوي مع التكبير لا قبله ولا بعده)


Artinya, "Imam Syafi'i berkata: Niat mesti ketika takbir, tidak boleh sebelumnya dan tidak boleh sesudahnya."


Jadi permasalahan ini sudah selesai dibahas oleh ulama-ulama besar ratusan tahun yg lalu. tidak ada satupun yg melarang atau menyimpulkan salahnya niat yg berbarengn takbir. Itu cuma akal-akalan yg tidak memiliki dasar sama sekali.


Saya mau menantang wahabi, coba hadirkan satu saja referensi yg melarang niat berbarengan dengan takbir. Satu saja! Tentunya referensi dari ulama dulu yg kompetensinya sudah teruji lintas generasi... 


Di antara akal-akalan Wahabi, mereka mengatakan kalau niat berbarengan dengan takbir, maka kapan waktunya mengingat makna takbir itu sendiri, yakni Allah Maha Besar? 


Atau akal-akalan yg lain, mereka mengatakan bahwa kalau membarengkan niat dengan takbir, maka akan berakibat kepada memanjangkan takbir, Allaaaaaaaaaahu akbar, dan itu tidak boleh menurut Imam Nawawi. 


Di samping akal-akalan, ini juga mengandung hoaks, karena Imam Nawawi tidak pernah mengatakan demikian (sejauh yg saya tau).  Kalau memang ada silahkan tampilkan referensinya, Kapan Imam Nawawi bilang gitu dan dalam kitab apa? 


Jadi, untuk menjawab dua akal-akalan yg sering sekali dijadikan dalil oleh mereka, maka pertama-tama yg harus mereka tau bahwa niat itu bukan mengeja dengan hati, Sengaja aku shalat Dhuhur 4 rakaat menghadap kiblat lillahi ta'ala. Buka begitu. Walaupun boleh juga begitu. Tapi hakikat niat itu sangat cepat. 


Misalnya seperti anda ingin pergi liburan ke sebuah taman. Maka ketika memulai langkah untuk pergi, maka akan terlintas dalam benak anda bahwa anda akan mendatangi satu tempat yg Indah. Dan membayangkan bagaimana keindahan dan keasriannya taman. Dimana letak pohon dan tempat berkumpulnya. dst. Itu terlintas dengan sekejap, hanya seper sekian detik.


Jadi, niat itu sangat singkat. Makanya sunnah hukumnya tidak memanjangkan takbiratul ihram, alasannya supaya jangan hilang niat dari juzu'-juzu' kalimat Allahu Akbar, sebagaimana keterangan Khatib Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj sebagai berikut:


ويسن أن لا يقصره بحيث لا يفهم، وأن لا يمططه بأن يبالغ في مده بل يأتي به مبينا، والإسراع به أولى من مده لئلا تزول النية، وبخلاف تكبير الانتقالات لئلا يخلو باقيها عن الذكر


Artinya, "Membaca takbir dgn cepat lebih baik, supaya tidak hilangnya niat."


Bagaimana dengan hukum memanjangkan kalimat takbir? 


Takbiratul Ihram berbeda ketentuanya dengan takbir intiqalat, kalau takbir intiqalat dianjurkan panjang asal tidak melewati batasan maksimalnya, yakni 7 alif (14 harkat). Sedangkan pada takbiratul Ihram disunnahkan cepat. Namun tidak mengapa kalau dipanjangkan asal tidak melewati batas maksimalnya. 


Referensi: Kitab I'anatut-Thalibin:


وكذا يضر زيادة مد الألف الكائنة بين اللام والهاء إلى حد لا يقول به أحد من القراء. قال ع ش: وغاية مقدار ما نقل عنهم - على ما نقله ابن حجر - سبع ألفات، وتقدر كل ألف بحركتين، وهو على التقريب.


Artinya, "batas maksimalnya adalah 7 alif. Satu alif adalah dua harkat."


Satu harkat itu sama dgn satu ketokan. Jadi, tidak masalah memanjang takbir. Walaupun sebaiknya jgn. 


Jadi, Niat itu harus berbarengan dengan takbir...



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Senin, 05 Oktober 2020

“KASIH ANAK SEPANJANG GALAH, kASIH IBU SEPANJANG MASA”

Demikian kata pepatah.


Kadang kita juga sering melihat ada seorang ibu yang suka bicara yg tak pantas diucapkan untuk anak-anaknya....


Ketahuilah ketika seorang wanita sudah menjadi IBU,

Maka ALLAH akan menganugerahkan kepadanya satu senjata yang sangat ampuh di muka bumi..


"Tahukah apa itu?"

Itu adalah LISANNYA..


Lisannya akan menjadi 

Berat timbangannya..

Lisannya akan menjadi 

pembuka pintu-pintu langit..

Ucapannya akan 

diijabah..

Doanya akan melesat tanpa penghalang..


Doa ibu akan mampu menjadi penghancur kesulitan bagi anak keturunannya..

Dan mengeluhnya seorang ibu akan menjadi 

Pemberat langkah setiap anggota keluarganya, termasuk bagi suaminya..


Maka pantang bagi seorang ibu untuk mengeluh,

karena keluhannya pun akan menjadi kenyataan, 

sebagaimana harapan dan doanya pun akan menjadi kenyataan..

Ucapan buruknya akan menjadi kendala bagi 

dirinya dan keluarganya..


Lisan seorang ibu layaknya mukjizat para nabi.. atau Karomah para kyai..


Maka berhati-hatilah wahai para ibu ketika Anda menggunakan 

senjata terampuh ini..

Gunakan untuk bermunajat meminta kepada ALLAH

agar suamimu dimudahkan dalam mencari nafkah.. 

