Saudaraku,
Semua yang kita miliki, baik harta benda, jabatan pekerjaan hingga keluarga baik, pasangan dan anak-anak yang kita kasihi adalah titipan Allah Azza wa Jalla. Suatu saat entah kapan, bagaimana dan di mana, semua itu akan kembali pada Allah Azza wa Jalla, begitupun kita sendiri...
Sehingga saat kehilangan itu hadir, saat perpisahan yang tidak kita ingin terjadi, maka berserah dirilah, kuatkan iman, sabar, tabah dan ikhlas atas kehendak-Nya. Yakinilah bahwa semua itu hanya titipan. Bahkan diri kita pun hanyalah titipan...
Kita tidak memiliki apa-apa jika Allah Azza wa Jalla tidak memberikan kepada kita. Kita tidak punya apa-apa jika Allah Azza wa Jalla tidak menghendakinya. Selaiknya sebuah titipan, pasti ada saatnya titipan itu diambil kembali oleh Sang Pemilik. Dan, juga ada saatnya Sang Pemiliki akan mempertanyakan apa yang telah terjadi dengan titipannya. Maka, demikian pula dengan titipan Allah Azza wa Jalla kepada kita...
Saudaraku,
Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda, "Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya ke mana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya."
(HR. Tirmidzi).
Mata kita, digunakan untuk apa? Apakah untuk membaca dan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah Azza wa Jalla, sehingga makin kuat iman kita kepada-Nya, ataukah justru digunakan untuk bermaksiat? Lisan kita, digunakan untuk apa? Apakah basah dengan dzikir dan ucapan-ucapan yang Allah Azza wa Jalla ridhai, ataukan sibuk dengan ucapan dusta dan sia-sia? Demikian juga dengan berbagai hal yang menurut kita adalah milik kita, untuk apakah digunakan, apakah untuk semakin mendekat kepada Allah Azza wa Jalla atau malah menjauhi-Nya?
Saudaraku,
Seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri. Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah Azza wa Jalla. Cintai segala hal yang ada di hidup kita hanya karena Allah Azza wa Jalla. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita...
Saudaraku,
Al-Qur’an telah menjelaskan bahwasannya seluruh alam beserta isinya ini adalah milik Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,
أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَلا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ
”Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).”
(QS. Yunus : 55)
Saudaraku,
Segala nikmat atas titipan harta, tahta dan kedudukan harus senantiasa disyukuri dan segalanya hanyalah untuk Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
”Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”
(QS. Al-An’aam: 162)
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Saudaraku,
Tanpa kita sadari kita hidup dalam tabiat cinta terhadap harta. Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla mencela kepada orang yang berlebihan mencintai harta hingga menyebabkan dirinya menjadi seorang yang bakhil, sombong, dzalim dan lupa terhadap Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
”Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”
(QS. Al-Fajr : 20)
Bahkan ada di antara kita yang ingkar, tidak berterima kasih kepada Allah Azza wa Jalla,
إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
”Dan sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”
(QS. Al-‘Aadiyaat: 6-8)
كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى
”Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup”
(QS. Al-‘Alaq: 6-7)
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
”Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”
(QS. Asy-Syuura: 27)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-Munaafiquun: 9)
Saudaraku,
Cinta yang berlebihan terhadap harta tahta dan kedudukan menyebabkan kita lupa mati sampai diri kita dibungkus kain kafan dan dimasukkan ke liang lahat. Kita senantiasa sibuk mengurusi harta, tahta dan kedudukan, hingga menghalalkan segala cara, melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotis. Ingatlah bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
”Bermegah-megahan telah melalikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul-yaqiin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”
(QS. At-Takaatsur: 1-8)
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ الَّذِي جَمَعَ مَالا وَعَدَّدَهُ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ
”Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”
(QS. Al-Humazah: 1-3)
Saudaraku,
Allah Azza wa Jalla telah memberikan peringatan kepada kita melalui firman-Nya,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Jaatsiyyah: 15)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ
”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.”
(QS. Fushshilat: 46)
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala kehendak Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.
Wallahu a'lam bish shawab
Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag