Rabu, 29 Desember 2021

“BERAPA HARGA ANAK KITA?”

Berapa harga anakmu?

Bingung pasti… Karena nilai anak tak bisa diukur dengan materi, tak ternilai..! Tapi benarkah anak itu tak ternilai? Kadang atau mungkin seringkali anak bernilai sangat rendah di mata orangtua.. Kadang dia lebih rendah dari sebuah guci kristal. Ketika guci itu pecah tanpa sengaja, maka rasa marah kemudian memecahkan perasaan anak, merendahkan nilai anak…. guci lebih berharga saat itu..! Kadang dia lebih rendah nilainya dari sebuah mangkok atau piring.. Yang jika pecah, suara kemudian meninggi memecahkan hati sang anak.. Atau lebih rendah dari semangkok sayur yang tertumpah, karena tangan kecilnya berusaha membantu ibu di dapur. Mata yang melihat terasa lebih pantas walaupun harus menumpahkan air mata sang anak…! Atau lebih rendah dari sebuah mobil baru yang jika tergores, maka goresannya dianggap lebih berbahaya ketimbang goresan luka di hati sang anak… Kadang anak juga lebih rendah nilainya dibanding facebook atau pertandingan bola…. sehingga lebih banyak waktu dan keseriusan yang dihabiskan untuk facebook dan nonton bola ketimbang mendengarkan cerita anaknya di sekolah.. Kadang anak lebih rendah nilainya dari handphone.. “gak boleh nanti rusak…!” kekhawatiran HP rusak lebih besar dibanding kekhawatiran rusaknya perasaan sang anak.  Berapa nilai anak bagi kita?
Adalah sejauh keikhlasan kita menahan diri hingga tidak merusak hatinya…. Adalah sejauh kemampuan kita menempatkan harga dirinya jauh diatas benda-benda mati yang kita miliki… Benda itu tidak akan menolong kita di YAUMIL   AKHIR ..!
Sementara ANAK , adalah..
investasi kita dihadapan Allah. Dia yang akan memperpanjang usia historis kita dengan doa dan amal sholih yang kita ajarkan dan dia melakukannya..
Ya Allah…jika ada keburukan akhlak kami ketika membesarkannya… hilangkanlah dari ingatan anak2 kami… hilangkan jejak2 keburukan dari tangan, mata atau mulut kami. Kami hanya penitipan, sesungguhnya Engkau akan mengambil titipanMu.
والله أعلم

۞اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.۞

  Join :
Telegram : t.me/chymh

“ILMU AGAMA ADALAH BEKAL HIDUP”

 العلم ليس لأجل السابقة و الامتحان،، لكن العلم لنعمل به في حياتنا لنسلم في الدنيا و اخرتنا...

كيف نعلم العمل الصالح بلا علم،،..

إذا زعم شخص أن العلم لأجل الامتحان أو لنعلمه فقد بدون العمل،، لا فاءدة فيه،، لا ينفع له علمه...

اعلموا.... إن الله لا يقبل من العمل بدون العلم..

Ilmu bukanlah untuk pertandingan dan tidak pula hanya untuk ujian...

Akan tetapi ilmu untuk di amalkan dalam kehidupan kita, supaya hidup kita selamat di dunia dan akhirat kita...

Bagaimana seseorang melakukan amal Sholeh tanpa ilmu ?

Jika seseorang beranggapan bahwa ilmu untuk pertandingan dan untuk menghadapi ujian saja, tanpa di amalkan.
Maka ilmunya tidak akan berfaidah dan bermanfaat baginya...

📌 Ketahuilah...  Sesungguh nya Allaah tidak menerima amal ibadah tanpa ilmu..

Ayo belajar ilmu agama dan mengamalkannya..!

Belajar & Muroja'ah ilmu Agama ikhlas karena Allaah 📖

Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Selasa, 28 Desember 2021

“SEJARAH SINGKAT SYECH NAWAWI AL BANTANI”

BIOGRAFI SYACH NAWAWI AL BANTANI

Syekh Nawawi lahir dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. (Sekarang di Kampung Pesisir, Desa Padaleman, Kecamatan Tanara, Serang).

Pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin 'Umar bin 'Arabi al-Bantani.

Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah.

Beliau merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin.(Raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon).

Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani.

Sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa.

Syaikh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 4 orang anak: Ruqoyah,Nafisah, Maryam, Jahroh.

SILSILAH SYECH NAWAWI AL BANTANI

Silsilah Syekh Nawawi al-Bantani sampai kepada Rasulullah SAW.

Syekh Nawawi al-Bantani bin

Syekh Umar al-Bantani bin

Syekh Arabi al-Bantani bin

Syekh Ali al-Bantani bin

Syekh Jamad al-Bantani bin

Syekh Janta al-Bantani bin

Syekh Masbuqil al-Bantani bin

Syekh Maskun al-Bantani bin

Syekh Masnun al-Bantani bin

Syekh Maswi al-Bantani bin

Syekh Tajul Arsy al-Bantani (Pangeran Sunyararas) bin

Sultan Maulana Hasanuddin bin

Sultan Syarif Hidayatullah bin

Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin

Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan bin

Sayyid Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini (Syekh Jumadil Kubro) bin

Sayyid Ahmad Jalal Syah Azmatkhan bin

Sayyid Abdullah Azmatkhan bin

Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin

Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadramaut) bin

Sayyid Muhammad Shahib Mirbath (Hadramaut) bin

Sayyid Ali Khali' Qasam bin

Sayyid Alawi ats-Tsani bin

Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin

Sayyid Alawi Awwal bin

Sayyid al-Imam 'Ubaidillah bin

Sayyid Ahmad al-Muhajir bin

Sayyid 'Isa Naqib ar-Rumi bin

Sayyid Muhammad an-Naqib bin

Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin

Sayyidina Ja'far ash-Shadiq bin

Sayyidina Muhammad al-Baqir bin

Sayyidina Ali Zainal Abidin bin

Sayyidina Husain bin

Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti

Sayyidina MUHAMMAD SAW.

PENDIDIKAN SYECH NAWAWI AL BANTANI

Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.
Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu.

GURU GURU SYECH NAWAWI AL BANTANI

Berikut adalah para ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Syekh Nawawi

Syekh Umar bin Arabi al-Bantani (Ayahnya)

K.H. Sahal al-Bantani

Syekh Baing Yusuf Purwakarta

Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi

Syekh Ahmad Zaini Dahlan

Syekh Abdul Ghani al-Bimawi

Syekh Yusuf Sumbulaweni

Syekh Abdul Hamid Daghestani

Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi

Syekh Ahmad Dimyati

Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali

Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki

Syekh Junaid al-Batawi

Syekh Zainuddin Aceh

Syekh Syihabuddin

Syekh Yusuf bin Muhammad Arsyad al-Banjari

Syekh Abdush Shamad bin Abdurahman al-Falimbani

Syekh Mahmud Kinan al-Falimbani

Syekh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani

Dan lain sebagainya.

*MURID MURID SYECH NAWAWI AL BANTANI*

Di antara murid-murid Syekh Nawawi yang menjadi ulama berpengaruh antara lain.

Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi.

Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura[10]

Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri

Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani, Caringin, Labuan, Pandeglang

Syekh Arsyad Thawil al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888 dan Penyebar Islam di Sulawesi Utara.

Syekh Abu al-Faidh Abdus Sattar bin Abdul Wahhab ad-Dahlawi, Delhi, India - Pengajar di Masjidil Haram[12]

Sayyid Ali bin Ali al-Habsy - Pengajar di Masjidil Haram

Syekh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat

Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, Pattani, Thailand

Syekh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Bantani - Cucu Syekh Nawawi

K.H. Saleh Darat as-Samarani

K.H. Hasyim Asyari, Jombang - Pendiri Nahdlatul Ulama

K.H. Ahmad Dahlan, Yogyakarta - Pendiri Muhammadiyah[13]

K.H. Hasan Genggong - Pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong

K.H. Mas Abdurahman - Pendiri Mathla'ul Anwar

K.H. Raden Asnawi, Kudus

Haji Abdul Karim Amrullah, Sumatra Barat

K.H. Thahir Jamaluddin, Singapura

K.H. Dawud, Perak, Malaysia

K.H. Hasan Asyari, Bawean

K.H. Najihun, Mauk, Tangerang

K.H. Abdul Ghaffar, Tirtayasa, Serang

K.H. Ilyas, Kragilan, Serang

K.H. Wasyid - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Tubagus Ismail - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Arsyad Qashir al-Bantani - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Abdurrahman - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Haris - Pejuang Geger Cilegon 1888

K.H. Aqib - Pejuang Geger Cilegon 1888

Dan lain sebagainya.

والله اعلم باالصواب....


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“ALLAH TIDAK INGKAR JANJI ”

 لايشككنك في الوعدعدم وقوع الموعودوان تعين زمنه لئلا يكون قدحافي بصيرتك واخماد النور سريرتك

"sungguh, janganlah kamu meragukan janji Allah ketika janji itu belum terjadi, meskipun masanya tidak jelas, agar keraguan itu tidak membutakan mata hatimu serta tidak memadamkan cahaya hatimu."

keterangan,
Hikmah ini lebih umum bila dibandingkan dengan hikmah yg sebelumnya. Inti dari hikmah ini adalah jangan pernah meragukan terhadap janji yg telah diberikan oleh Allah karena Allah tidak akan pernah ingkar janji.

Keraguan ini akan memadamkan lentera hati dan apabila lentera hati telah padam maka hidup terasa semu dan bahkan gelap gulita.
kekasih Allah adalah orang yg selalu beretika terhadap Tuhannya serta tidak akan gundah dan gelisah ketika apa yg dijanjikan Allah belum terjadi.

Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“TEKS YA ARHAMAR RAHIMIN”

 ياأرحم الراحمين ۰۞۰ ياأرحم الراحمين - ياأرحم الراحمين ۰۞۰ فرج علی المسلمين

Yâ Arhamar-Rôhimîn Yâ Arhamar-Rôhimîn Yâ Arhamar-Rôhimîn Farrij ‘alâl muslimîn

Wahai yang Maha Berkasih sayang lebih dari semua yang memiliki sifat kasih sayang, wahai Yang Maha Berkasih sayang lebih dari semua yang memiliki sifat kasih sayang, Wahai yang Maha Berkasih sayang lebih dari semua yang memiliki sifat kasih sayang, berilah pertolongan kepada kaum muslimin.

ياربنا ياگريم ۰۞۰ ياربنا يارحيم -  أنت الجواد الحليم ۰۞۰ وأنت نعم المعين

Yâ Robbanâ Yâ Karîm Yâ Robbanâ Yâ Rohîm Antal jawâdul halîm wa anta ni’mal mu’în

Wahai Tuhan yang Maha Pemurah, Wahai Tuhan kami yang maha Berkasih sayang, Engkaulah Yang Maha Pemurah dan Maha berlemah lembut, dan Engkaulah Yang Maha melimpahkan kenikmatan dan Maha menolong

وليس نرجو سواك ۰۞۰ فادرك إلهي دراك  -  قبل الفنا والهلاك ۰۞۰ يعم دنيا ودين

Wa laisa narjû siwâk Fadrik ilâhî darôk Qoblal fanâ wal halâk Ya’ummu dunyâ wa dîn

Dan tiadalah kami mengharap pada selain-Mu, Maka datangkanlah Wahai Tuhan kami pertolongan-Mu dan kepedulian-Mu. Sebelum terjadinya kerusakan dan kehancuran yang menyeluruh di permukaan bumi dan agama kami.