Jangan mengeluhkan tentang dirinya. Itu justru akan semakin memberatkan..


Gunakan untuk bermunajat meminta kemudahan dan 

Keshalehan atas anak-anakmu jangan mengeluhkannya. 

Karena itu akan menjadi benar adanya.


Namun biar bagaimanapun sang ibu adanya, seorang anak wajib berbakti kepada ibunya....

Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang berasal dari pertanyaan seorang sahabat. 

“Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini.” Rasul menjawab, 

“Ibumu.” 

Kemudian dia bertanya lagi, 

“Lalu siapa?” 

Rasul menjawab, 

“Ibumu.” 

“Kemudian lagi, Ya Rasul,” 

tanya orang itu. 

“Rasul menjawab, 

“Ibumu.” 

Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; “Kemudian, setelah itu siapa, 

ya Rasul?” “Bapakmu,” 

jawab Rasulullah.


Hadits di atas menegaskan betapa pentingnya setiap anak memberikan rasa hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, 

terutama ibunya. 

Sebab, kasih sayang yang diberikan seorang ibu, melebihi sayangnya terhadap yang lain.


Mereka rela berkorban harta, jiwa, dan raga, demi si buah hati yang dicintainya. 

Mereka rela merasakan panasnya matahari di siang hari, dan dingin di waktu malam, tanpa pernah lelah untuk melindungi anak-anaknya. 


Bahkan, di saat anaknya sakit, ibu senantiasa terjaga. 

Dengan rajin, ibu memberikan obat, menyuapkan makanan, mengganti popok, dan lain sebagainya. 

Semua itu dilakukannya tanpa kenal rasa lelah. 

Bahkan rasa kantuk sekalipun, ia kalahkan ketika mendengar si buah hatinya menangis.


Ada sebuah kisah yang diriwayatkan dari Jabir. 

Di zaman Rasulullah, ada seorang pemuda mengadukan ayahnya kepada Nabi SAW, karena si ayah mengambil harta milik anaknya itu. Rasul memerintahkan supaya ayah si anak tersebut dipanggil. 

Ketika berada di hadapan Rasulullah SAW, ditanyakanlah hal itu. “Mengapa engkau mengambil harta anakmu,” tanya beliau.


“Tanyakan saja kepadanya, 

ya Rasul. Sebab, uang itu saya nafkahkan untuk saudara-saudaranya, paman-pamannya dan bibinya,”  jawab orang tua itu. 


Rasulullah kemudian bertanya lagi, “Ceritakanlah apa yang ada dalam hatimu dan tidak didengar oleh telingamu.”


Maka berceritalah si ayah ini. 

“Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. 

Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. 

Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah lantaran sakit dan deritamu. 

Aku tak bisa tidur dan resah, bagaikan akulah yang sakit dan bukan kau yang menderita. 

Lalu air mataku berlinang-linang dan meluncur deras. 

Hatiku takut engkau disambar maut. Padahal aku tahu, ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa dan berhasil mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman. 

Seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. 

Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu. Kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. 

Engkau selalu menyalahkan dan membentakku seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.” 


Mendengar hal ini, 

maka Rasulullah pun langsung memerintahkan kepada si anak, untuk memberikan hak orang tuanya.


Semoga bermanfaat, 


آمين.. آمين.. آمين يَآرَبْ العالمين


Silahkan Share /bagikan Saudara Hijrahku


Semoga kita menjadi orang yg lebih baik dan lebih bermanfaat.


Robbana Taqobbal Minna

Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami),


آمين.. آمين.. آمين يَآرَبْ العالمين


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ

في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KIRIMAN SEDEKAH PAHALA BAGI ORANG YANG TELAH MENINGGAL"

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمَّ سَعْدٍ مَاتَتْ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ الْمَاءُ قَالَ فَحَفَرَ بِئْرًا وَقَالَ هَذِهِ لِأُمِّ سَعْد

ٍ

Dari Sa'd bin Ubadah, ia berkata; 

Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku yaitu Ummu Sa'd telah meninggal dunia, maka sedekah apakah yang paling utama (baginya) ? 

Beliau bersabda: "Air."  

kemudian Sa'd menggali sumur dan berkata; 

ini untuk Ummu Sa'd. 


Hadits riwayat Imam Abu Daud dan Imam an-Nasa'i


Hadits di atas membuktikan bahwasanya amalan orang yang masih hidup bermanfaat bagi orang yang telah meninggal.

Namun tidak semua umat islam mampu untuk menggali sumur sedangkan islam adalah agama yang mengayomi semua lapisan baik yang kaya maupun yang miskin, jika muslimin kaya mampu bersedekah dengan hartanya, tentu muslimin yang miskin ada cara agar mereka juga bisa bersedekah.

Seperti yang di jelaskan dalam hadist sahih riwayat imam Muslim


Rasulullah ﷺ 

bersabda :


إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً 


Sesungguhnya pada 

Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, 

Setiap kalimat takbir adalah sedekah, 

Setiap kalimat tahmid adalah sedekah, 

Setiap kalimat tahlil adalah sedekah,.


Al kisah ada Seorang pemuda yang baru saja beberapa bulan ditinggal wafat ayahnya sedang berkumpul dengan teman-temannya..


Ia memang mempunyai Acara Khusus setiap minggunya dengan teman-temannya untuk berkumpul sambil menonton film porno di rumah mendiang ayahnya, 

demikian acara itu berlanjut setiap minggunya..


Malam itu setelah selesai dari perkumpulannya, ia tertidur lelap dan bermimpi, ia sedang menuju makam ayahnya..


