Kamis, 31 Desember 2020

“KESEDERHANAAN RASULULLAH DALAM MASALAH MAKANAN”

Kalau kita memperhatikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang urusan makanan, kita dapati potret kesederhanaan yang luar biasa dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. 


Dalam urusan makanan, beliau tidaklah berlebih-lebihan dan hanya meminta rizki makanan secukupnya. 


Hal ini sebagaimana doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,


اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا


“Ya Allah, jadikan rizki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya.” (HR. Muslim no. 1055)


Berbeda dengan kita umumnya yang makan 2-3 kali sehari sampai kenyang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru merasakan kenyang tiap 2-3 hari sekali.


 Kondisi ini diceritakan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan mengatakan,


ما شبع آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ من خبزِ شعيرٍ ، يومَين مُتتابِعَينِ ، حتى قُبِضَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ


“Keluarga Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum dalam dua hari berturut-turut, sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Muslim no. 2970)


Dalam riwayat yang lain, kondisi tidak kenyang tersebut berlangsung sampai 3 hari,


مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ المَدِينَةَ، مِنْ طَعَامِ بُرٍّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا، حَتَّى قُبِضَ


“Keluarga Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan burr (gandum kasar) dalam 3 hari berturut-turut, sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR. Bukhari no. 6454 dan Muslim no. 2970)


-Terkadang, makanan berupa roti gandum tersebut dicampur dengan semacam kuah.

Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan,


ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ


“Keluarga Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam 3 hari, sampai dia bertemu dengan Allah (wafat).” (HR. Bukhari no. 5423)


Adapun yang dimaksud idam, dijelaskan dalam kamus Al-Mu’jam Al-Wasith,


ما يُسْتَمْرَأُ به الخبز


“sesuatu (makanan atau kuah) yang biasa digunakan untuk membantu menelan roti.”


-Terkadang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan sama sekali karena memang tidak punya makanan.


 Dan pada kondisi semacam itu, beliau pun kemudian berpuasa sunnah. 


Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,


قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍ يا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟ قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌء قال فإني صائمٌ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku pada suatu hari, “Wahai ‘Aisyah, apakah Engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini)?”

 Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, kita tidak memiliki makanan sedikit pun (untuk dimakan).” Beliau lalu berkata, 

“Kalau begitu, aku akan puasa hari ini.” (HR. Muslim no. 1154)


-Kondisi semacam ini bisa berlangsung berhari-hari hingga sebulan.


 Hal ini sebagaimana penuturan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,


كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ


“Pernah kami melalui suatu bulan yang ketika itu kami tidak menyalakan api sekali pun.

 -Yang kami miliki hanyalah kurma dan air, kecuali ada yang memberi kami hadiah berupa potongan daging kecil untuk dimakan.” (HR. Bukhari no. 6458)


Wallahu a’lam bish-shawab



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KUNCI-KUNCI UNTUK MERENUNGKAN AL-QUR'AN”

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan sebelum kita membaca Al-Qur’an.


فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ


“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS.An-Nahl:98)


Begitupula Allah Swt mengajarkan kita untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil.


وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا


“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS.Al-Muzzammil:4)


Kemudian Allah memerintahkan kepada kita untuk merenungkan Al-Qur’an.


كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ


“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS.Shad:29)


Dan Allah Swt telah mengabarkan bahwa siapa yang tidak merenungkan kandungan Al-Qur’an hatinya telah tertutup.


أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ


“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS.Muhammad:24)


Dari ayat-ayat di atas seharusnya menggugah hati kita untuk bertanya, “Lalu bagaimana cara kita merenungkan Al-Qur’an?”


Nah, disini kita akan membahas kunci-kunci untuk merenungkan Al-Qur’an.


Kunci Pertama


Hadirkan hatimu !


Al-Qur’an turun pertama kali ke dalam hati. Yaitu hati Baginda Nabi Muhammad Saw.


Ketika hati telah sadar dari kelalaiannya dan siap mendengar Firman-Nya maka setiap anggota tubuh lainnya akan ikut sadar dan siap menyerap pesan-pesan dari ayat suci Al-Qur’an.


Dan menjadi jelas disini bahwa Allah Swt mencela kaum mukminin yang hatinya tidak khusyuk ketika mendengar ayat Al-Qur’an.


أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ


“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS.Al-Hadid:16)


Kunci Kedua


Bersiaplah !


Setelah kita hadirkan hati maka bulatkan tekad kita untuk menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya dan menahan diri dari apa-apa yang dilarang Allah Swt. Konsistensi kita dalam menjaga diri serta agama akan membawa dampak kebaikan yang sangat besar dalam kehidupan kita di masa depan.


Ingatlah Firman Allah Swt :


فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ


“Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS.Muhammad:21)


Ingatlah pula bahwa apabila engkau melangkah untuk mendekat kepada Allah, maka Allah akan membimbingmu untuk semakin dekat dengan rahmat dan anugerah-Nya.


Kunci Ketiga


Sadarlah bahwa Allah Swt sedang berbicara denganmu !


Apabila setiap kali membaca Al-Qur’an kita selalu merasa bahwa kita sedang berdialog dengan Allah maka kualitas bacaan Al-Qur’an kita pasti akan berbeda. Kita bukan hanya melafadzkan bacaan tanpa makna, tapi kita sedang berbicara dengan Sang Pencipta.


Setiap ayat Al-Qur’an adalah surat yang Allah kirimkan untuk kita. Namun sayang kita tidak pernah merasa demikian.


Bila surat itu dari Allah, bukankah selayaknya kita berhubungan dengan Al-Qur’an dengan penuh penghormatan?


Inilah tiga kunci dalam merenungkan Al-Qur’an. Tentunya masih banyak lagi kunci-kunci lainnya yang belum kita sebutkan dalam kajian ini.


Semoga Bermanfaat…



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“AGAR RUMAH TANGGA LANGGENG SAMPAI KE SURGA”

Setelah menikah, perbanyak dua ungkapan ini dengan pasangan:

1. Terima kasih
2. Ma'af

Kata pertama sebagai pemikat dan kata kedua menjadikan hati semakin erat.

Perselisihan, salah faham, cemburu, dan pertengkaran dalam rumah tangga sesuatu yang tidak bisa di hindarkan. Karena semua itu ujian seberapa kuat bertahan memperjuangkan cinta dan menepis keegoisan.

Menikah Adalah Menyatukan Dua Karakter Berbeda, Maka Bersabarlah Jika Pasanganmu Sering Berbeda Persepsi.

❝Jangan kau pahat kesalahan istrimu dibatu dan kau catat kebaikannya di air. Akan tetapi baliklah perkaranya agar tak mudah engkau marah dan cemberut padanya❞

Begitu juga para istri, janganlah mudah marah dan cemberut pada suami karna kesalahan yang masih bisa di ma'afkan.

Hendaknya setiap pasangan memiliki tiga hal

(1.) Utamakan SABAR hindarkan marah. Nabi ﷺ bersabda

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

Orang yang hebat bukahlah orang yang sering menang dalam pertengkaran. Namun orang yang hebat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim)

(2.) Bersikap ADIL. Setiap orang memiliki sisi baik. Tidaklah adil manakala satu kesalahan menghapuskan seribu kebaikan yang pernah dilakukannya.

Allah ﷻ berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاء لِلّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS: An-Nisa’: 135)

(3.) PEMA'AF. Memaafkan dan bermusyawarah dari hati kehati jika tak mampu mintalah nasehat dari orang yang bijak faham agama

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran; 159)

Ciri orang yang mencintai keluarganya adalah ia selalu bersabar dalam mendidik akhlak dan keimanan keluarganya.

Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah itu menang. Menang tundukan amarah.

Perhatikanlah bagaimana sikap nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menghadapi istrinya yang sedang marah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para istrinya dan amat menghormati mereka.

Bahkan, ketika berselisih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melibatkan emosi. Ketika sedang marah kepada Aisyah, Beliau berkata, “Tutuplah matamu!”

️Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”

Dr Aid Al Qorni mengatakan dalam bukunya "Al Hillu" menyebutkan:

إذا غضب الزوج فلتسكت الزوجة وإذا غضب الزوجة فليسكت الزوج ، وأما غضب فى غضب فجحيم لا يطاق

"Jika suami marah, maka diamlah istri  dan jika istri marah, maka diamlah suami. Karena marah dibalas dengan marah adalah neraka yang tidak tertahankan nyalanya."