ومالنا ربنا ۰۞۰ سواك ياحسبنا -  ياذاالعلا والغنی ۰۞۰ وياقوي يامتين

Wa mâ lanâ Robbanâ Siwâka Yâ hasbanâ Yâ dzal’ulâ wal ghinâ Wa Yâ qowiyyu Yâ Matîn

Dan tiadalah yang bersama kami, wahai Tuhan kami selain-Mu wahai Yang Maha mampu mencukupi kami, wahai Yang Maha memiliki keluhuran, wahai Yang maha kaya, wahai yang Maha kuat, wahai Yang Maha Dahsyat kekuasaannya.

نسألك والی يقيم ۰۞۰ العدل گی نستقيم - علی هداك القويم ۰۞۰ ولا نطيع اللعين

Nas-aluka wâlî yuqîm. Al’ad-la kay nastaqîm ‘Alâ hudâkal qowîm wa lâ nuthî’ulla’în

Kami minta kepada-Mu, Pemimpin yang menegakkan keadilan, agar kami bisa lebih melakukan istiqomah ibadah, Diatas tuntunan hidayah-Mu yang tegak dengan benar dan mulia, dan hingga kami tidak berpemimpin kepada orang yang Engkau murkai.

ياربنا يامجيب ۰۞۰ أنت السميع القريب -  ضاق الوسيع الرحيب ۰۞۰ فانظر إلی المؤمنين

Yâ Robbanâ Yâ Mujîb Antas-samî’ul qorîb Dlôqol wasî’ur-rohîb Fandhur ilâl mu'minîn

Wahai Tuhan kami, wahai yang maha menjawab doa dengan lebih dari apa yang diminta, Engkaulah Yang Maha mendengar dan Maha dekat, Sungguh telah sempit hal-hal yang sebelumnya luas dan menyenangkan kini telah berubah menjadi kesempitan, maka pandanglah kepada orang-orang mukmin dengan kasih sayang-Mu dan kasihanilah orang-orang yang beriman.

نظرة تزيل العنا ۰۞۰ عنا وتدنی المنا - منا وکل الهنا ۰۞۰ نعطاه فی کل حين

Nadhrot tuzîlul ‘anâ ‘Annâ wa tudnîl munâ Minnâ wa kullal hanâ Nu’thôhu fî kulli hîn

Pandangan kasih sayang yang membuat sirnanya segala kesedihan pada diri kami dan dekatkanlah pada kami semua yang kami cita-citakan pada diri kami, dari apa apa yang kami cita-citakan dan semua kebahagiaan, agar kami dilimpahi anugerah setiap waktu.

سالك بجاه الجدود ۰۞۰ والی يقيم الحدود -  فينا ويکفی الحسود ۰۞۰ ويدفع الظالمين

Sâlak bijâhil judûd Wâliy yuqîmul hudûd Fînâ wa yakfîl hasûd Wa yadfa’udh-dhôlimîn

Kami meminta kepada-Mu, demi wali-wali-Mu yang selalu memperbaharui keadaan, kami meminta kepada Mu Pemimpin yang menegakkan kebenaran pada kami, dan menjaga kami daripada orang-orang yang dengki dan melindungi kami dari kedholiman.

يزيل للنگرات ۰۞۰ يقيم للصلوات -  يأمر بالصالحات ۰۞۰ محب للصالحين

Yuzîlu lilmunkarôt Yuqîmu lissholawât Ya,muru bisshôlihât Muhibbun lisshôlihîn

Pemimpin yang selalu membenahi kemungkaran, melakukan shalat, pemimpin yang selalu memerintah kepada hal hal yang baik, dan mencintai orang orang yang shalih

يزيح کل الحرام ۰۞۰ يقهر کل الطغام  - يعدل بين الانام ۰۞۰ ويؤمن الخالفين

Yuzîhu kullal harôm Yaqharu kullath-thoghôm Ya’dilu bainal anâm wa yu,minul khô-ifîn

Pemimpin yang selalu membenahi segala hal yang dilarang agama, dan menindas semua mereka yang berbuat dzalim, pemimpin yang adil diantara manusia, dan mengamankan serta melindungi orang orang yang dalam ketakutan dan kerisauan.

رب اسقنا غيث عام ۰۞۰ نافع مبارك دوام  - يدوم فی کل عام ۰۞۰ علی ممر السنين

Robbi-sqinâ ghoitsa ‘âm Nâfi’ mubârok dawâm Yadûmu fî kulli ‘âm ‘alâ mamarris-sinîn

Wahai Tuhan kami, hujani kami dengan lebatnya rahmat~Mu sepanjang tahun, yang membawa limpahan manfaat dan keberkahan yang berkesinambungan, yang berlanjut sepanjang tahun dari masa ke masa

رب احينا شاکرين ۰۞۰ وتوفنا مسلمين -  نبعث من الآمنين ۰۞۰ فی زمرة السابقين

Robbihyinâ syâkirîn wa tawaffanâ Muslimîn Nub’ats minal ãminîn fî zumrotis-sâbiqîn

Wahai Tuhan kami, jadikanlah kehidupan kami selalu jadi hamba yang bersyukur, dan wafatkanlah kami sebagai orang yang muslim, Hingga kami dibangkitkan dalam kelompok orang-orang yang aman dari siksa dan kemurkaan-Mu di dalam kelompok orang-orang yang masuk surga terlebih dahulu.

بجاه طه الرسول ۰۞۰ جد ربنا بالقبول -  وهب لنا کل سول ۰۞۰ رب استجب لی امين

Bijâhi Thôhâr-Rosûl Jud robbanâ bil qobûl Wa hab lanâ kulla sûl Robbistajib lî amîn

Demi tingginya derajat Nabi Muhammad saw, maka berkasihsayang lah wahai Tuhan kami kepada kami dengan memberikan pengabulan-pengabulan terhadap harapan-harapan kami, Dan limpahkanlah bagi kami apa-apa yang kami minta, Wahai Tuhan kami jawablah untuk kami dan kabulkanlah.

عطاك ربی جزيل ۰۞۰ وکل فعلك جميل  - وفيك املنا طويل ۰۞۰ فجد علی الطامعين

‘Athôka robbî jazîl Wa kullu fi’lik jamîl Wa fîk amalnâ thowîl Fajud ‘alâth-thômi’în

Anugerah-Mu wahai Tuhan kami sungguh indah dan banyak, dan semua perbuatan-Mu Indah, Dan pada-Mu cita cita kami sangat panjang, maka bermurah hatilah kepada orang orang yang sangat mendambakan anugerah-Mu.

يارب ضاق الخناق ۰۞۰ من فعل مالا يطاق  - فامنن بفك الغلاق ۰۞۰ لمن بذنبه رهين

Yâ Robbi dlôqol khinâq Min fi’li mâ lâ yuthôq Famnun bifakil ghilâq Liman bidzanbih rohîn

Wahai Tuhan kami, telah sempit tenggorokan kami (dalam kesulitan yang besar), dari perbuatan perbuatan yang tidak mampu kami hindari, Maka anugerahilah kami dengan terlepasnya segala kesulitan yang mengunci kami, untuk sang hamba yang tergadaikan oleh dosa-dosanya sendiri.

واغفر لکل الذنوب ۰۞۰ واستر لکل العيوب  - واکشف لکل الکروب ۰۞۰ واکف أذی المؤذيين

Waghfir likullidz-dzunûb wastur likullil ‘uyûb Waksyif likullil kurûb wakfi adzâl mu,dziyîn

Dan ampunilah setiap dosa, dan tutupilah segala aib aib kami, Singkapkanlah dari kami dan singkirkanlah segala permasalahan dan cobaan dan musibah, lindungi kami dan cukupkanlah gangguan dari orang orang yang mengganggu kami.

واختم بأحسن ختام ۰۞۰ إذا دنی الإنصرام  - وحان حين الحمام ۰۞۰ وزاد رشح الجبين

Wakhtim bi-ahsan khitâm Idzâ danâl inshirôm Wa hâna hînul himâm Wa zâda rosyhul jabîn

Dan akhirilah kami dengan Husnul khotimah, bila telah dekat ajal kami, Dan telah dekat nafas kami yang terakhir, dan tambahkanlah keringat yang mengalir di dahi sebagai tanda kematian kami yang mulia (orang-orang yang ahli surga wafat dalam keadaan husnul khotimah itu salah satu tandanya adalah dahinya berkeringat saat dia menghembuskan nafas terakhir)

ثم الصلاة والسلام ۰۞۰ علی شفيع الأنام  - والآل نعم الکرام ۰۞۰ والصحب والتابعين
Tsummas-sholât was-salâm ‘Alâ Syafî’il anâm Wal ãli ni’mal kirôm wash-shohbi wat-tâbi’în

Dan limpahkan sholawat dan salâm atas sang pembawa Syafa’at bagi manusia, dan atas keluarga beliau semulia mulia orang yang mulia, dan para shahabat dan tabi’in.


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Selasa, 21 Desember 2021

“SEBAIK-BAIK AMAL ADALAH SHALAT”

Oleh

Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Dari Tsaubân Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَدِّدُوْا ، وَقَارِبُوْا ، وَاعْمَلُوْا ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْـرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ  وَلَا يُـحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Berlaku tepatlah sesuai kebenaran, (berusahalah) mendekati kebenaran, dan beramallâh. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidaklah menjaga wudhu’, melainkan seorang Mukmin.


TAKHRIJ HADITS

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/282); Ad-Dârimi (I/168); Ibnu Hibbân (no.1034-at-Ta’lîqâtul Hisân dan no.164-Mawâriduzh Zham-ân); Ibnu Nashr al-Marwazi dalam Ta’zhîm Qadris Shalâh (no. 167); Dan lainnya. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 115.

Ada juga yang diriwayatkan dengan lafazh:

اِسْتَقِيْمُوْا وَلَنْ تُحْصُوْا، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ، وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ.

Tetaplah kalian beristiqamah dan kalian pasti tidak akan mampu! Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah shalat. Dan tidak ada orang yang senantiasa menjaga wudhu’nya melainkan seorang Mukmin.


SYARAH HADITS

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : سَدِّدُوْا  (Berlaku tepatlah sesuai kebenaran)

Makna lafazh  سَدِّدُوْا  ‘saddiduu’: اَلسَّدَاد ‘as-sadâd’ yang merupakan hakikat atau inti istiqâmah adalah selalu benar, tepat dan tetap benar dalam semua ucapan, perbuatan, dan keinginan, sebagaimana seseorang yang sedang membidik sasaran, ia berusaha keras agar tepat dan tidak meleset sedikit pun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruh ‘Ali Radhiyallahu anhu untuk memohon kepada Allâh Azza wa Jalla kelurusan (ketepatan) dan petunjuk.