Tiba-tiba ia mencium bau yang sangat busuk dari pusara ayahnya, 

lalu ia mendengar suara ayahnya sambil mengerang, 

seakan-akan menahan sakit : 

Anakku, sampai kapan kau akan menyiksaku di alam kubur..??


Ketahuilah setiap kali kalian berkumpul dirumahku dan menyaksikan film porno itu aku di datangi dua malaikat penyiksa, yang satu menuangkan cairan busuk yang keluar dari farji para pelacur yang sedang dalam siksaan kubur, dan malaikat yang lain menimpakan bara api di sekujur tubuhku, 

mereka terus berbuat demikian dan tidak berhenti sebelum kalian selesai dari acara keparat itu dirumahku, 

mereka datang untuk menyiksaku seperti itu setiap minggu bertepatan waktunya dengan berkumpulnya kalian, 

Hentikan perbuatanmu wahai anakku, kembalilah kepada ALLAH 

untuk bertobat..


Anak itu tersentak dari tidurnya dalam keadaan gundah, ia tak tahu harus berbuat apa, ia terus berfikir dan berfikir..


Maka cahaya Hidayah pun menerangi kalbunya, ia bertobat kepada ALLAH subhanahu wata'ala dan mulai menjalani Cahaya petunjuk, ia berniat pada malam yang biasanya ia mengadakan acara tercela itu dirumahnya, 

ia akan mengadakan acara maulid Nabi besar Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam, setiap minggunya, ditempat dan waktu yang sama..


Ia menceritakan mimpi dan niatnya pada teman- temannya..

SUBHANALLAH..

Merekapun setuju dengan pendapat itu, acarapun berlangsung, 

para pemuda yang dipenuhi cahaya tobat, maka berkumpul lah hati yang dipenuhi penyesalan dan merasa sangat bersalah terhadap Maha Raja Langit dan Bumi, maka rumah itu kini terlihat dari langit bagaikan bintang gemerlapan, sebagaimana penduduk bumi memandang bintang gemerlapan dilangit.


Rumah yang beberapa hari yang lalu dipenuhi perbuatan yang menggetarkan pintu Kemurkaan ALLAH, kini di rumah itu berkumpullah hamba-hamba NYA untuk melangsungkan amal yang mengguncang pintu Rahmat Rabbul'alamin..


Malam itu sang pemuda kembali bermimpi, seraya menziarahi makam ayahnya, ia mencium bau wangi yang sangat Indah, wangi Misk Kesturi, 

ia teringat bahwa wangi Misk Kesturi adalah wangi tubuhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam..

(tercantum dlm kitab Syama'il, 

oleh Imam Tirmidzy)


Lalu ia mendengar suara ayahnya dengan penuh kelembutan : 

ALLAH melimpahkan rahmat NYA padamu wahai anakku, 

aku di hentikan dari segala siksa kubur karena tobatmu, dan amal perbuatanmu, aku dihadiahi Mahkota oleh Rasul karena rumahku dijadikan tempat menampung para tamu Rasulullah.

(Dari Abu Hurairah Radiyallahuanhu,) Sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam :

Tiga perbuatan yang masih bersambung setelah kematian : 

Ilmu yang bermanfaat, 

Shadaqah yang terus mengalir (seperti beramal untuk keperluan masjid) dan 

Anak Shalih yang mendo'akannya..

(Hadits Hasan Riwayat Imam Tirmidzy)


SUBHANALLAH..


Semoga kisah ini menjadi hikmah dan cermin serta bermanfaat bagi kita semua Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin.


Silahkan Share /bagikan Saudara Hijrahku


Semoga kita menjadi orang yg lebih baik dan lebih bermanfaat.


Robbana Taqobbal Minna

Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami),


آمين.. آمين.. آمين يَآرَبْ العالمين


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ

في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“AL-WAQI'AH, AYAT 1-12"

{إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) }

Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan.

Al-Waqi'ah adalah salah satu nama dari nama-nama hari kiamat. Dinamakan demikian karena kepastian kejadiannya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ}

Maka pada hari itu terjadilah kiamat. (Al-Haqqah: 15) 

Adapun firman Allah Swt.:

{لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ}

terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Al-Waqi'ah: 2)

Yakni tiada yang dapat memalingkan atau menolaknya bila Allah Swt. telah menghendaki kejadiannya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ}

Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. (Asy-Syura: 47)

{سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ. لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ}

Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat' menolaknya. (Al-Ma'arij: 1-2)

Dan firman Allah Swt.:

{وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ}

Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan, "Jadilah, " lalu terjadilah, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang tampak. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 73)

Makna kazibah menurut apa yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka'b ialah pasti terjadi. 

Menurut Qatadah, terjadinya hari kiamat itu tidak dapat diubah atau diundurkan atau dicabut. 

Ibnu Jarir mengatakan bahwa lafaz kazibah adalah bentuk masdar (akar kata) sama dengan lafaz 'afiyah dan 'aqibah.

_________________________________________

Firman Allah Swt.:

{خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ}

(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3)

Yaitu merendahkan banyak kaum hingga sampai ke tempat yang paling dasar di dalam neraka, sekalipun ketika di dunia mereka adalah orang-orang yang mulia, dan meninggikan kaum yang lainnya hingga sampai ke tempat yang tertinggi di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan, sekalipun ketika di dunia mereka adalah orang-orang yang rendah. Demikianlah menurut pendapat Al-Hasan, Qatadah, dan lain-lainnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Yazid ibnu Abdur Rahman ibnu Mus'ab Al-Ma"ani, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Abdur Rahman Ar-Rawasi, dari ayahnya, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3) Yakni menghinakan banyak kaum dan meninggikan kaum yang lainnya. 

Ubaidillah Al-Utaiki telah meriwayatkan dari Usman ibnu Suraqah anak lelaki bibinya Umar ibnul Khattab sehubungan dengan makna firman-Nya: (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3) Hari kiamat itu adalah hari musuh-musuh Allah direndahkan dengan dimasukkan ke dalam neraka dan kekasih-kekasih Allah ditinggikan dengan dimasukkan ke dalam surga. 

Muhammad ibnu Ka'b mengatakan bahwa di hari kiamat banyak laki-laki yang sewaktu di dunia berkedudukan tinggi direndahkan dan banyak pula kaum laki-laki lainnya yang sewaktu di dunia rendah ditinggikan. 

As-Saddi mengatakan bahwa hari kiamat adalah hari orang-orang yang angkuh direndahkan dan orang-orang yang rendah diri ditinggikan.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3) Yaitu membuat orang yang dekat dan orang yang jauh sama-sama mendengarnya. 

Ikrimah mengatakan, bahwa hari kiamat itu juru serunya dapat memperdengarkan seruannya kepada orang yang dekat dengan suara yang pelan, dan dapat memperdengarkan kepada orang yang jauh dengan suara yang keras. Hal yang semisal dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Qatadah. 

_________________________________________

Firman Allah Swt.:

{إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا}

apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. (Al-Waqi'ah: 4)

Yakni berguncang dengan guncangan yang dahsyat yang menimbulkan gempa dahsyat melanda seluruh kawasan bumi. 

Karena itulah maka Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. (Al-Waqi'ah:4), Maksudnya, diguncangkan dengan gempa yang sangat dahsyat. 

Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa gempa itu mengguncangkan semua yang ada pada bumi sebagaimana ayakan mengguncangkan barang yang diayaknya. 

Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{إِذَا زُلْزِلَتِ الأرْضُ زِلْزَالَهَا}

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat). (Az-Zalzalah: 1)

Dan firman Allah Swt.:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ}

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. (Al-Hajj: 1)

_________________________________________

Adapun firman Allah Swt.:

{وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا}

dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya. (Al-Waqi'ah: 5)

Yaitu dihancurkan dengan sehancur-hancurnya, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan lain-lainnya. 

Ibnu Zaid mengatakan bahwa pada hari itu gunung-gunung —seperti yang digambarkan oleh ayat lain melalui firman-Nya— menjadi:

{كَثِيبًا مَهِيلا}

tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan. (Al-Muzzammil: 14) 

_________________________________________

Firman Allah Swt.:

{فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا}

maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al-Waqi'ah: 6)

Abu Ishaq telah meriwayatkan dari Al-Haris, dari Ali r.a., bahwa semua gunung di hari itu menjadi debu yang beterbangan, kemudian lenyap tanpa bekas. 

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al-Waqi'ah: 6) Yakni seperti arang yang beterbangan dari nyala api yang bergejolak, pada mulanya berupa percikan api dan setelah terjatuh hancur lenyap. 

Ikrimah mengatakan bahwa al-mumbas artinya debu yang diterbangkan oleh angin (debu organik). 

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al-Waqi'ah: 6) Artinya seperti pohon kering yang diterbangkan oleh angin.

Ayat ini sama pengertiannya dengan ayat-ayat lainnya yang semakna yang menunjukkan lenyapnya gunung-gunung dari tempatnya masing-masing di hari kiamat nanti. Yaitu dengan diledakkan dan dijebol dari tempatnya masing-masing, kemudian dijadikan seperti bulu yang dihambur-hamburkan. 

_________________________________________

Firman Allah Swt.:

{وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً}

dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7)

Yakni kelak di hari kiamat manusia terbagi menjadi tiga golongan, suatu golongan berada di sebelah kanan 'Arasy. Mereka adalah orang-orang yang dahulu keluar dari lambung kanan Adam, dan buku catatan amal mereka diberikan kepada mereka dari arah kanan mereka, lalu mereka digiring ke sebelah kanan. Menurut As-Saddi, golongan ini seluruhnya adalah ahli surga. Sedangkan golongan lainnya berada di sebelah kiri Arasy, mereka adalah orang-orang yang dahulunya keluar dari lambung kiri Adam; buku catatan amal mereka diberikan kepada mereka dari arah kirinya, lalu mereka digiring ke arah kiri. Mereka adalah seluruh penduduk neraka, semoga Allah melindungi kita dari perbuatan mereka. Segolongan lainnya adalah orang-orang yang paling dahulu berada di hadapan Allah Swt. Mereka merupakan golongan yang lebih khusus, lebih beruntung dan lebih dekat kepada-Nya daripada Ashabul yamin, mereka adalah para pemimpin Ashabul yamin. Di kalangan mereka terdapat para rasul, para nabi, para siddiqin, dan para syuhada; jumlah mereka sedikit bila dibandingkan dengan jumlah Ashabul yamin. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ. وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ. وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ}

Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga). (Al-Waqi'ah: 8-10)

Pembagian mereka dalam tiga klasifikasi disebutkan pula di akhir surat ini, yaitu di saat mereka dihadirkan di hari kiamat. Hal yang semisal disebutkan juga di dalam firman-Nya:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. (Fathir: 32), hingga akhir ayat.

Pengertian ini berdasarkan-salah satu di antara dua pendapat sehubungan dengan golongan orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Bahwa makna yang dimaksud adalah seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan. (Fathir: 32)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa tiga golongan ini adalah orang-orang yang disebutkan di dalam akhir surat ini dan surat Fathir. 

Yazid Ar-Raqqasyi mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Ibnu Abbas menjawab bahwa azwajan ialah golongan. 