Jika istri marah ada cara unik yang bisa suami lakukan. Anda bisa meredam emosi istri dengan memijit hidungnya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululullah.

Beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).

❝Hendaknya suami bisa lebih menahan amarah ketika marah. Karena melawan marah dengan marah yang ada malah menambah runyam masalah. Perlu trik dan tips dengan memperluas sabar menurunkan ego berlemah lembut dalam memberi nasehat❞

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Saling Berpesanlah kalian untuk memperlakukan Wanita dengan Baik,"

Karena sesungguhnya Wanita itu Diciptakan dari Tulang Rusuk, Dan Sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian Atasnya,

Jika engkau bersikeras untuk meluruskannya, niscaya engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau biarkan, ia akan tetap bengkok, Karenanya saling berpesanlah saling menasihati berkenaan dengan Wanita,” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan sangat memuji lelaki yang mampu berlaku baik kepada keluarganya baik ketika marah atau dalam menghadapi sesuatu masalah, beliau bersabda

“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”

️“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (H.R. Tirmidzi

Semoga Allah memberikan kita semua taufiq dan hidayahNya

Aamiin Ya Robbal 'Alamin



“HUKUM MERAYAKAN TAHUN BARU”

Oleh: Ustaz Shiddiq Al-Jawi


Tanya: Ustaz, bolehkah seorang muslim ikut merayakan tahun baru?


Jawab: Perayaan tahun baru Masehi (new year’s day, al ihtifal bi ra`si as sanah) bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nasrani.


Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582.


Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752.


Bentuk perayaannya di Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja (church services), maupun aktivitas nonibadah, seperti parade/karnaval, menikmati berbagai hiburan (entertainment), berolahraga seperti hoki es dan American football (rugby), menikmati makanan tradisional, berkumpul dengan keluarga (family time), dan lain-lain.


Haram Hukumnya

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Dalil keharamannya ada 2 (dua); Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).


Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah: 104)


Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah saw. seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami) (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).


Ayat-ayat yang semakna ini banyak, antara lain QS Al Baqarah : 120, QS Al Baqarah : 145; QS Ali ‘Imran: 156, QS Al Hasyr: 19; QS Al Jatsiyah: 18-19; dll. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Wa`il Zhawahiri Salamah, At Tasyabbuh Qawa’iduhu wa Dhawabituhu, hlm. 4-7; Mazhahir At Tasyabbuh bil Kuffar fi Al ‘Ashr Al Hadits, hlm. 28-34).


Dalil umum lainnya sabda Rasulullah saw., “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadis ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).


Hadis tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka (fi khasha`ishihim), seperti akidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 22-23).


Selain dalil umum, terdapat dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir. Dari Anas ra., dia berkata, “Rasulullah saw. datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah saw. bertanya, ‘Apakah dua hari ini?’ Mereka menjawab, ’Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliah.’


Rasulullah saw. bersabda, ’Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idulfitri dan Iduladha.” (HR Abu Dawud, no 1134).


Hadis ini dengan jelas telah melarang kaum muslimin untuk merayakan hari raya kaum kafir. (Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 173).


Berdasarkan dalil-dalil di atas, haram hukumnya seorang muslim merayakan tahun baru, misalnya dengan meniup trompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan, dan sebagainya. Semuanya haram karena termasuk menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar) yang telah diharamkan Islam. Wallahu a’lam bish-shawab


#NoTahunBaru

#DiRumahAja

#SocMesForDakwah



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“DAKWAH LEWAT SOSIAL MEDIA JUGA BUTUH ILMU LHO!”

Fakta tak terelakkan adalah bahwa hidup di jaman saat ini tak bisa lepas dari namanya sosial media, bener kan?


Apalagi teruntuk kaum millenials seperti kita. Wah, rasanya lengket banget sama sosial media deh. Tapi, tak dipungkiri bahwa adanya sosial media lebih didominasi dengan hal yang sia sia, ya ga sih? 


Trus, gimana dong? Biar kita ga ikut-ikutan membuang waktu untuk bersosmed dengan sia-sia?


Pertama, kita harus batasi tontonan kita. Selektif agar tidak terlena dalam tayangan atau konten yang tak berfaedah. Kedua, sering melihat konten islami yang bermanfaat. Ketiga, manfaatkan akun kita sebagai media dakwah islam di tengah-tengah umat.