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ وَسَدِّدْنِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Ya Allâh! Berilah petunjuk kepadaku dan luruskanlah diriku. Ya Allâh! Sesungguhnya aku memohonkan petunjuk dan kelurusan kepada-Mu


Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : وَقَارِبُوْا  (dan berusahalah mendekati kebanaran”

Makna qâribû’ yaitu jika tidak memungkinkan tepat, hendaklah berusaha mendekati sasaran. Namun dengan syarat, tetap bertekad untuk senantiasa berusaha benar dan tepat sasaran. Sehingga bila ia tidak benar atau tidak tepat sasaran, maka akan mendekati, namun itu diluar keinginannya atau tidak ada unsur kesengajaan. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! إِنَّكُمْ لَنْ تَفْعَلُوْا – أَوْ لَنْ تُطِيْقُوْا – كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ ، وَلٰكِنْ سَدِّدُوْا وَأَبْشِرُوْا

Wahai manusia! Sesungguhnya kalian tidak akan dapat melaksanakan dan tidak akan mampu melaksanakan semua yang diperintahkan (oleh agama) kepada kalian, akan tetapi berusahalah untuk benar dan bergembiralah (dengan pahala amalan kalian)


Maknanya yaitu, berusahalah untuk selalu lurus, benar dan istiqamah. Karena jika mereka lurus (tepat) dalam semua amalan, maka mereka telah mengerjakan semua apa yang diperintahkan kepada mereka.


Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : وَاعْمَلُوْا  (Beramallah)

Seorang Muslim harus selalu melakukan amal shalih dan bergegas dalam melakukannya dengan ikhlas dan ittiba’. Dia harus selalu berbuat yang terbaik yang bisa dilakukan dengan kemampuannya.


Hendaklah dia memilih amal shalih terbaik yang mampu ia lakukan. Yang harus didahulukan adalah yang paling penting kemudian yang penting. Karena amal shalih dalam Islam itu sangat banyak, jadi dia harus memilih dan melakukan yang terbaik.


Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْـرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاة

Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat


Shalat disebut amalan terbaik, karena shalat adalah tiang agama. Shalat tempat munajat (memohon do’a) seorang hamba. Shalat menjadi tolok ukur amalan yang lainnya, artinya, jika shalatnya baik, maka yang lainnya baik dan jika shalatnya buruk, maka amalan lainnya juga buruk. Shalat menjadi cahaya dalam diri seseorang, keluarga dan rumah tangganya, serta cahaya pada hari Kiamat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…وَالصَّلَاةُ نُـوْرٌ…

… Dan shalat itu adalah cahaya …


Shalat sebagai pembeda antara orang yang benar-benar beriman atau tidak. Shalat juga bisa mendatangkan keberkahan dalam kehidupan dan lainnya.

Dalam Islam, shalat memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi oleh ibadah lainnya. Sebab, ia merupakan tiang agama. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

… رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ …

… pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allâh …


Shalat adalah sebaik-baik amal seorang Muslim, dan merupakan amal yang pertama kali yang akan dihisab pada hari Kiamat. Sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.

Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk.

Di samping itu, shalat adalah wasiat terakhir Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَاةَ ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ.

Kerjakanlah shalat, dan tunaikan kewajiban kalian terhadap hamba sahaya yang kalian miliki.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memerintahkan umatnya agar mengingatkan putra-putri mereka untuk mengerjakan shalat ketika telah berumur tujuh tahun.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika ia telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.


Makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pemukulan adalah pukulan yang nyata bukan pukulan terhadap hatinya dan tidak mengandung konotasi yang lain. Namun, pukulan itu bukan pukulan yang melukai dan bisa mencederai. Pukulan itu adalah pukulan yang mendidik.

Dalam riwayat yang lain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا ، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan kalau sudah berusia sepuluh tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).


Ini ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan pendidikan Islam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan agar kita selalu memerintahkan keluarga kita untuk shalat, mulai umur tujuh tahun sampai seterusnya. Wajib menyuruh mereka untuk shalat dan wajib untuk selalu diingatkan. Kita tidak boleh mendiamkan mereka. Kita perintahkan mereka shalat mulai dari shalat Shubuh sampai shalat ‘Isya’ setiap hari.

Kepada setiap kepala rumah tangga, hendaklah ia menyuruh isteri, anak, pembantu dan sopirnya untuk mengerjakan shalat.

Setiap kepala rumah tangga, ayah dan ibu, wajib menyuruh anak-anaknya untuk shalat. Wajib memperhatikan orang yang di bawah tanggungannya, agar mereka melaksanakan shalat wajib yang lima waktu.


Hukuman Orang Yang Meninggalkan Shalat

Hendaknya seorang Muslim takut apabila keislamannya diperdebatkan oleh para Ulama dengan sebab meninggalkan shalat.

Yang pasti, orang yang meninggalkan shalat telah berbuat dosa besar yang paling besar, lebih besar dosanya di sisi Allâh daripada membunuh jiwa, mengambil harta orang lain. Lebih besar dosanya daripada dosa zina, mencuri dan minum khamr. Orang yang me-ninggalkan shalat akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan Allâh di dunia dan di Akhirat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mengatakan, “Orang yang enggan mengerjakan shalat fardhu maka ia berhak mendapatkan hukuman yang keras (berat) berdasarkan kesepakatan para imam kaum Muslimin, bahkan menurut jumhur ummat (mayoritas), seperti imam Mâlik rahimahullah, asy-Syâfi’i, Ahmad, dan selain mereka. Ia wajib disuruh bertaubat, jika ia bertaubat (maka ia terbebas dari hukuman) dan jika tidak maka ia dihukum bunuh.

Bahkan orang yang meninggalkan shalat lebih jelek daripada pencuri, pezina, peminum khamr, dan penghisap ganja.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fasal tentang orang yang meninggalkan shalat, apakah ia dibunuh karena hadd ataukah karena kafir?

Adapun masalah yang ketiga, yaitu: Apakah (orang yang meninggalkan shalat) dibunuh karena hadd seperti dibunuhnya muharib (pelaku teror) dan pezina, ataukah dia dibunuh seperti dibunuhnya orang murtad dan zindiq? Dalam masalah ini ada dua pendapat menurut para Ulama, dan keduanya adalah riwayat dari Imam Ahmad:

Pertama: Ia dibunuh seperti dibunuhnya orang yang murtad. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair, ‘Amir asy-Sya’bi, Ibrâhîm an-Nakhâ’i, Abu ‘Amr al-Auza’i, Ayûb as-Sikhtiyâni, ‘Abdullah bin al-Mubârak, Ishâq bin Rahawaih, ‘Abdul Mâlik bin Habîb dari madzhab Mâliki, dan salah satu pendapat dalam madzhab Syâfi’i, dan diceritakan dari Imam asy-Syafi’i sendiri oleh ath-Thahawi, dan diceritakan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan para Shahabat yang lainnya Radhiyallahu anhum.

Kedua: Ia dibunuh karena hadd, bukan karena kafir. Ini adalah pendapat imam Mâlik rahimahullah, asy-Syâfi’i rahimahullah , dan riwayat inilah yang dipilih oleh ‘Abdullah Ibnu Baththah.”[13]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat karena malas maka masih sah dihukumi sebagai Muslim selama tidak ada sesuatu yang menyingkap apa yang disembunyikan dalam hatinya, atau yang menunjukkan hal itu, dan ia meninggal dalam keadaan demikian itu sebelum ia disuruh bertaubat; sebagaimana hal tersebut terjadi di zaman sekarang ini. Adapun jika ia telah diberikan pilihan antara hukum dibunuh dan bertaubat dengan kembali menjaga shalatnya, lalu ia lebih memilih untuk dihukum bunuh, maka ia harus dibunuh. Dan dalam keadaan seperti ini, berarti dia mati dalam keadaan kafir, tidak boleh dikubur di pemakaman kaum Muslimin dan tidak diberlakukan hukum-hukum kaum Muslimin atasnya … karena tidak masuk akal,  ia akan memilih hukuman mati karena meninggalkan shalat –kalau bukan karena ia mengingkari kewajiban shalat dalam hatinya–, secara akal ini mustahil seseorang memilih dibunuh daripada mengerjakan shalat. Ini diketahui secara pasti dari tabi’at manusia, untuk menetapkannya tidak membutuhkan burhan (dalil).”

Sementara itu ada ulama lain yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat tidak dibunuh tetapi dipenjara seumur hidup atau bertaubat. Ini adalah pendapat az-Zuhri, Ibnul Musayyib, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Abu Hanifah, Dawud azh-Zhahiri, al-Muzani, dan Ibnu Hazm.

Tetapi perlu diingat dan dicamkan bahwa yang melakukan hukuman ini adalah ulil amri (pemerintah kaum Muslimin), tidak semua orang berhak melakukan hukuman ini.

Wajib Mengerjakan Shalat Sesuai Dengan Contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Shalat lima waktu harus dilaksanakan sesuai dengan tata cara yang dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِـيْ أُصَلِّـيْ

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.


Kita tidak mungkin bisa mengerjakan shalat sesuai dengan contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa belajar, tanpa datang ke majelis ta’lim, maupun tanpa membaca buku yang benar dan ilmiah tentang tata cara shalat. Saya anjurkan kepada pembaca sekalian untuk membaca buku Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah karena menurut penulis buku ini adalah buku terbaik dalam pembahasan sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketahuilah bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bukan sekedar mengerjakan shalat, tetapi ingat harus bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. Jangan seperti sebagian besar orang yang mengerjakan shalat tetapi shalatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Janganlah seperti orang yang lalai dan riya’, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’.” [Al-Mâ’ûn/107:4-6]


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas, “Maksudnya, (Celakalah) orang yang senantiasa mengerjakan shalat, akan tetapi mereka melalaikan shalatnya, yakni mereka tidak mengerjakan shalat pada waktunya, dan tidak menyempurnakan rukun-rukunnya. Ini dikarenakan mereka tidak memiliki perhatian terhadap perintah Allâh, dimana mereka melalaikan shalat yang merupakan ketaatan yang paling penting. Lalai dari mengerjakan shalat inilah yang menyebabkan pelakunya mendapatkan kecaman dan hinaan. Adapun lupa dalam shalat, maka ini terjadi pada setiap orang, bahkan pernah terjadi pula pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan sifat mereka bahwa mereka itu berbuat riya’, keras hatinya, dan tidak ada kasih sayangnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘yang berbuat riya’, yakni mereka mengerjakan berbagai amal perbuatan dengan tujuan agar dilihat manusia.”

Kita wajib ikhlas dan mencontoh sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat supaya shalat kita bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.  

Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah Kitab (Al-Qur-an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Ankabût/29:45]


Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Maksudnya, shalat itu mencakup dua hal. (Pertama), meninggalkan berbagai perbuatan keji dan mungkar dimana menjaganya dapat membawa kepada sikap meninggalkan hal-hal tersebut… (kedua) shalat mencakup pula upaya mengingat Allâh Azza wa Jalla , itulah pencarian yang paling besar.”


Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya shalat itu mempunyai tiga pokok. Setiap shalat yang tidak memiliki salah satu dari tiga pokok tersebut, maka itu bukanlah shalat. (Pertama), ikhlas, (kedua) khasy-yah (rasa takut disertai pengagungan terhadap Allâh Azza wa Jalla ), dan (ketiga) mengingat Allâh. Ikhlas memerintahkannya kepada yang ma’ruf, khasy-yah mencegahnya dari yang mungkar, dan mengingat Allâh adalah al-Qur-an yang memerintah dan melarangnya.”


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Shalat dikatakan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena seorang hamba yang mendirikan shalat, menyempurnakan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, khusyu’nya, maka hatinya akan bercahaya, dadanya akan bersih, imannya akan bertambah, dan bertambah kecintaannya kepada kebaikan, dan menjadi sedikit bahkan hilanglah keinginannya terhadap kejelekan. Yang terpenting, terus melakukannya dan menjaganya menurut cara seperti ini, maka shalat (yang dilakukannya itu) dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Dan ini termasuk tujuan dan buah yang paling agung dan luhur dari shalat. Dalam shalat ada maksud yang lebih agung dan lebih besar, yaitu kandungan shalat itu sendiri, berupa dzikir (mengingat) kepada Allâh Azza wa Jalla dengan hati , lisan dan anggota badan. Karena sungguh Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , sementara ibadah paling utama yang dilakukan manusia adalah shalat.


Di dalam shalat terdapat penghambaan seluruh anggota badan (kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) yang tidak terdapat pada selain shalat. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ 

… dan mengingat Allâh lebih besar (keutamaan-nya)…


Setiap Muslim wajib mengetahui bahwa thuma`ninah adalah salah satu rukun shalat. Karena itu, barangsiapa tidak thuma`ninah dalam shalatnya, maka shalatnya tidak sah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang thuma`ninah dan khusyu’ dalam shalat. Seperti dalam hadits tentang orang yang buruk shalatnya.

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فِـيْ نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ ، فَصَلَّـى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ. فَقَالَ لَـهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ، اِرْجِعْ فَصَلِّ ؛ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ (( . فَرَجَعَ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ . فَقَالَ : (( وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ، اِرْجِعْ فَصَلِّ ؛ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ )). فَقَالَ فِـي الثَّانِيَةِ أَوْ فِـي الَّتِيْ بَعْدَهَا : عَلِّمْنِـيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ! فَقَالَ: (( إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِـغِ الْوُضُوْءَ. ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ ، فَكَبِّرْ. ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ لَكَ مِنَ الْقُرْآنِ. ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا. ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّىٰ تَسْتَوِيَ قَائِمًا. ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا. ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ جَالِسًا. ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا. ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّىٰ تَطْمَئِنَّ جَالِسًا. ثُمَّ افْعَلْ ذٰلِكَ فِـيْ صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid, sementara Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah duduk di sudut masjid. Laki-laki itu shalat. Kemudian ia datang dan mengucapkan salam kepada  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wa ‘alaikas salâm, ulangi lagi shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat!” Kemudian laki-laki itu kembali dan melakukan shalat, kemudian datang lagi dan mengucapkan salam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wa ‘alaikas salâm, ulangi lagi shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Maka pada kali yang kedua atau ketiga, laki-laki itu berkata, “Ajari aku, wahai Rasûlullâh!” Beliau pun bersabda, “Apabila engkau hendak shalat, maka berwudhu’lah dengan sempurna, kemudian menghadaplah ke arah Kiblat, lalu bertakbirlah. Bacalah ayat-ayat al-Qur-an yang engkau hafal, kemudian ruku’lah sampai engkau thuma`ninah dalam ruku’, kemudian bangkitlah (dari ruku’) hingga engkau berdiri lurus, kemudian sujudlah hingga engkau thuma`ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah (dari sujud) hingga engkau thuma`-ninah dalam duduk, kemudian sujudlah hingga engkau thuma`ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah (dari sujud) hingga engkau thuma`ninah dalam duduk, kemudian lakukanlah semua itu dalam semua shalatmu.”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ: رُكُوْعِـهِنَّ، وَسُجُوْدِهِنَّ، وَمَوَاقِيْتِهِنَّ ، وَعَلِمَ أَنَّهُنَّ حَقٌّ مِنْ عِنْدِ اللهِ؛ دَخَلَ الْـجَنَّةَ ، أَوْ قَالَ : وَجَبَتْ لَهُ الْـجَنَّـةُ ، أَوْ قَالَ : حَرُمَ عَلَى النَّارِ.

Barangsiapa menjaga shalat lima waktu: ruku’-nya, sujudnya (dengan thuma’ninah), pada waktu-waktunya, kemudian ia mengetahui bahwa perintah ini benar-benar datang dari Allâh, maka ia akan masuk surga,” atau Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atasnya surga,” atau Beliau bersabda, “Ia diharamkan masuk neraka.”


Wajib Shalat Berjama’ah di Masjid Bagi Laki-Laki

Bagi  kaum lelaki, shalat lima waktu harus dikerjakan dengan cara berjama’ah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk shalat berjama’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan shalat berjama’ah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِـي الْـجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَىٰ صَلَاتِهِ فِـيْ بَيْتِهِ ، وَفِـيْ سُوْقِهِ ، خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّىٰ  لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّـيْ عَلَيْهِ مَا دَامَ فِـيْ مُصَلَّاهُ: اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْهُ ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ.

Shalat seseorang dengan berjama’ah akan dilipatgandakan 25 (dua puluh lima) kali lipat daripada shalat yang dilakukan di rumah dan di pasarnya. Yang demikian itu, apabila seseorang berwudhu’, ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian keluar menuju ke masjid, tidak ada yang mendorongnya keluar menuju masjid kecuali untuk melakukan shalat. Tidaklah ia melangkahkan kakinya, kecuali dengan satu langkah itu derajatnya diangkat, dan dengan langkah itu dihapuskan kesalahannya. Apabila ia shalat dengan berjama’ah, maka Malaikat akan senantiasa bershalawat atasnya, selama ia tetap di tempat shalatnya [dan belum batal]. Malaikat akan bershalawat atasnya, ‘Ya Allâh! Berikanlah shalawat kepadanya. Ya Allâh! Berikanlah rahmat kepadanya.’ Salah seorang di antara kalian tetap dalam keadaan shalat (mendapatkan pahala shalat) selama ia menunggu datangnya waktu shalat.’”


Dalam hadits lain, dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada shalat sendirian.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْـجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

Barangsiapa pergi ke masjid lalu kembali, maka Allâh menyediakan baginya hidangan di Surga saat dia pergi dan kembali.


Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِـيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

Barangsiapa shalat jama’ah dengan ikhlas karena Allâh selama empat puluh hari dengan mendapati takbir pertama (takbiiratul ihram), maka ia dibebaskan dari dua perkara: dibebaskan dari neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan bagi laki-laki untuk mengerjakan shalat dengan berjama’ah di masjid dan menganjurkan wanita untuk shalat di rumahnya karena bagi wanita, shalat di rumah itu lebih baik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat berjama’ah di masjid, bahkan ketika Beliau sedang sakit, hingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipapah ke masjid untuk mengerjakan shalat berjama’ah.

Masjid dibangun untuk diramaikan oleh kaum Muslimin dengan shalat lima waktu berjama’ah setiap hari dan shalat jum’at. Orang yang meramaikan shalat berjama’ah di masjid adalah orang yang beriman. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid Allâh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allâh. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. [At-Taubah/9:18]


Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid, bukan di rumah karena masjid dibangunnya untuk tujuan agar shalat berjama’ah bisa dilaksanakan di sana. Sangat disayangkan, sebagian kaum Muslimin, padahal ia termasuk donatur pembangunan masjid, pengurusnya dan bahkan termasuk para ustadznya, namun ia tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid.


Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah berkata:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَىٰ هٰؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَىٰ بِهِنَّ ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى ، وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَىٰ ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِـيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّـيْ هٰذَا الْمُتَخَلِّفُ فِـيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّـةَ نَبِيِّكُمْ ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ … وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ

Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allâh di hari Kiamat kelak dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia menjaga shalat lima waktu dimanapun ia mendengar adzan. Sungguh, Allâh telah mensyari’atkan kepada Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam  sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Shalat lima waktu termasuk sunnah-sunnah yang merupakan petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang yang tertinggal ini shalat di rumahnya (dia tidak shalat berjama’ah di masjid) niscaya kalian akan meninggalkan sunnah Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah-sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat... Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali seorang munafik, yang telah diketahui kemunafikannya.


Di zaman Sahabat, orang laki-laki yang meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udzur syar’i dimarahi dan ditegur dengan keras oleh para Sahabat Radhiyallahu anhum.

Kerasnya teguran mereka terkandung dalam ucapan ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhum, yaitu:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ

Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali orang munafik, yang telah diketahui kemunafikannya


Pada zaman para Sahabat, hanya orang munafik yang meninggalkan shalat berjama’ah. Kalau datang waktu shalat Shubuh dan ‘Isya’, mereka enggan untuk hadir shalat berjama’ah di masjid. Karena keadaan pada waktu keduanya gelap, berbeda dengan shalat yang dilakukan di siang hari, mereka ikut berjama’ah karena riya’ (pamer).

Konsekuensi yang terkandung dalam hal tersebut adalah jika ada kepentingan rapat, kerja, dan kesibukan yang lainnya, maka tinggalkanlah pekerjaan itu untuk sementara. Lalu kerjakanlah shalat terlebih dahulu! Laki-laki mengerjakan shalat berjama’ah di masjid sedangkan wanita mengerjakan shalat di rumah.

 

Inilah anjuran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Mengerjakan shalat berjama’ah tidak memakan waktu lama, hanya 10 menit, tidak lebih lama dari waktu berdagang, kerja, kuliah, dan makan.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَلَا يُـحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Dan tidaklah menjaga wudhu’  melainkan seorang Mukmin

Tidak ada yang dapat menjaga wudhu dan shalat dengan terus menerus kecuali orang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla danRasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa saallam. Disebut dalam hadits ini syarat shalat yaitu bersuci (berwudhu). Seorang Mukmin wajib berwudhu ketika hendak shalat dan ini sebagai syarat sah shalat. Jika dia tidak berwudhu kemudian dia shalat, maka shalatnya tidak sah.


Di dalam hadits ini terdapat perintah agar istiqamah di atas iman dan tauhid serta mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla semata dan melaksanakan ibadah dengan istiqâmah sampai meninggal dunia.

Iman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak sempurna kecuali dengan istiqâmah, yaitu istiqâmah dalam tauhid kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Derajat istiqâmah sangat tinggi yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang.

Istiqâmah sangat berat, namun Allâh mudahkan bagi orang-orang yang ikhlas bertauhid dan kontinyu dalam ketaatan.

Sebaik-baik amal yaitu yang dilaksanakan dengan kontinyu, terus menerus, meskipun sedikit.

Diperintahkan untuk berlaku tepat sesuai kebenaran.

Wajib untuk berusaha berpegang kepada kebenaran yang bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Wajib bagi setiap Muslim untuk melakukan amal-amal shalih dengan ikhlas dan ittiba’.

Seorang Muslim harus memilih yang terbaik dan yang mampu dia laksanakan dari sekian banyak amal shalih.