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Yakni tiga golongan, katanya. 

Menurut Maimun ibnu Mahran, tiga gelombang. 

Ubaidillah Al-Ataki telah meriwayatkan dari Usman ibnu Suraqah (anak lelaki bibinya Umar ibnul Khattab) tentang makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Bahwa yang dua golongan masuk surga, sedangkan yang satu golongan masuk neraka.


{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ}

Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Ali Imran: 133)

Dan firman Allah Swt.:

{سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ}

Berlomba-lombalah kamu untuk meraih ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al-Hadid: 21)

Barang siapa yang paling dahulu berbuat kebajikan di dunia ini, maka di akhirat ia termasuk orang-orang yang paling dahulu mendapatkan kemuliaan, yaitu surga, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatannya; dan sebagaimana engkau berbuat, maka engkau mendapat balasannya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

{أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ. فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ}

Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 11-12)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Kharijah ibnu Mus'ab, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa para malaikat berkata, "Ya Tuhanku, Engkau telah menjadikan bagi Bani Adam dunia, mereka makan dan minum serta kawin, maka jadikanlah bagi kami negeri akhirat." Allah Swt. berfirman, "Aku tidak akan melakukannya," sebanyak tiga kali. Para malaikat mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali, akhirnya Allah Swt. berfirman, "Aku tidak akan menjadikan orang yang telah Kuciptakan dengan tangan-Ku sendiri seperti orang yang Kukatakan kepadanya, 'Jadilah kamu,' maka jadilah ia." Kemudian Abdullah ibnu Amr membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 10-12)

Imam Usman ibnu Sa'id Ad-Darimi telah meriwayatkan asar ini di dalam kitabnya yang berjudul Sanggahan terhadap Golongan Jahmiyyah yang teksnya berbunyi seperti berikut, bahwa Allah Swt. berfirman, "Aku tidak akan menjadikan orang yang saleh dari keturunan orang yang Kuciptakan dengan tangan-Ku sendiri seperti orang yang Kuciptakan hanya dengan Kukatakan kepadanya, 'Jadilah kamu,' maka jadilah dia.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 04 Oktober 2020

“AL- MU'MINUN, AYAT 1-11"

 قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Sulaim yang mengatakan bahwa ia telah mencatat apa yang dikatakan oleh Yunus ibnu Yazid Al-Aili, dari Ibnu Syihab, dari Urwah ibnuzZubair, dari Abdur Rahman ibnu Abdul Qari yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Khalifah Umar ibnul Khattab mengatakan, "Rasulullah Saw. apabila diturunkan wahyu kepadanya terdengar suara seperti suara lebah di dekat wajahnya. Maka kami diam sesaat, dan beliau Saw. menghadap ke arah kiblat, lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa, 'Ya Allah, berilah kami tambahan dan janganlah Engkau kurangi kami, berilah kami kemuliaan dan janganlah Engkau hinakan kami, berilah kami dan janganlah Engkau menghalangi kami dari pemberian-Mu, pilihlah kami dan janganlah Engkau ke sampingkan kami, dan ridailah kami dan jadikanlah kami puas (dengan keputusan-Mu)'." Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat; barang siapa yang mengamalkannya, niscaya ia masuk surga. Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: Sesungguhnya telah beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) hingga akhir ayat kesepuluh. 

Imam Turmuzi meriwayatkannya di dalam kitab tafsir dan Imam Nasai di dalam kitab salat melalui hadis Abdur Razzaq dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat munkar, kami tidak mengenal ada seseorang yang meriwayatkannya dari Yunus ibnu Sulaim, sedangkan Yunus sendiri orangnya tidak kami kenal.

Imam Nasai mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Ja'far, dari Abu Imran, dari Yazid ibnu Babanus yang mengatakan, "Kami pernah bertanya kepada Siti Aisyah Ummul Mu’minin, 'Bagaimanakah akhlak Rasulullah Saw.'?" Siti Aisyah r.a. menjawab: Akhlak Rasulullah Saw. adalah Al-Qur'an. Kemudian Siti Aisyah r.a. membaca firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) sampai dengan firman-Nya: dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al Mu’minun: 9) Kemudian Siti Aisyah r.a. berkata, "Demikianlah akhlak Rasulullah Saw."

Telah diriwayatkan dari Ka'bul Ahbar, Mujahid, dan Abul Aliyah serta lain-lainnya, bahwa setelah Allah menciptakan surga 'Adn dan memberinya tanaman dengan tangan (kekuasaan)-Nya sendiri, lalu Allah memandangnya dan berfirman kepadanya, "Berbicaralah kamu !" Maka surga 'Adn mengucapkan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Ka'bul Ahbar mengatakan, surga 'Adn berkata demikian karena mengingat semua kehormatan yang disediakan oleh Allah di dalamnya bagi orang-orang mukmin. Abul Aliyah mengatakan, bahwa lalu Allah Swt. menyitirkan kalimat tersebut di dalam Kitab (Al-Qur'an)-Nya.

Hal tersebut telah diriwayatkan melalui Abu Sa'id Al-Khudri secara marfu'. Untuk itu Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah ibnu Maslamah, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id yang mengatakan bahwa Allah menciptakan surga yang bangunannya terbuat dari batu bata emas dan batu bata perak, serta Allah Swt. memberinya tanam-tanaman. Lalu Allah berfirman kepadanya, "Berbicaralah kamu!" Lalu surga mengatakan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Maka para malaikat memasukinya dan mereka berkata, "Beruntunglah engkau sebagai tempat para raja."

Kemudian Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam, telah menceritakan pula kepada kami Yunus ibnu Ubaidillah Al-Umri, telah menceritakan kepada kami Addi ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id, dari Nabi Saw. yang telah bersabda, "Allah menciptakan surga dari batu bata emas dan batu bata perak, sedangkan plesterannya dari minyak kesturi." Al-Bazzar mengatakan, ia melihat hadis ini di lain tempat yang bunyinya mengatakan, "Tembok surga terbuat dari batu bata emas dan batu bata perak, sedangkan plesterannya terbuat dari minyak kesturi." Kemudian Allah berfirman kepadanya, "Berbicaralah kamu!" Lalu surga mengatakan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Maka para malaikat berkata, "Beruntunglah engkau menjadi tempat raja-raja."

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui seorang pun yang me-rafa'-kan hadis ini selain Addi ibnul Fadl, sedangkan dia orangnya tidak Hafiz, lagi pula seorang manula yang sudah dekat masa ajalnya.


Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Setelah Allah menciptakan surga Adn, Allah menciptakan di dalamnya segala macam apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terdelik di dalam hati seorang manusia pun. Sesudah itu Allah berfirman kepadanya, "Berbicaralah kamu!" Maka. surga berkata: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1)

Baqiyyah menurut ulama Hijaz berpredikat daif (lemah dalam periwayatan hadis). 


Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Minjab ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Isa Al-Absi, dari Ismail As-Saddi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas yang me-rafa '-kannya bahwa setelah Allah menciptakan surga 'Adn dengan tangan (kekuasaan)-Nya sendiri, dan menjuntaikan buah-buahannya serta membelah sungai-sungainya, lalu Allah memandang kepadanya. Maka surga 'Adn berkata: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Dan Allah Swt. berfirman: Demi keagungan dan kebesaran-Ku, tidak boleh ada seorang bakhilpun bertempat padamu berdampingan dengan-Ku.

Abu Bakar ibnu Abud Dunya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ziyad Al-Kalbi, telah menceritakan kepada kami Ya'isy ibnu Husain, dari Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah bersabda: Allah menciptakan surga 'Adn dengan tangan (kekuasaan)Nya sendiri memakai batu bata dari intan putih, batu bata yaqut merah, dan batu bata zabarjad hijau; plesterannya dari minyak kesturi, batu bata kerikilnya dari mutiara, dan rerumputannya dari za'faran. Kemudian Allah berfirman kepadanya, "Berbicaralah kamu!" Maka surga 'Adn mengucapkan, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” Maka Allah Swt. berfirman, "Demi keagungan dan kebesaran-Ku, tidak boleh ada seorang bakhil pun bertempat padamu berdampingan dengan-Ku.” Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9)

*****

Adapun firman Allah Swt.:

{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ}

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1)

Yakni sungguh telah beruntung, berbahagia, dan beroleh keberhasilan mereka yang beriman lagi mempunyai ciri khas seperti berikut, yaitu:

{الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ}

(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al Mu’minun: 2)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Khasyi'un," bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah lagi tenang. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Az-Zuhri. Telah diriwayatkan dari Ali ibnu Abu Talib r.a. bahwa khusyuk artinya ketenangan hati. Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha'i. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, ketenangan hati mereka membuat mereka merundukkan pandangan matanya dan merendahkan dirinya.

Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa dahulu sahabat-sahabat Rasulullah Saw. selalu mengarahkan pandangan mata mereka ke langit dalam salatnya. Tetapi setelah Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al Mu’minun: 1-2) Maka mereka merundukkan pandangan matanya ke tempat sujud mereka. Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa sejak saat itu pandangan mata mereka tidak melampaui tempat sujudnya. Dan apabila ada seseorang yang telah terbiasa memandang ke arah langit, hendaklah ia memejamkan matanya. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Kemudian Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui ibnu Abbas —juga Ata ibnu Abu Rabah— secara mursal, bahwa Rasulullah Saw. pernah melakukan hal yang serupa (memandang ke arah langit) sebelum ayat ini diturunkan.

Khusyuk dalam salat itu tiada lain hanya dapat dilakukan oleh orang yang memusatkan hati kepada salatnya, menyibukkan dirinya dengan salat, dan melupakan hal yang lainnya serta lebih baik mementingkan salat daripada hal lainnya. Dalam keadaan seperti ini barulah seseorang dapat merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam salatnya, seperti yang dikatakan oleh Nabi Saw. dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasai melalui sahabat Anas dari Nabi Saw. yang telah bersabda:

"حُبِّبَ إليَّ الطِّيب وَالنِّسَاءُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ"

Aku dijadikan senang kepada wewangian, wanita, dan dijadikan kesenangan hatiku bila dalam salat.


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Mis'ar dari Amr ibnu Murrah, dari Salim ibnu Abul Ja'd, dari seorang lelaki dari Bani Aslam, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Hai Bilal, hiburlah kami dengan salat.


Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Usman ibnul Mugirah, dari Salim ibnu Abul Ja'd; Muhammad ibnul Hanafiyah pernah mengatakan bahwa ia bersama ayahnya (Ali ibnu Abu Talib r.a.) pernah berkunjung ke rumah salah seorang iparnya dari kalangan Ansar, lalu datanglah waktu salat, kemudian Ali r.a. berkata, "Hai budak perempuan, ambilkanlah air wudu, aku akan mengerjakan salat agar hatiku terhibur." Ketika ia memandang ke arah kami yang merasa heran dengan ucapannya, maka ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Beriqamahlah, hai Bilal, dan hiburlah hati kami dengan salat. 

*****

Firman Allah Swt.:

{وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ}

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (Al Mu’minun: 3)

Yaitu dari hal-hal yang batil yang pengertiannya mencakup pula hal-hal yang musyrik, seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama. Juga hal-hal maksiat seperti yang dikatakan oleh sebagian lainnya. Mencakup pula semua perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا}

dan apabila mereka bersua dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan: 72)

Qatadah mengatakan, "Demi Allah, mereka telah diberi kekuatan oleh Allah yang membuat mereka dapat melakukan hal tersebut."

_________________________________________

Firman Allah Swt.:

{وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ}

dan orang-orang yang menunaikan zakat. (Al Mu’minun: 4)

Menurut kebanyakan ulama, makna yang dimaksud dengan zakat dalam ayat ini ialah zakat harta benda, padahal ayat ini adalah ayat Makkiyyah; dan sesungguhnya zakat itu baru difardukan setelah di Madinah, yaitu pada tahun dua Hijriah. Menurut makna lahirnya, zakat yang di fardukan di Madinah itu hanyalah mengenai zakat yang mempunyai nisab dan takaran khusus. Karena sesungguhnya menurut makna lahiriahnya, prinsip zakat telah difardukan sejak di Mekah. Allah Swt. telah berfirman di dalam surat Al-An'am yang Makkiyyah, yaitu:

{وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ}

dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin). (Al-An'am: 141)

Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud dengan zakat dalam ayat ini ialah zakatun nafs (membersihkan diri) dari kemusyrikan dan kekotoran. Sama pengertiannya dengan apa yang terdapat dalam firman-Nya:

{قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا}

sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams: 9-10)

Dan firman Allah Swt. yang mengatakan:

{وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ. الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ}

dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang memper-sekutukan-(Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat. (Fushshilat: 6-7)

Hal ini menurut salah satu di antara dua pendapat yang mengatakan tentang tafsirnya. Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud adalah kedua pengertian tersebut secara berbarengan, yaitu zakat jiwa dan zakat harta. Karena sesungguhnya termasuk di antara zakat ialah zakat diri (jiwa), dan orang mukmin yang sempurna ialah orang yang menunaikan zakat jiwa dan zakat harta bendanya. Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui. 

_________________________________________

Firman Allah Swt.:


dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al Mu’minun: 5-7)

Artinya, orang-orang yang memelihara kemaluan mereka dari perbuatan yang diharamkan. Karena itu mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, seperti zina dan liwat. Dan mereka tidak mendekati selain dari istri-istri mereka yang dihalalkan oleh Allah bagi mereka, atau budak-budak perempuan yang mereka miliki dari tawanan perangnya. Barang siapa yang melakukan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah, maka tiada tercela dan tiada dosa baginya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ}

maka sesungguhnya mereka tidak tercela dalam hal ini. Barang siapa mencari yang di balik itu. (Al Mu’minun: 6-7)

Yakni selain istri dan budak perempuannya.

{فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ}

maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al Mu’minun: 7)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Sa'id, dari Qatadah, bahwa pernah ada seorang wanita mengambil budak laki-lakinya (sebagai kekasihnya) dan mengatakan bahwa ia melakukan perbuatannya itu karena bertakwilkan kepada firman Allah yang mengatakan: atau budak yang mereka miliki. (Al Mu’minun: 6) Lalu ia ditangkap dan dihadapkan kepada Khalifah Umar ibnul Khattab r.a., dan orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Saw. mengatakan bahwa perempuan itu menakwilkan suatu ayat dari Kitabullah dengan takwil yang menyimpang. Kemudian budak laki-laki itu dihukum pancung, dan Khalifah Umar berkata kepada wanita itu,"Engkau sesudah dia, haram bagi setiap orang muslim."

Asar ini berpredikat garib lagi munqati', disebutkan oleh Ibnu Jarir di dalam tafsir permulaan surat Al-Maidah, padahal kalau dikemukakan dalam tafsir ayat ini lebih cocok. Sesungguhnya Khalifah Umar menjatuhkan sangsi haram terhadap wanita tersebut bagi kaum laki-laki muslim, sebagai pembalasan terhadap perbuatannya, yaitu dengan menimpakan hukuman yang bertentangan dengan niat yang ditujunya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Syafii dan orang-orang yang mendukungnya telah mengambil ayat ini sebagai dalil dari pendapatnya yang mengatakan bahwa mastrubasi itu haram, yaitu firman-Nya: dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri atau budak yang mereka miliki. (Al Mu’minun: 5-6)

Imam Syafii mengatakan bahwa perbuatan mastrubasi itu di luar kedua perkara tersebut. Karena itu, mastrubasi haram hukumnya. Dan sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al Mu’minun: 7)

Mereka berdalilkan pula dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hasan ibnu Arafah dalam kitab Juz-nya yang terkenal. 


Ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Sabit Al-Jazari, dari Maslamah ibnu Ja'far, dari Hassan ibnu Humaid, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Ada tujuh macam orang yang Allah tidak mau memandang mereka kelak di hari kiamat dan tidak mau membersihkan mereka (dari dosa-dosanya), dan tidak menghimpunkan mereka bersama orang-orang yang beramal (baik), dan memasukkan mereka ke neraka bersama orang-orang yang mula-mula masuk neraka, terkecuali jika mereka bertobat; dan barang siapa yang bertobat, Allah pasti menerima tobatnya. Yaitu orang yang kawin dengan tangannya (mastrubasi), kedua orang yang terlibat dalam homoseks, pecandu minuman khamr, orang yang memukuli kedua orang tuanya hingga keduanya meminta tolong, orang yang mengganggu tetangga-tetangganya sehingga mereka melaknatinya, dan orang yang berzina dengan istri tetangganya.