Dengan begitu, kita ga hanya sibuk mantengin tayangan di sosmed aja nih. Tapi, kita juga disibukkan membuat tayangan sebagai tontonan orang lain.


Itu juga salah satu bentuk kepedulian kita juga pada teman-teman kita sob. Sedih ga sih? Saat lihat remaja muslim yang harusnya sibuk mencari perbekalan amal, eh malah sibuk dengan konten ga jelas.


Kenapa sih kita harus manfaatin sosmed buat kebaikan? Karena kita muslim dong ya, sebagai muslim kita harus sadar bahwa kita hidup tidak tanpa tujuan. 


Seperti yang Allah firmankan dalam Q.S Adz Dzariyat ayat 56 yang artinya "Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku" 


Nahlohh ternyata tugas kita di dunia hanya untuk beribadah loh. Tapi bentuk ibadah itu tak hanya seperti puasa, sholat, atau haji aja sob. Dakwah dan menebarkan kebaikan juga bentuk ibadah pada Allah. 


Nah, melalui sosial media inilah, salah satu cara kita mengingatkan ke temen-temen. Biar semakin banyak pula temen kita yang tersadarkan dengan indahnya islam.


Lalu, harus mengingatkan yang kaya gimana sih? Membuat konten berfaedah yang seperti apa yaa? 


Nah disini perlunya belajar sob. Kita harus senantiasa belajar untuk menambah wawasan kita. Biar ga asal dalam menyampaikan sesuatu.


Belajar dan berdakwah ibarat kaki kanan dan kiri. Harus melangkah bebarengan dan bergantian yaa. Harus seimbang gitu biar ga jatuh.


Selain mengkaji islam, untuk dakwah juga perlu keistiqomahan sob. Tak hanya sekali atau dua kali saja, dakwah itu wajib. Harus terus berdakwah dan mengamalkan islam selagi kita masih hidup. 


Berat ga sih? Berat kalau sendiri, jadi kita perlu temen yang saling menggandeng juga. Biar saling mengingatkan dan menambah semangat kita dalam dakwah. Kita tuh ga bisa sendirian.


Mempunyai teman sholih itu penting loh. Hanya melihat mereka melakukan kebaikan, kita akan tersemangati dengan sendirinya. Mau ga sih ada temen yang kaya gitu? 


Kalo belum ada, ayo segera cari dan buat lingkaran pertemanan islami yang bisa membuat kita saling mengingatkan dalam dakwah islam ini.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Rabu, 30 Desember 2020

“️MUHASABAH WAKTU DI AHKIR TAHUN 2020”

Bismillahirrahmanirrahim...

Tahun baru masehi sudah di depan mata. 12 bulan di tahun 2020 sudah penuh terlewati dan akan berganti bulan-bulan di tahun 2021. 


Kehidupan manusia di dunia adalah sebuah perjalanan, begitupun di akhirat kelak. Bedanya, perjalanan di dunia adalah bekal untuk perjalanan di akhirat. Sikap dan perilaku selama perjalanan hidup di dunia ini menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan di akhirat.


Perjalanan hidup di dunia dibatasi oleh waktu yang sangat singkat sementara di akhirat adalah kehidupan abadi sepanjang waktu. 

Waktu. Satu kata singkat, namun memberikan dampak besar kehidupan manusia dan seluruh makhluk lainnya.


Karena itu, Allah SWT sering kali berfirman, dengan menggunakan waktu sebagai pertanda akan pentingnya hal tersebut bagi kehidupan manusia.

Di antaranya, demi masa (QS al-'Ashr : 1), demi malam apabila menutupi waktu siang (QS al-Lail : 1), demi fajar (QS al-Fajr : 1) dan demi waktu matahari sepenggal naik (dhuha) (QS adh-Dhuha :1).


️Imam Fakhruddin Ar Razi mengatakan dalam tafsirnya ketika menafsirkan surah al-'Ashr bahwa Allah SWT telah bersumpah demi waktu karena di dalam waktu memang mengandung berbagai keajaiban.


Di dalam perjalanan waktu terdapat senang dan susah, sehat dan sakit, serta betapa berharga dan mahalnya waktu yang tidak bisa dinilai dengan sesuatu apa pun. Bagi seorang Muslim, waktu adalah kehidupan dan kematian sekaligus.