Sebaik-baik amalan atau perbuatan seorang Mukmin adalah shalat.

Shalat adalah tiang agama, cahaya seorang Mukmin dan penyejuk hati seorang Mukmin.

Seluruh amal, baik dan buruknya tergantung dari tauhid dan shalatnya.

Hubungan seorang hamba dengan Allâh Azza wa Jalla yang pertama kali dihisab adalah shalatnya.

Wajib mengerjakan shalat lima waktu dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Wajib mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya.

Wajib mengerjakan shalat dengan khusyu’ dan thuma`ninah.

Wajib bagi laki-laki mengerjakan shalat yang lima waktu berjama’ah di masjid.

Wajib menjaga wudhu dan shalat dengan terus menerus sampai wafat.

Orang yang tidak melakukan shalat lima waktu maka dia telah berbuat dosa besar yang lebih besar dari zina, minum khamr, dan lainnya.

Ulil amri (pemerintah) wajib memerintahkan rakyatnya untuk shalat dan memberi sanksi hukuman yang berat bagi orang yang meninggalkan shalat lima waktu.


MARAAJI’:

Tafsîr Ibni Katsîr

Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannâ

Kutubus Sittah dan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.

Ash-Shalâh wa Hukmu Târikihâ karya Imam Ibnul Qayyim.

Majmû’ Fatâwâ Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah.

Sifat Wudhu dan Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karya penulis, Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Dan lainnya..


Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 19 Desember 2021

“AT-TAGABUN AYAT 2”

At-Tagābun Ayat 2

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَّمِنْكُمْ مُّؤْمِنٌۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ (٢)

Terjemah :
Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu (juga) ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

• Tafsir Ringkas Kemenag :
Dialah yang menciptakan kamu dalam bentuk yang sebaik-baiknya, lalu di antara kamu ada yang kafir, karena mengikuti hawa nafsu; dan di antara kamu juga ada yang mukmin, karena Allah memberikan petunjuk dan manusia menggunakan akal dan nuraninya. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan sehingga tidak satu pun perbuatan manusia yang tidak diketahui-Nya.

• Tafsir Kemenag :
Ayat ini menerangkan bahwa Allahlah yang menciptakan semua yang ada menurut kehendak-Nya. Allah berfirman:

Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. (az-Zumar/39: 62)

Pada dasarnya manusia ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah, tetapi sebagian dari manusia itu memilih kekafiran yang bertentangan dengan fitrahnya dan sebahagian lagi memilih iman sesuai dengan tuntutan fitrahnya, sebagaimana sabda Nabi saw:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Maka kedua orang tualah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Andaikata manusia itu mau memikirkan kejadiannya dan kejadian yang ada di alam raya ini, pasti cukup menjadi jaminan bagi manusia untuk kembali kepada yang hak dengan memilih iman, dan mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Akan tetapi, manusia itu tidak sadar dan insaf atas semuanya itu, sehingga terjadilah perpecahan, mengingkari Tuhan yang menciptakannya, serta nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Selayaknya manusia itu menginsafi bahwa Allah melihat segala yang dikerjakannya, dan di akhirat nanti dia akan diberi balasan terhadap semua itu. Yang baik dibalas dengan surga, sedangkan yang jahat dibalas dengan siksaan dan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam, sejahat-jahat tempat kediaman, sebagaimana Allah berfirman:

Sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (al-Furqan/25: 66)


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“SAHABAT FILLAH”

Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal terbaik, termahal dan tercantik yg kita miliki atau dari hal-hal terindah yg selalu kita impikan..

Akan tetapi, kebahagiaan datang dari cara kita menyikapi apa yg kita miliki..

Syukurilah..

maka kebahagiaan itu akan datang..

Nikmatilah tanpa mengeluh, sebab boleh jadi apa yg kita keluhkan adalah kenikmatan yg diharapkan orang lain

Syukurilah..

karna syukur adalah kunci kekayaan hidup..

Syukur akan mengubah apa yg kita miliki menjadi cukup & mengubah tamak jadi qonaah

Mari kita belajar tuk menjadi bahagia dengan sederhana

Tersenyumlah tuk menyingkirkan duka dari diri kita & dari orang-orang disekeliling kita

Tersenyumlah, sebab bukan kita saja yg punya masalah dalam hidup ini..

Disana ada banyak orang yg kehidupannya mungkin jauh lebih susah dari kita, namun mereka memilih diam dan menyepi dalam munajat..

Jangan lupa semangat..

Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Sabtu, 18 Desember 2021

“SEMUA BERUBAH KARENA GADGET”

1. Dulu, kebersamaan begitu Indah. Suami istri bisa saling menatap wajah, tapi sekarang semua berubah karena Gadget. Saat menatap wajah, ternyata pasangan Anda sedang menatap gadget.

2. Saat makan bersama, dulu bisa saling bercakap-cakap. Kini, semua berubah...! Tangan kanan pegang sendok, tangan kiri pegang Gagdet.

3. Saat bersama di ruang tamu. Dulu, saling bertanya kabar antar anggota keluarga. Sekarang...? Anak main game di Tablet, Ayah sibuk melayani klien di WhatsApp dan Ibu sedang asyik bersosialita di Facebook.

4. Saat berada di dalam mesjid, dulu bisa khusyu mendengar pengajian. Tak ada yang dirisaukan. Sekarang...? Duduk bersila di depan ustadz, wajah menunduk, mata serius menatap gagdet dan tangan sibuk mengetik keypad...!

5. Saat berada di dalam kamar, harusnya bisa asyik becanda dengan pasangan. Tapi sekarang...? Yang satu menghadap tembok dengan tangan meraba screen gagdet, yang satu lagi juga melakukan hal yang sama.

6. Saat silaturahim ke rumah saudara, dulu bisa becanda ketawa ketiwi. Sekarang...? Meski perjalanan jauh sudah ditempuh, sampai tiba di lokasi juga dihabiskan waktu untuk sibuk dengan gagdet sendiri.

7. Bertamu di rumah orang, dulu disambut dengan wajah ceria dan bahagia, ramah bisa ngobrol banyak hal. Sekarang...? bertamu di rumah orang, disambut dengan membalas sms, menerima telepon dan whatsap-an, sembari sekedar menjawab obrolan kita dengan..."oh gitu ya iya... Oh, bener itu Oh.” Garing...!

8. Sehabis sholat, dulu bisa tenang dan khusyu berzikir. Hati bisa connect ke Allah langsung. Kini...? Setelah salam, langsung merogoh saku, gagdet pun dikeluarkan.

9. Dulu, saat pasangan curhat soal hatinya dan pikiran siap mendengarkan. Sekarang...? Saat pasangan curhat, konsentrasi pada gadget, sedangkan telinga pura-pura mendengar.

10. Saat anak mengeluh sesuatu, dulu kita jongkok memposisikan wajah kita tepat di wajahnya. Anak merasa disayang dan diperhatikan. Sekarang...? "Aduuhh nak...ibu sedang sibuk, masa gitu saja ngeluh sih..." Sembari ngetik obrolan di sosmed.

Bagaimana dengan kita...?


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Rabu, 15 September 2021

“ALLAH SANGAT CEMBURU BILA SESEORANG BERBUAT MAKSIAT”

 عن أبي هريرةَ رضي الله عنه عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((إنَّ الله تَعَالَى يَغَارُ، وَغَيرَةُ الله تَعَالَى، أنْ يَأتِيَ المَرْءُ مَا حَرَّمَ الله عَلَيهِ)). متفق عَلَيهِ.

“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda; ‘sesungguhnya Allah SWT cemburu.
Dan kecemburuan Allah terjadi jika seorang hamba mendatangi (melakukan) sesuatu yang telah diharamkan baginya’
(HR. Bukhari)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Jika seseorang berbuat maksiat (sesuatu yang telah diharamkan baginya), Allah sangat cemburu padanya.

2- Tanpa adanya muraqabah, seseorang memiliki presentase jatuh pada kemaksiatan lebih besar.

3- Melatih diri untuk ‘menjaga’ perintah dan larangan Allah SWT, dimanapun dan kapanpun ia berada, karena hal ini akan menumbuhkan sikap muraqabah dalam jiwa kita.

4- Bagaimanapun juga, Allah pasti akan melihat, mendengar dan mengetahui segala gerak gerik kita, meskipun kita sendiri mungkin tidak menyadari hal tersebut. Namun waktu terus berjalan, menuju ajal dan kematian kita, sementara kita masih bergelimang dengan kemaksiatan. Sebuah pertanyaan yang menggetarkan hati muncul, ‘ akankah kita membiarkan diri kita terjerumus dalam neraka, dengan kemaksiatan yang kita lakukan?’ Ataukah kita akan memperbaiki diri dengan bermuraqabah kepada Allah agar kita jauh dari kemaksiatan dan dekat pada ketaatan hingga kita dapat menggapai ridha-Nya? Jawaban pertanyaan ini, ada dalam diri kita masing-masing.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Kebersamaan Allah dengan diri kita.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير
ٌ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(Al-Hadid:4)

2- Pengetahuan Allah tentang sesuatu yang tidak diketahui makhluknya

قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاََ تَعْلَمُون
َ
" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Al-Baqoroh:30)

3- Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada dihadapan manusia maupun dibelakangnya

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء
َ
“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.”
(Al-Baqarah:255).


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 27 Juni 2021

“KEUTAMAAN SHOLAWAT DALĀILUL KHOIRÔT”

 1. Keutamaan mengamalkan Dalāilul Khoirôt yang sangat masyhur dikalangan para pengamal wirid ini adalah cepatnya terkabul hajat yang diinginkan oleh para pembacanya, namun meski begitu hendaknya para pengamal Dalāilul Khoirôt dalam membaca wirid ini bertujuan murni mencari ridlo Allâh dan mendekatkan diri kepada Allâh tanpa mengharap pamrih apapun yang bersifat duniawi.

2. Mbah Kyai Hamid Pasuruan dawuh: siapa yang membaca kitab Dalāilul Khoirôt sehari satu hizib insya Allâh ruhnya wāsil atau tersambung pada hadirat Nabi Muhammad ﷺ, mendapatkan bagian dari akhlak, ilmu dan sirr baginda Nabi Muhammad ﷺ

3. Pesan dan wasiat Abah Guru Sekumpul: Teman terbaik mempersiapkan hari-hari tua adalah dengan memperbanyak membaca al-Qur'an dan mengamalkan shalawat Dalāilul Khoirôt setiap harinya, sebab amalan tersebut merupakan amaliyah para wali besar dan orang-orang shaleh pada zaman dahulu. Dan, ketika mulai memasuki usia 40 tahun, hendaknya mulai menyibukkan diri bergelut membaca al-Qur'an serta mengamalkan shalawat harian Dalāilul Khoirôt setiap harinya

4. Dalam kitab Syihabul Millah disebutkan: orang yang ahli wirid Dalāilul Khoirôt disamping mendapatkan ganjaran akhirat, dunianya akan diberi kemudahan

5. Dalam kitab yang sama: orang yang ahli wirid Dalāilul Khoirôt jika sudah 4 tahun bisa tetap (istiqomah) maka akan keluar madunya dan mudah mata pencahariyannya

6. Habib Abdurrahman Bil-Faqih Malang dawuh: bagi yang istiqomah mengamalkan Dalāilul Khoirôt, jika ada hajat cukup dia membaca Fatihah untuk Imam Jazuli dan Rasulullah satu kali kemudian berdoa : "Yā Allâh dengan Barokah Dalāilul Khoirôt saya minta..."

7. Mbah Kyai Mahrus Ali Lirboyo dawuh: Barang siapa yang melanggengkan sholawat Dalāilul Khoirôt jika jadi kyai insya Allah jadi kyai sungguhan, jika jadi ahli hikmah insya Allah jadi ahli hikmah sungguhan (suwuknya manjur) dan jika jadi kaya maka insya Allâh jadi kaya sungguhan.

8. Mbah Kyai Idris Marzuqi Lirboyo dawuh: Wirid yang masyhur dan utama bagi santri selain membaca Al-Qur'an adalah Sholawat Dalāilul Khoirôt.

9. Mbah Kyai Idris Marzuqi dawuh: Yang lebih afdhâl (ampuh) ijazah dalail diulangi 7 kali pada 7 guru atau digurukan 7 kali pada 1 guru.

10. Mbah Kyai Idris Marzuqi dawuh: orang yang ahli membaca sholawat, anaknya dan keturunannya mudah menjadi orang baik, sholih akhlaknya, dan tingkah lakunya, kecerdasannya itu lain

11. Mbah Kyai Idris Marzuqi dawuh: Sebenarnya bagi para alumni santri Lirboyo mengamalkan sholawat Dalāilul Khoirôt adalah berarti mengamalkan ilmu dari pondok pesantren Lirboyo karena mulai dari Mbah Kyai Abdul Karim, Mbah Kyai Marzuqi, Mbah Kyai Mahrus, itu tidak lepas sehari-harinya dari sholawat Dalāilul Khoirôt

12. Kyai An'im Falahuddin Lirboyo dawuh: Bila akan ceramah sebaiknya membaca do'a Dalāilul Khoirôt 3× ( dari KH. Mahrus Ali) insya Allâh lancar dan akan keluar materi-materi pidato dari hati kita

13. Kyai An'im Falahuddin dawuh: Ketika membaca do'a  Dalāilul Khoirôt, pada lafadz (وَاقْضِ بِهَا دُيُوْنَنَا) dibaca 41× tanpa nafas atau dibaca 125× dengan bernafas.

14. Kyai An'im Falahuddin dawuh: Bila istri hamil sebaiknya dibacakan Dalāilul Khoirôt setiap malam Jum'at atau hari Jum'at 1 majelis 1 khataman kemudian berdoa dan ditiupkan pada pusar istri insya Allâh bila jabang bayi lahir akan menjadi anak yang tampan atau cantik dan pintar

15. Jika sedang wirid dalail sampai pada wiridan hari selasa lafadz (يَا الله dibaca 8×), dan pada wiridan hari senin lafadznya (...يَا الله) kamu berhenti dan minta apa hajatnya (maqom mustajab)

16. Jika memiliki hajat yang besar seperti mendatangkan orang minggat, melamar wanita, cepat jodoh dll. Maka baca fatihah kepada orang yang dimaqsud lalu baca Dalāilul Khoirôt khatam pada 1 majelis pada waktu tengah malam lalu tawassul kepada Syekh Muhammad bin Sulaiman al Jazuli seperti dibawah ini :

اللّهُمَّ إِنِّي أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِوَلِيِّكَ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَان الْجَزُوْلِي صَاحِبِ دَلَائِلِ الْخَيْرَاتِ بِحُرْمَةِ جَمَالِكَ الْبَاقِي وَوَجْهِكَ الْأَعْظَمِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَقْضِيَ حَاجَتِي يَا اللهُ يَا رَبِّي آتِنِي مَا سَأَلْتُكَ (.............) يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ آمِين.

17. Bila ingin naik haji tapi tidak cukup biaya maka baca Dalāilul Khoirôt 1× khatam pada waktu tengah malam selama 41 hari lalu tawassul kepada syekh Muhammad bin Sulaiman al Jazuli seperti di atas tadi. Jika belum berhasil hajatnya maka ulangi lagi sampai hajatnya berhasil. Wallôhu A'lam

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Jumat, 25 Juni 2021

“AMALAN - AMALAN HARI JUM'AT”

 ▪️ Mari kita perbanyak bershalawat dan mari kita selesaikan membaca Al Kahfi...

.
▪️ Mari jadikan hari jumat kita hidup dengan melaksanakan Sunnah2 di hari Jumat...
.
Berikut ini beberapa amalan istimewa dihari Jum'at
.
1. Membaca surat al-Kahfi pada malam Jum'at. Bila tidak sempat membacanya di malam hari boleh membacanya disiang hari.
(HR. Ad-Darimi, An-Nasa'i, Al Hakim)
.
2. Membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan secara sempurna pada dua rakaat shalat Shubuh.
(HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)
.
3. Memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ.
(HR. Abu Dawud)
.
4. Wajib bagi laki-laki melaksanakan shalat Jum'at.
(Lihat: Syarh al-Mumti': 5/7-24)
.
5. Dianjurkan mandi besar.
(HR. Muslim)
.
6. Memakai wewangian, bersiwak atau menggosok gigi, serta mengenakan pakaian yang paling baik.
(HR.Ahmad)
.
7. Berangkat lebih awal menuju masjid.
(HR. Muttafaqun 'alaih)
.
8. Saat menunggu kedatangan imam dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan shalat, membaca shalawat, dzikir maupun membaca Al-Qur'an.
.
9. Dianjurkan mendekat kearah khatib untuk mendengarkan khutbah.
(HR. Abu Dawud)
.
10. Dianjurkan juga menghadapkan wajah ke arah khotib saat khutbah sedang berlangsung.
(HR. Abdurrazzaq dan Al-Baihaqi)
.
11. Wajib mendengarkan khutbah dengan seksama. Bagi siapa saja yang sibuk sendiri baik dengan bermain kerikil, berbicara, (mengotak-atik hp dll) pada saat khutbah sedang berlangsung, maka jum'atnya sia-sia.
(Muttafaqun 'Alaih)
.
12. Saat masuk masjid disunnahkan mengerjakan shalat dua rakaat terlebih dahulu sebelum duduk mendengarkan khutbah. Hal ini berlaku meskipun khotib sedang menyampaikan khutbah.
(HR. Muslim)
.
13. Setelah menunaikan sholat jum'at disunnahkan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat atau empat rakaat dengan dua kali salam.
(HR. Muslim)
.
14. Berdoa di penghujung hari Jum'at.(Muttafaqun 'Alaih)


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Kamis, 24 Juni 2021

“TIRULAH RASUL DALAM MELURUSKAN KESALAHAN ORANG”

Wahai saudaraku,

ketika engkau memurtadkan saudaramu sesalam muslim, tanyakanlah kepada dirimu sendiri, "Kira-kira, manakah yang lebih baik, Dirimu atau Nabi Musa?" Jawabanmu pastilah, "Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya.”

Lalu tanyakanlah pertanyaan kedua, "lalu, siapakah menurut pendapatmu yang lebih jahat, orang yang kau murtadkan atau Firaun?" Tentu jawabanmu adalah, "Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada orang yang saya murtadkan."

Maaf, saudaraku.
Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia mengaku Tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa, malah telah merebus hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta susuannya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah lembut kepada si zalim itu. Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran Surat Thoha ayat 44 tersebut?" "Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mau ingat dan menjadi takut kepada Allah." (QS Toha : 44)

Karena itu,  Menegurlah  orang yang salah dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama? Lantaran Tuan (saudara) tidak sebaik Nabi Musa dan orang yang tuan murtadkan tidak sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunya Al-Quran lain yang memuat ayat 44 surat Thaha itu?"

Saudaraku,..
Hatimu mungkin tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk dengan kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya, perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang.
Kutiplah surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi : "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik.

Jika seseorang melihat bahwa ada saudaranya sesama muslim menyimpang, mengapa ia tidak menyayangi saudaranya dengan meluruskannya ?
Tidak hanya berkoar memurtadkan orang lain, sementara ia sendiri tidak melakukan perbaikan.

Seyogianya seseorang tidak mencampur adukkan pendapat pribadi pada hal-hal yang menjadi hak prerogatif Allah.
Pengafiran dan pemurtadan adalah hak prerogatif Allah, bukan hak manusia. Tahanlah ucapan-ucapanmu dari hamba-hamba Allah, yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberikan peringatan. Engkau tidak bersekutu dengan Allah dalam kerajaan-Nya, juga tidak bersekutu dalam surga dan neraka-Nya. Engkau tidak mempunyai kuasa terhadap-keputusan Allah dan terhadap hamba-hamba-Nya.

Sebelum seorang menggenggam surga dan neraka di kedua tangannya, ia tidak boleh memberikan status kafir atau murtad kepada sesama muslim.

Wallahu a'lam
Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya, Aamiin


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Senin, 14 Juni 2021

“BENTUK IBADAH SAAT MENDAPAT NIKMAT”

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وأما عبودية النعم فمعرفتها والاعتراف بها أولا،  ثم العياذ به أن يقع في قلبه نسبتها وأضافتها إلى سواه وإن كان سببا من الأسباب،  فهو مسببه ومقيمه،  فالنعمة منه وحده بكل وجه واعتبار،  ثم الثناء بها عليه ومحبته عليها وشكره بأن يستعملها في طاعته

Adapun bentuk ibadah ketika mendapat kenikmatan adalah:

🔗 Pertama, meyakini dan mengakui bahwa itu adalah suatu kenikmatan.

🔗 Kemudian, berlindung kepada Allah agar tidak terbetik dalam hatinya untuk menyandarkan nikmat tersebut kepada selain-Nya, meskipun hal itu adalah sebab. Dialah Allah yang menakdirkannya sebagai sebab.
Semua nikmat hanya berasal dari-Nya semata dari segala sisi.

🔗 Selanjutnya adalah memuji, mencintai, dan bersyukur kepada Allah; dengan menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya

ومن لطائف التعبد بالنعم أن يستكثر قليلها عليه، ويستقل كثير شكره عليها،  ويعلم أنها وصلت إليه من سيده من غير ثمن بذله فيها،  ولا وسيلة منه توسل بها إليه،  ولااستحقاق منه لها،  وأنها لله فى الحقيقة لا للعبد،  فلا تزيده النعم إلا انكسارا وذلا وتواضعا ومحبة للمنعم

Di antara bentuk keindahan ibadah saat mendapatkan kenikmatan adalah dia menganggap bahwa sedikit nikmat yang dia dapatkan sudah terasa banyak. Demikian pula dia menganggap bahwa banyaknya rasa syukur yang dia lakukan, masih terasa sedikit.

🔗 Dia menyadari bahwa nikmat dari Allah tersebut sampai kepadanya dengan cuma-cuma; tanpa dia menempuh suatu sarana untuk memperolehnya; dan dia tidak pula merasa sebagai pihak yang berhak untuk mendapatkannya.