Hadis berpredikat garib, di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang tidak dikenal karena kemisteriannya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

_________________________________________

Firman Allah Swt.:

{وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ}

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (Al Mu’minun: 8)

Yakni apabila mereka dipercaya, tidak berkhianat; bahkan menunaikan amanat itu kepada pemiliknya. Apabila mereka berjanji atau mengadakan transaksi, maka mereka menunaikannya dengan benar, tidak seperti sikap orang-orang munafik yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. mempunyai ciri khas berikut, melalui, sabdanya:

"آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّث كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وإذا اؤتمن خَانَ".

Pertanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, ingkar; dan apabila dipercaya, khianat.

_________________________________________

Firman Allah Swt.:

{وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ}

dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al Mu’minun: 9)

Maksudnya, mengerjakannya secara rutin tepat pada waktunya masing-masing. Seperti yang dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas'ud r.a. ketika ia bertanya kepada Rasulullah Saw.:

Aku pernah bertanya; "Wahai Rasulullah amal apakah yang paling disukai oleh Allah?" Rasulullah Saw. menjawab, "Mengerjakan salat di dalam waktunya." Saya bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Saya bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, "Berjihad pada jalan Allah.”

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing. Di dalam kitab Mustadrak-nya Imam Hakim disebutkan seperti berikut:

"الصلاة في أول وقتها"

Mengerjakan salat pada permulaan waktunya.

Ibnu Mas'ud dan Masruq telah berkata sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al Mu’minun: 9) Yaitu memelihara waktu-waktu salat. 

Hal yang sama telah dikatakan oleh AbudDuha, Alqamah ibnu Qais, Sa'id ibnu Jubair, dan Ikrimah. Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menjaga waktu-waktunya, rukuk dan sujudnya. 

Allah Swt. membuka penyebutan sifat-sifat yang terpuji itu dengan menyebutkan salat, kemudian diakhiri pula dengan penyebutan salat. Hal ini menunjukkan keutamaan salat, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya:

"اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ، وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ"

Bersikap istiqamah (lurus)-lah, dan sekali-kali (pahala) kalian tidak akan dihitung-hitung, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah salat; dan tiada yang dapat memelihara wudu, melainkan hanya orang mukmin.

Setelah Allah menyifati orang-orang mukmin, bahwa mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji dan melakukan perbuatan-perbuatan yang terbaik, kemudian Allah Swt. berfirman:

{أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Mu’minun: 10-11)

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:


Apabila kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus itu adalah surga yang tertinggi dan paling pertengahan, darinya bersumberkan semua sungai surga, dan di atasnya terdapat 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Maha Pemurah.


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiada seorang pun di antara kalian melainkan mempunyai dua tempat tinggal, yaitu tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Jika ia mati dan ternyata masuk nereka, maka penduduk surga mewarisi tempat tinggalnya (yang ada di surga). Yang demikian itu disebutkan dalam firman-Nya, "Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi" (Al Mu’minun: 10)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Al-Lais, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Al Mu’minun: 10) Bahwa tiada seorang hamba (Allah) pun melainkan mempunyai dua tempat tinggal, yaitu tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Adapun orang mukmin, dia membangun rumahnya yang berada di dalam surga dan merobohkan rumahnya yang ada di neraka. Sedangkan orang kafir merobohkan rumahnya yang ada di dalam surga dan membangun rumahnya yang ada di neraka. 

Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari. Sa'id ibnu Jubair. Orang-orang mukmin mewarisi tempat-tempat tinggal orang-orang kafir, karena pada asalnya orang-orang kafir itu diciptakan agar beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Mengingat orang-orang mukmin mengerjakan semua ibadah yang diperintahkan kepada mereka, sedangkan orang-orang kafir meninggalkan apa yang mereka diciptakan untuk mengerjakannya (yaitu beribadah kepada Allah), maka orang-orang mukmin merebut bagian orang-orang kafir seandainya mereka taat kepada Tuhannya.

Bahkan dalam keterangan yang lebih jelas lagi disebutkan di dalam Sahih Muslim melalui Abu Burdah, dari Abu Musa, dari ayahnya, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:

"يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَاسٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِذُنُوبٍ أَمْثَالِ الْجِبَالِ، فَيَغْفِرُهَا اللَّهُ لَهُمْ، ويضَعُها عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى"

Segolongan orang dari kalangan kaum muslim didatangkan kelak pada hari kiamat dengan membawa dosa-dosa yang sebesar-besar gunung, lalu Allah memberikan ampunan bagi mereka dan menimpakan dosa-dosa itu kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Menurut lafaz yang lain dari Imam Muslim, Rasulullah Saw. pernah bersabda:


Apabila hari kiamat telah terjadi, Allah menyerahkan kepada setiap orang muslim seorang Yahudi atau seorang Nasrani, lalu Allah berfirman, "Inilah tebusanmu dari neraka.”

Kemudian Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz menyumpah Abu Burdah yang menceritakan hadis ini dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia sebanyak tiga kali sumpah, yang isinya mengatakan bahwa ayahnya benar-benar menceritakan hadis ini kepadanya dari Rasulullah Saw. maka Abu Burdah bersumpah kepadanya.

Menurut saya, makna ayat ini sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا}

Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa. (Maryam: 63)

Dan firman Allah Swt. yang mengatakan:

{وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal-amal yang dahulu kalian kerjakan. (Az-Zukhruf: 72)

Mujahid dan Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa surga dengan memakai bahasa Romawi berarti Firdaus (Paradis). Sebagian ulama Salaf mengatakan, taman tidak dinamakan Firdaus kecuali bila di dalamnya terdapat pohon anggur. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KEBERSAMAAN DAN PERTEMUAN”

kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan pe...