Seorang Muslim memahami waktu dalam tiga ranah, yakni Waktu lampau, sekarang, dan Nanti :


Waktu lampau (dimaknai bahwa kehadirannya di dunia ini diawali oleh penciptaan dirinya oleh Allah SWT)

Waktu sekarang, (perjalanan ibadah untuk menggapai ridha Allah).

dan Waktu Nanti (Untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya, tuk meraih Surganya Allah..).


Allah SWT dengan tegas mengingatkan dalam surah QS Al-Asr: 1-3, yang artinya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.''


Ayat ini menuturkan bahwa keberuntungan seorang Muslim adalah saat mengisi waktu hidupnya dengan keimanan, amal saleh, dan saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran.


Karena seluruh perbuatan.akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di waktu nanti, yakni kehidupan akhirat. Hanya ada dua tempat bagi manusia di waktu nanti: Surga dan Neraka.


Seorang Muslim harus menyadari sepenuhnya bahwa, sepanjang perjalanan hidupnya hrs dipergunakan untuk melaksanakan perintah Allah menjauhi seluruh larangan Allah.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Selasa, 29 Desember 2020

“KETIKA SANG PEMIILIK MENGAMBILNYA”

Saudaraku,

Semua yang kita miliki, baik harta benda, jabatan pekerjaan hingga keluarga baik, pasangan dan anak-anak yang kita kasihi adalah titipan Allah Azza wa Jalla. Suatu saat entah kapan, bagaimana dan di mana, semua itu akan kembali pada Allah Azza wa Jalla, begitupun kita sendiri...


Sehingga saat kehilangan itu hadir, saat  perpisahan yang tidak kita ingin terjadi, maka berserah dirilah, kuatkan iman, sabar, tabah dan ikhlas atas kehendak-Nya. Yakinilah bahwa semua itu hanya titipan. Bahkan diri kita pun hanyalah titipan...


Kita tidak memiliki apa-apa jika Allah Azza wa Jalla tidak memberikan kepada kita. Kita tidak punya apa-apa jika Allah Azza wa Jalla tidak menghendakinya. Selaiknya sebuah titipan, pasti ada saatnya titipan itu diambil kembali oleh Sang Pemilik. Dan, juga ada saatnya Sang Pemiliki akan  mempertanyakan apa yang telah terjadi dengan titipannya. Maka, demikian pula dengan titipan Allah Azza wa Jalla kepada kita...


Saudaraku,

Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda, "Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya ke mana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya."


(HR. Tirmidzi).


Mata kita, digunakan untuk apa? Apakah untuk membaca dan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah Azza wa Jalla, sehingga makin kuat iman kita kepada-Nya, ataukah justru digunakan untuk bermaksiat? Lisan kita, digunakan untuk apa? Apakah basah dengan dzikir dan ucapan-ucapan yang Allah Azza wa Jalla ridhai, ataukan sibuk dengan ucapan dusta dan sia-sia? Demikian juga dengan berbagai hal yang menurut kita adalah milik kita, untuk apakah digunakan, apakah untuk semakin mendekat kepada Allah Azza wa Jalla atau malah menjauhi-Nya?


Saudaraku,

Seandainya saja setiap manusia tahu bahwa ia tidak memiliki apa-apa di dunia. Mereka tidak akan sombong. Seandainya saja manusia tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan. Mereka akan sadar diri.  Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanya titipan Allah Azza wa Jalla. Cintai segala hal yang ada di hidup kita hanya karena Allah Azza wa Jalla. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita...


Saudaraku,

Al-Qur’an telah menjelaskan bahwasannya seluruh alam beserta isinya ini adalah milik Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,


أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَلا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ


”Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).” 


(QS. Yunus : 55)


Saudaraku, 

Segala nikmat atas titipan harta, tahta dan kedudukan harus senantiasa disyukuri dan segalanya hanyalah untuk Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,


قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


”Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” 


(QS. Al-An’aam: 162)


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” 


(QS. Ibrahim: 7)


Saudaraku,

Tanpa kita sadari kita hidup dalam tabiat cinta terhadap harta. Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla mencela kepada orang yang berlebihan mencintai harta hingga menyebabkan dirinya menjadi seorang yang bakhil, sombong, dzalim dan lupa terhadap Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,


وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا


”Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” 


(QS. Al-Fajr : 20)


Bahkan ada di antara kita yang ingkar, tidak berterima kasih kepada Allah Azza wa Jalla, 


إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ  وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ  وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ


”Dan sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” 


(QS. Al-‘Aadiyaat: 6-8)


كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى  أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

”Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup” 


(QS. Al-‘Alaq: 6-7)


وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ


”Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat” 


(QS. Asy-Syuura: 27)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ


”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” 


(QS. Al-Munaafiquun: 9)


Saudaraku,

Cinta yang berlebihan terhadap harta tahta dan kedudukan menyebabkan kita lupa mati sampai diri kita dibungkus kain kafan dan dimasukkan ke liang lahat. Kita senantiasa sibuk mengurusi harta, tahta dan kedudukan, hingga menghalalkan segala cara, melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotis. Ingatlah bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman,


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ  حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ  كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ  ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ  كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ  لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ  ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ  ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ


”Bermegah-megahan telah melalikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul-yaqiin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” 


(QS. At-Takaatsur: 1-8)


وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ  الَّذِي جَمَعَ مَالا وَعَدَّدَهُ  يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

”Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” 


(QS. Al-Humazah: 1-3)


Saudaraku, 

Allah Azza wa Jalla telah memberikan peringatan kepada kita melalui firman-Nya,


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ


”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” 


(QS. Al-Jaatsiyyah: 15)


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ


”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” 


(QS. Fushshilat: 46)


Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala kehendak Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya...

Aamiin Ya Rabb.


Wallahu a'lam bish shawab



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“JASA IBU TAK TERBALASKAN”

Diriwayatkan dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami, ia berkata :


أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا.


bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” [HR an-Nasa`i]


Catatan Alvers


Tanggal 22 Desember diresmikan sebagai hari ibu oleh Presiden Soekarno di bawah Dekret Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.


Islam tidak memilih hari dan tanggal tertentu untuk peringatan hari ibu karena islam menjadikan setiap hari dan setiap tanggal adalah hari dimana anak wajib memuliakan ibunya. Namun demikian penetapan peringatan hari ibu adalah salah satu bentuk penghargaan atas jasa seorang ibu dan memotivasi agar kita senantiasa memuliakannya.


Berbicara tentang ibu, Saya teringat dengan lagu anak berikut :

Sembilan bulan ibu mengandung

dan melahirkan kita ke dunia

Siang dan malam ibu menyusui

Tiada merasa lelah dan letih

Kasih sayangnya cinta kasihnya

Sepanjang masa

Surga di telapak kaki ibu

Tak terbalas emas permata


Allah SWT mengingatkan kita akan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu, sehingga Allah mewajibkan anak untuk bersyukur kepada Ibu dan bapaknya. Allah SWT berfirman : 


وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِير


Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. [QS Luqman : 14]


Sungguh apa yang telah dilakukan bapak dan ibu adalah pengorbanan besar yang tak terbalaskan. Diriwayatkan dari Abi Burdah, ia melihat melihat seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya sambil bersenandung :


إني لها بعيرها المذلل إن أذعرت ركابها لم أذعر 


Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang (yaman) itu lalu bertanya : 


ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  


“Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” 

Ibnu Umar menjawab, 


لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ


“Tidak, walaupun (dibanding dengan) satu tarikan nafas ketika melahirkan. [Adabul Mufrad]


Dari sini kita ketahui bahwa Birrul walidain (kebaktian anak kepada orangtuanya) bukanlah perilaku balas jasa, karena kebaktian seorang anak bagaimanapun baiknya tidaklah dapat membalas (impas) dengan apa yang telah dilakukan orang tuanya. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasul SAW:


لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ 


seorang anak tidak dapat membalas (kebaikan) kepada orang tuanya melainkan anak itu mendapatkan orang tuanya sebagai hamba sahaya lalu dia membelinya kemudian memerdekakannya”.[HR Muslim]


Membeli seorang hamba sahaya (budak) yang mana budak tersebut tak lain adalah bapaknya lalu memerdekakannya adalah hal yang mustahil terjadi, sebab dalam literatur fiqh dijelaskan bahwa jika seorang anak membeli seorang budak yang mana ia adalah bapaknya, maka dengan sendirinya bapak tersebut menjadi merdeka tanpa harus dimerdekakan oleh anaknya. 