🔗 Dia memahami bahwa nikmat tersebut hakikatnya adalah milik Allah, bukan kepunyaan hamba. Oleh sebab itu, tidaklah nikmat bertambah kepadanya melainkan bertambah pula kerendahan, penghambaan, tawadhu, dan rasa cintanya kepada Dzat Pemberi Nikmat.

وكلما جدد له نعمة أحدث لها عبودية ومحبة وخضوعا وذلا،  وكلما أحدث له قبضة أحدث له رضى،  وكلما أحدث ذنبا أحدث له توبة وانكسارا واعتذارا،  فهذا هو العبد الكيس،  والعاجز بمعزل عن ذلك

🔗 Setiap kali ada nikmat yang baru, dia menambah ibadah, cinta, ketundukan, dan kerendahan kepada-Nya.

🔗 Setiap ada nikmat yang dicabut, dia munculkan rasa ridha kepada-Nya.

🔗 Setiap kali melakukan dosa, dia mempersembahkan tobat, sangat menyesal, dan memohon ampun kepada-Nya.

Inilah hamba yang cerdas. Adapun orang yang lemah, jauh dari bayangan untuk bisa melakukan semua itu.

Al-Fawaid,  hlm. 164-165


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“MAKA LARILAH KEPADA ALLAH”

Orang yang bertaubat itu berada

diantara harapan dan ketakutan...
diantara kebahagiaan dan kesengsaraan...
diantara keselamatan dan kehancuran...

Jika melihat api yang berkobar, 
gemetarlah ia takut dicampakkan ke dalam neraka...
Jika petir menyambar, 
terguncanglah hatinya karena takut kepada Allah Ta'ala...

Jika melihat orang yang asyik berbuat dosa, 
ia menangis karena teringat akan dosa-dosanya...
Jika melihat berbagai kenikmatan, 
ia khawatir jika kelak diharamkan dari kenikmatan Surga...

Mereka dapat mengecap manisnya ketaatan...
mampu merasakan kenikmatan dalam beribadah...
mampu memetik kelezatan dalam setiap titisan iman dan lembutnya penerimaan...

Menjadi kurus badannya karena sering berpuasa, 
dan kedua kakinya kelelahan karena banyak shalat...

Ia selalu disertai rasa takut terus-menerus, 
dan tidak pernah merasa aman dari adzab Allah walaupun hanya sekejap mata, sehingga Allah pun mengangkat kedudukannya di sisi-Nya...

Saudaraku, 
janganlah melihat kepada kecilnya suatu dosa, tapi lihatlah kepada keagungan Allah Ta'ala yang engkau telah bermaksiat kepada-Nya...

Jangan lebih merasa takut kepada manusia dibandingkan takut kepada Allah...
Jangan lebih merasa malu di mata manusia dibandingkan malu di mata Allah...
Jangan lebih merasa berharap kepada manusia dibandingkan berharap kepada Allah...

Lisan terpelihara, tetapi hati selalu berbuat dosa...
Lisan selalu memuji Allah, namun hati selalu berpaling dari-Nya...

Allah Ta'ala berfirman :

"Maka larilah (kembalilah) kepada Allah".
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 50)

lari dari hawa nafsu...
lari dari maksiat...
lari dari dosa-dosa...
lari dari fitnah syahwat...
lari dari syaithan...
lari dari jiwa yang buruk...
lari dari fitnah dunia...
lari dari fitnah harta...
lari dari fitnah kedudukan...
lari dari dosa syirik...
lari dari dosa bid'ah...
lari dari semua itu menuju Allah...

Betapa agung dan sayangnya Allah...
Dia membiarkan hamba-Nya melakukan dosa dan kesalahan, sedangkan Dia mengetahui dan melihat...
Dia memberi kesempatan hamba-Nya bertaubat, 
dan tetap memberinya nikmat dan rahmat...

Ketahuilah...

Tanda hamba itu diterima taubatnya adalah ia :

- semakin cinta kebaikan dan benci kejelekan...
- mudah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya...
- bertambah takut di hati jika kembali kepada dosa...
- tidak pernah merasa aman dari adzab Allah...
- menghadap Allah dengan khusyu' dan hina dengan perasaan hancur lagi cepat meneteskan air mata...

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

"Taubat asal-asalan yaitu mata kering hingga tidak bisa menangis, lalai terus-menerus dan pelakunya tidak melakukan amal-amal shalih yang tidak ia kerjakan sebelum bertaubat."

(Madaarijus Saalikin hal 125)

Semoga Allah menerima taubat kita...

Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya
Barakallah fikum.


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 13 Juni 2021

“MEMBACA ALFAAAAAAATIHAH SETELAH DOA”

Adakah tuntunan membaca Al Fatihah setelah doa (berdoa)?

Seperti ini masih jadi ajaran yang terus laris manis di tengah kita, namun kita belum mengetahui dasarnya. Segala sesuatu pokoknya diakhiri Al Fatihah, apa-apa ujungnya Al Fatihah.

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia) pernah diajukan ▪️pertanyaan :
Apa hukum membaca Al Fatihah ditujukan pada ruh si fulan, atau membaca Al Fatihah dengan tujuan agar Allah memudahkan suatu urusan? Ada juga yang mengadakan milad lantas setelahnya membaca Al Fatihah, atau setelah membaca Al Quran ditutup lagi dengan membaca Al Fatihah bersama para hadirin. Juga ada kebiasaan di sebagian tempat sebelum nikah pun membaca Al Fatihah lebih dulu. Bagaimana hukum hal ini?

Jawab ulama Lajnah Ad Daimah, “Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan pada Rasul-Nya, keluarga beserta sahabatnya.
Membaca Al Fatihah setelah berdoa, setelah membaca Al Quran, atau sebelum menikah, termasuk amalan yang tidak dianjurkan. Amalan seperti itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 8946, soal kedelapan)

Semoga kita bisa lebih meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal.

Ayyub As Sikhtiyani berkata,

وَمَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْدًا

“Tidaklah seseorang semakin semangat dalam amalan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam, melainkan ia akan semakin jauh dari Allah.” (Al I’tishom, 1: 138).

Hanya Allah yang memberi taufik.
—
Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 28 Dzulhijjah 1435 H
Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“SEKELUMIT TENTANG THORIQOH (TAREKAT)”

PENDAHULUAN

Thoriqoh ( Tarekat ) menurut lughot mempuyai arti jalan. Sedangkan menurut istilah Tashawwuf: Thoriqoh bisa diartikan jalan yang ditempuh seorang hamba ( al-‘abdu ) menuju Ridho Allah SWT. Ada pula yang mempersempit pengertian Thoriqoh dengan mendefinisikannya sebagai jalan menuju Ma’rifat billah.

Melihat definisi diatas, maka jelas sekali bahwa pengertian Thoriqoh sangat luas. Thoriqoh tidak hanya dengan berdzikir saja, atau dengan berbagai bentuk wiridan saja, namun bisa juga dengan berbagai bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. sang pencipta alam semesta. Bisa berupa wirid, dzikir, puasa, ta’lim (mengajar), ta’allum (belajar) dan berbagai bentuk amal kebajikan lainnya (lihat Salalimul Fudlola’).

HADITS TENTANG SANAD TAREKAT

Mubaya‘ah (atau talqin dzikir) dalam dunia tarekat shufi dianggap tidak ada oleh sebagian orang. Dia berkeyakinan bahwa mubaya‘ah hanya bisa dilakukan oleh Rasulullah dan para khalifahnya. Sehingga apa yang dilakukan oleh mursyid tarekat yang mentalqin dzikir muridnya adalah tidak benar serta tidak sesuai dengan apa yang dilakukan pada zaman Rasulullah.

Sanad tentang dzikir tarekat juga menjadi kritikan dan hinaan mereka, orang-orang Wahhabi. Mereka menganggap bahwa tidak ada hadits tentang talqin dzikir atau mengenakan pakaian sederhana simbol shufi (lubsu al-khirqah), sebagai simbol seseorang yang sudah masuk dalam dunia shufi, yang dapat dibuat hujjah. Pernyataan bahwa tidak ada hadits yang dapat dijadikan hujjah tersebut mengutip dari pernyataan mayoritas para ahli hadits.

Perlu diketahui oleh mereka, mubaya’ah (baiat) dalam arti talqin dzikir dari seorang guru mursyid kepada muridnya bukan mubaya’ah (janji setia) seperti yang dilakukan oleh Rasulullah kepada shahabat-shahabatnya dalam Bai‘at ar-Ridhwan, atau baiatnya seorang rakyat kepada imam atau kepala Negara terpilih seperti baiatnya para shahabat yang mengangkat Sayyidina Abu Bakar menjadi khalifah Rasulullah. Sebab, mubaya’ah dalam tarekat shufi adalah bentuk talqin dzikir seperti yang dilakukan Rasulullah yang mentalqin dzikir para shahabatnya. Adapun mubaya’ah para shahabat yang baru saja disinggung di atas adalah mubaya’ah janji setia menjalankan Islam atau janji setia dan tunduk patuh kepada imam terpilih.

Sanad hadits tentang bai’at tarekat adalah hadits riwayat dari Hasan al-Bashri yang berbaiat dzikir dari Sayyidina Ali dari Rasulullah (dalam ilmu tasawuf disebut talqin zikir) dan sanad hadits tentang lubsul khirqah (berperilaku sebagai shufi yang bersimbol dengan pakaian sederhana) juga diriwayatkan dari Hasan al-Bashri dari Ali, hanya saja kedua hadits tersebut tidak pernah disebutkan dalam kitab hadits manapun, sehingga banyak para ahli hadits yang ingkar dan menilainya bathil. Penilaian para ahli hadits tersebut terletak pada masalah apakah Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali atau tidak. Dan menurut sebagian ahli hadits, keduanya tidak pernah bertemu. (Sanad talqin dzikir dari Hasan al-Bashri tersebut adalah talqin dzikir oleh Rasulallah kepada Sayyidina Ali secara sendirian. Sedangkan sanad talqin dzikir secara bersama-sama adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabarani dan lain-lain dengan sanad hasan. Lihat Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hlm. 11. Hadits talqin tersebut sebagaimana dikatakan asy-Sya'rani adalah diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf al-Ajami, seorang syaikh tarekat, dalam salah satu risalahnya yang disebutkan dengan sanad yang muttasil sampai Sayyidina Ali.).

Namun, sebenarnya hadits tentang dua masalah tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan muridnya, as-Suyuthi adalah hadits yang shahih (muttasil) dan perawinya tsiqah-tsiqah. Artinya juga bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dan itu adalah pendapat yang shahih. (Lihat hujjah-hujjah as-Suyuthi dalam membela pendapat bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dalam al-Hawi lil Fatawi 2/96-98.dan Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hal 12 dan 24.)