Inti dari hadits tersebut adalah pernyataan mustahil seorang anak membalas kebaikan bapak atau ibunya. Jika dipikir-pikir mengapa demikian? Boleh jadi karena seorang anak telah melakukan apa yang telah dilakukan oleh ibu bapaknya namun keikhlasan dan doa tidak akan sama.


Terdapat sebuah kisah dimana seorang pemuda yang masuk ICU karena kecelakaan yang menimpanya hingga menyebabkan kepalanya luka, tangannya patah dan perutnya bercucuran darah. Dokterpun putus asa dibuatnya dan mengatakan bahwa tidak ada harapan lagi untuk hidup. Mendengar hal ini, Ibunya hampir pingsan namun sebagai ibu ia tidak putus asa, Ia tidak henti-henti berdoa dan bermohon kepada Allah agar anaknya itu selamat.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, keadaan pemuda tidak banyak berubah. Namun setiap malam pula Ibu bermunajat kepada Allah memohon keselamatan anaknya. sambil berlinang air mata, Sang ibu berdoa : 

”Ya Allah, sembuhkanlah anakku, Aku rela jika anggota badanku dapat ditukar dengan anggota badannya sehingga ia hidup sempurna tanpa cacat, bahkan aku rela nyawaku sebagai gantinya”


Setelah 5 bulan, akhirnya pemuda itu mulai membaik kondisi kesehatannya dan akhirnya dia sembuh sepenuhnya. Pemuda itupun hidup sehat dan normal hingga berumahtangga dan mempunyai anak. Dan di sisi lain, Ibunya, semakin hari semakin tua dan uzur. 


Pada usia 75 tahun ibu tadi jatuh sakit hingga masuk ke Rumah sakit yang sama. Pada mulanya, anaknya yang dulu kecelakaan itu masih merawat dan menjaga ibunya di RS, namun seiring dengan berlalunya waktu, semakin jarang dia datang menjenguk ibunya sampai pada suatu hari pihak RS menghubunginya untuk memberitahu keadaan ibunya yang semakin buruk. Iapun bergegas datang ke RS. didapatinya keadaan sang ibu semakin lemah dan Nafasnya turun naik. Dokterpun memberitahu bahwa ibunya sudah tidak ada harapan lagi. Anak tadi kemudian berdoa : “Ya Allah, seandainya mati lebih baik untuk ibu, maka Engkau matikanlah ibuku! Aku rela dengan kepergiannya”.


Alvers, Di sinilah perbedaan ibu dan anaknya. Kesabaran, keikhlasan dan Doa yang dipanjatkan. Orang bijak mengatakan : Satu ibu mampu membesarkan 10 anak namun 10 anak belum tentu mampu merawat seorang ibu. Maka sungguh mulia seorang ibu hingga Rasul SAW bersabda “surga itu di bawah kedua kakinya” dalam hadits utama di atas. 


Wallahu A’lam.


 Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu berbakti kepada ibu dan bapak kita dan mendoakannya dengan hati yang tulus ikhlas. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepada Ibu dan bapak kita, Amin.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“ANCAMAN MEMBUNUH MANUSIA YANG DIHARAMKAN ALLAH”

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ [رواه البخاري ومسلم


Dari Ibnu Mas’ud radiallahuanhu dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah SAW ) adalah utusan Allah kecuali dengan tiga sebab : Orang tua yang berzina, membunuh orang lain (dengan sengaja), dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaahnya. (Riwayat Bukhori dan Muslim)


Pelajaran yang terdapat didalam hadits 

1. Tidak boleh menumpahkan darah kaum muslimin kecuali dengan tiga sebab, yaitu : zina muhshon (orang yang sudah menikah), membunuh manusia dengan sengaja dan meninggalkan agamanya (murtad) berpisah dari jamaah kaum muslimin.

2. Islam sangat menjaga kehormatan, nyawa dan agama dengan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang mengganggunya seperti dengan melakukan zina, pembunuhan dan murtad.

3. Sesungguhnya agama yang disepakati adalah yang dipegang oleh jamaah kaum muslimin, maka wajib dijaga dan tidak boleh keluar darinya.