TAREKAT MU`TABAROH

Menurut keputusan Mu’tamar Thoriqoh Mu’tabaroh, bahwa Thoriqoh- Thoriqoh Mu’tabaroh hanya ada sekitar 43 (empat puluh tiga) Thoriqoh yaitu :

1. العمرية 2. النقشبندية 3. القادرية 4. الشاذلية

5. الرفاعية 6. الأحمدية 7. الداسوقية 8. الأكبرية

9. المولوية 10. الكبروية 11. السهروردية 12. الخلوتية

13. الجلوتية 14. البكداسية 15. الغزالية 16. الرومية

17. السعدية 18. الجشتية 19. الشعبانية 20. الكلشانية

21. الحمزاوية 22. البيرامية 23. العشاقية 24. البكرية

25. العيدروسية 26. العثمانية 27. العلوية 28. العباسية

29. الزينية 30. العيسوية 31. البحورية 32. الحدادية

33. الغيبية 34. الخضرية 35. الشطارية 36. البيومية

37. الملامية 38. الأويسية 39. الإدريسية 40. أكابرالأولياء

41. المبتولية 42. السنبلية 43. الخالدية والنقشبندية

44. أهل ملازمة القران والسنة ودلائل الخيرات وتعليم فتح القريب او كفاية العوام

Dan lain sebagainya.

Secara garis besar Thoriqoh Mu’tabaroh adalah Thoriqoh yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Mempunyai sanad yang muttasil kepada Rasulullah SAW. (Tanwirul Qulub)

2. Tidak bertentangan dengan Syara’.

3. Mursyidnya ( Gurunya ) sudah memenuhi kriteria, antara lain:

a. Menguasai Ilmu Fiqh dan Ilmu Aqidah.

b. Mengetahui seluk beluk Ilmu Tashawwuf.

c. Mempunyai Akhlaq yang sempurna lahir dan batin.

d. Mendapatkan izin atau ijazah dari Gurunya.

TENTANG THORIQOH NAQSYABANDIYAH

( Oleh Imam Nawawi )

Dari segi historis, Tarekat Naqsyabandi dapat ditelusuri kembali kepada Khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq RA, yang menggantikan Rasulullah SAW dalam hal pengetahuannya dan dalam hal membimbing umat Muslim. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an, “Dialah orang kedua dari dua orang yang berada di dalam gua, dan ia berkata kepada temannya, janganlah bersedih hati, karena Allah SWT beserta kita” [QS. At-Taubah:40]. Tentang beliau, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seandainya Aku akan memilih seorang teman yang kucintai, maka Aku akan memilih Abu Bakar RA sebagai temanku tercinta, namun beliau adalah saudara dan sahabatku.”

Yang membedakan Tarekat Naqsybandi dengan jalan Sufi yang lain adalah kenyataan bahwa ia memakai dasar-dasar serta prinsip-prinsip dari ajaran-ajaran dan contoh dari enam bintang cemerlang dalam khazanah Rasulullah SAW. Keenam sosok itu adalah: Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Salman al-Farisi RA, Ja’far ash-Shadiq AS, Bayazid Tayfur al-Bistami QS, ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, dan Muhammad Baha’uddin Uwaysi al-Bukhari QS, yang dikenal sebagai Syah Naqsyband QS—Imam dari tarekat ini.

Di balik kata “Naqsyaband” terdapat dua gagasan: naqsy yang berarti ‘mengukir’ dan mengandung pengertian mengukir Nama Allah SWT di dalam hati, dan band yang mengandung pengertian ‘ikatan’ dan mengindikasikan ikatan antara individu dengan Penciptanya. Ini berarti bahwa para pengikut Naqsybandi harus mempraktikan salat dan kewajiban-kewajiban lainnya berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW dan harus selalu menjaga kehadiran dan cinta Allah SWT agar senantiasa hidup dalam hatinya melalui pengalaman pribadi dari ikatan antara dirinya dengan Tuhannya.

Di samping Abu Bakar ash-Shiddiq RA, siapakah gerangan bintang-bintang dalam khazanah Rasulullah SAW ini? Salah satunya adalah Salman al-Farisi RA. Beliau berasal dari Isfahan, Persia dan beliaulah yang menyarankan kaum Muslimin untuk menggali parit dalam peperangan Ahzab. Setelah Kaum Muslimin merebut al-Mada’in, ibu kota Persia, beliau diangkat menjadi Pangeran dan gubernur kota tersebut hingga akhir hayatnya.

Bintang lainnya adalah Ja’far ash-Shadiq AS. Seorang keturunan Rasulullah SAW dari pihak ayahnya, dan Abu Bakar RA dari pihak ibunya, beliau menolak semua kedudukan terhormat sebagai penghormatan kembali dan praktik serta pelajaran spiritual. Beliau disebut sebagai “Pewaris dari Maqam an-Nubuwwa dan pewaris Maqam ash-Shiddiqiya.”

Kemunculan tertua istilah Safa yang tercatat adalah mengacu kepada muridnya, Jabir bin Ayyan RA, pada pertengahan abad kedua Hijriah. Beliau adalah seorang mufassir al-Qur’an atau ahli penerjemah, seorang ahli hadis, dan merupakan salah seorang mujtahid yang handal di kota Madinah. Tafsirnya sebagian diabadikan dalam Haqa’iq at-Tafsir Sulami. Layts bin Sa’d RA, salah seorang penutur riwayat Sunnah Rasulullah SAW yang terpercaya, menyaksikan kekuatan mukjizat Ja’far AS di mana beliau mampu meminta apa saja, dan Allah SWT akan mengabulkannya seketika.

Bintang lainnya adalah Bayazid Tayfur al-Bistami QS yang kakeknya seorang Zoroastrian. Bayazid QS membuat suatu studi yang rinci tentang hukum-hukum Islam (syari’at) yang telah dibukukan dan melaksanakan suatu praktik latihan yang ketat tentang penyangkalan diri sendiri. Beliau dikenal rajin sepanjang usianya dalam hal mengerjakan kewajiban-kewajiban keagamaannya. Beliau mengharuskan murid-muridnya untuk bertawakal dan menyuruh mereka untuk menerima dengan ikhlas konsep murni tauhid, ilmu tentang Keesaan Allah SWT. Konsep ini, menurut beliau, meletakkan lima kewajiban pada keikhlasan untuk :

▪Menjalankan kewajiban sesuai al-Qur’an dan Sunnah.

▪Selalu berkata benar.

▪Menjaga hati dari kebencian.

▪Menghindari makanan haram.

▪Menjauhi bid’ah (dlolalah).

Menurut Bayazid QS, tujuan akhir dari para pengikut Sufi adalah untuk mengenal Allah SWT di dunia ini, untuk meraih Hadirat-Nya, dan bertemu dengan-Nya di Hari Kemudian. Terhadap pengaruh itu, beliau menambahkan, “Ada hamba-hamba Allah SWT yang khusus, yang bila Allah SWT menghalangi mereka dari Pandangannya di Surga, maka mereka akan memohon kepada-Nya untuk mengeluarkan mereka dari Surga sebagaimana penduduk Neraka akan mengiba memohon dikeluarkan dari Neraka.”

Satu bintang lagi dalam khazanah Rasulullah SAW adalah ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, yang lahir di kampung Ghujdawani, di dekat Bukhara, Uzbekistan sekarang. Beliau dibesarkan dan dimakamkan di sana. Beliau mempelajari al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman baik ilmu lahir maupun batin hingga beliau mencapai suatu maqam kesucian yang amat tinggi. Kemudian beliau pergi ke Damaskus di mana Beliau mendirikan sekolah yang melahirkan banyak lulusan yang lalu menjadi ahli ilmu fiqih dan hadis di samping juga ahli dalam hal spiritualitas di masanya, baik di wilayah Asia Tengah maupun di Timur Tengah.

‘Abdul Khaliq QS melanjutkan pekerjaan para pendahulunya dengan membentuk zikir yang diwariskan dari Rasulullah SAW berdasarkan Sunnah. Dalam tulisan-tulisannya, beliau juga merumuskan adab yang diharapkan dapat diikuti oleh murid-murid Naqsybandiyyah.

Amin Al Kurdi menjelaskan ada 11 (sebelas) dasar ajaran Tarekat Naqsyabandiyah, yaitu :

1). “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.

2). “Nazhar Barqadlam” yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.

3). “Safar Darwathan” yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.

4). “Khalwat Daranjaman” yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah ada dua bentuk khalwat :

a. Berkhalwat lahir, yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.

b. Khalwat batin, yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia-rahasia kebesaran Allah walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.

5). “Ya Dakrad” yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baik zikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebut la ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.

6). “Bar Kasyat” yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucapkan kalimat yang mullia

“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridhaan-Mulah yang aku tuntut”. Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.

7).“Nakah Dasyat” yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikat ini.

Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Allah SWT, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Allah SWT.”

Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (duapuluh) tahun.”

8).“Bad Dasyat” yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata. Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna. Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,

9).“Wuquf Zamani” yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang murid atau salik tentang ingat atau tidaknya ia kepada Allah SWT setiap dua atau tiga jam. Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Allah SWT pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Allah SWT dan kembali mengingat- Nya.

10).“Wuquf ‘Adadi” yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan zikir nafi isbat, sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya.

11).“Wuquf Qalbi” yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ubaidullah Al- Ahrar, “Keadaan hati seorang murid atau salik yang selalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Allah SWT, dan terlepas dari pengertian dzikir.


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KUCING MALANG PENDATANG RAHMAT ALLAH”

Jasad Syekh Abu Bakr Asy-Syibli memang terkubur dalam tanah sejak tahun 946 silam. Tapi nasihat santri Imam Junaid al-Baghdadi ini seakan terus mengalir kepada generasi-generasi sesudahnya. Salah satunya lewat kisah dalam mimpi, sebagaimana terekam dalam kitab Nashaihul Ibad  karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Dalam sebuah mimpi seeseorang, Imam Asy-Syibli  yang telah wafat itu ditanya Allah,
“Kamu tahu, apa yang membuat-Ku mengampuni dosa-dosamu?”

“Amal shalihku.” “Bukan.”

“Ketulusanku dalam beribadah.”
“Bukan.”

“Hajiku, puasaku, shalatku.”
“Juga bukan.”

“Perjalananku kepada orang-orang shalih dan untuk menimba ilmu.”
“Bukan.”

“Ya Illahi, lantas apa?” tanya Imam Asy-Syibli.

Allah kemudian menjawabnya dengan mengacu pada kisah pertemuan Imam Asy-Syibli dengan seekor kucing di jalanan kota Baghdad. Kucing kecil itu loyo oleh ganasnya hawa dingin, menyudut ke suatu tempat, berharap kondisi bisa membaik. Imam Asy-Syibli yang tergerak hatinya lantas memungut binatang malang itu, kemudian menghangatkannya di dalam jubah yang ia kenakan.

“Lantaran kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku memberikan rahmat kepadamu.”

Cerita hidup para sufi kerap menyibak hal-hal istimewa dari perkara-perkara yang tampak remeh. Sepele di mata manusia tak selalu rendah menurut Allah.
Kisah di atas seolah mengajari kita tentang pentingnya sikap tawaduk atas segenap kesalehan ibadah betapapun hebatnya;

Juga keutamaan melembutkan hati dan mengulurkan bantuan, termasuk kepada binatang, apalagi manusia.

Wallahu a’lam.

Semoga اَللّهُ senantiasa melimpahkan Rahmat Taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua ,  tetap istiqamah  dalam kebaikan & meningkatkan amal ibadah

             آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ


Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KEBERSAMAAN DAN PERTEMUAN”

kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan pe...