4. Hukum pidana dalam Islam sangat keras, hal itu bertujuan untuk mencegah (preventif) dan melindungi.

5. Pendidikan bagi masyarakat untuk takut kepada Allah ta’ala dan selalu merasa terawasi oleh-Nya dan keadaan tersembunyi atau terbuka sebelum dilaksanakannya hukuman.

6. Hadits diatas menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian.

7. Dalam hadits tersebut merupakan ancaman bagi siapa yang membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah ta’ala.


Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :


1. Nyawa seorang muslim dilindungi 


وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزاؤُهُ جَهَنَّمُ خالِداً فِيها وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذاباً عَظِيماً 


Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.[ Ali imran :93]


2. Hukuman dalam Islam sebagai bagian dari perlindungan


وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa.

[Al Baqoroh :179].



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“WASPADA TERHADAP FITNAH DUNIA DAN WANITA”

 عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء


Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”

[Hr. Muslim]


Pelajaran yang terdapat dalam hadits:


1- Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang keadaan dunia dan isinya yang menakjubkan bagi orang-orang yang memandang dan merasakannya. 

2- Kemudian Beliau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. 

3- Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya untuk mengerjakan hal-hal yang bisa menjaganya agar tidak terjatuh dalam fitnah dunia.

4- Barangsiapa mengambilnya dari yang halal, meletakkannya sesuai dengan haknya, memanfaatkannya agar ia bisa beribadah kepada Allah, maka itu semua menjadi bekal baginya untuk pergi ke tempat yang lebih mulia dan kekal.

5- Dengan demikian, sempurnalah baginya kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan tetapi sebaliknya, barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya dan tujuan ilmu serta keinginannya, maka ia akan mendapat dunia sesuai dengan yang telah ditetapkan baginya oleh Allah Azza wa Jalla. Lalu akhirnya, hidupnya sengsara, dia tidak merasakan kelezatan dan syahwatnya kecuali hanya sebentar saja. Kelezatannya sedikit, tetapi kesedihannya berkepanjangan.

6- Semua bentuk kelezatan dunia merupakan ujian dan cobaan. Tetapi yang terbesar dan terkuat yaitu fitnah wanita, karena fitnah mereka sangat besar. Terjatuh dalam fitnah wanita sangat berbahaya. Para wanita adalah perangkap dan tali-tali setan.

7- Betapa banyak setan telah menjerumuskan laki-laki yang menjaga dirinya dari fitnah wanita tersebut, namun akhirnya terikat dan terjebak dalam kubangan syahwat, terus-menerus berbuat dosa, dan sulit untuk melepaskan diri darinya. 

8- Dalam hadits ini, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan apa-apa yang telah terjadi pada ummat-ummat sebelum kita. Karena dalam semua peristiwa itu terdapat ‘ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran, serta nasihat bagi orang-orang yang bertakwa. 


Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:


1- Hendaklah seorang Muslim benar-benar waspada terhadap fitnah dunia. Dunia ini indah dan manis, maka jangan sekali-kali seorang Muslim tertipu dengannya, karena kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu. 


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ


… Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. [Ali ‘Imrân/3:185].


2- Mencintai dunia berarti menjadikan dunia sebagai tujuan dan menjadikan amal dan ciptaan Allah yang seharusnya menjadi sarana menuju Allâh Azza wa Jalla dan negeri akhirat berubah arah menjadi mengejar kepentingan dunia. 


مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ﴿١٥﴾أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11: 15-16].



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“MUSLIM HARAM IKUT MERAYAKAN TAHUN BARU”

Sebuah do’a yang selalu kita panjatkan, sepanjang hari; pagi, siang, petang, dan malam. Bagi seorang muslim minimalnya tujuh belas kali ia haturkan do’a ini, di dalam setiap raka’at dalam shalatnya. Yaitu do’a dalam surat al-Fatihah:


اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ


"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. al-Fatihah: 6)


Pernahkah kita mengali lebih dalam lagi jalan siapakah jalan yang lurus itu? Ternyata jawabnya ada pada ayat berikutnya. Jalan yang lurus itu adalah:


صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ


"Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat." (QS. al-Fatihah: 7)


 Orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, mereka adalah para Nabi dan Rasul, orang-orang yang jujur, syuhada’ dan orang-orang shalih. Jalan merekalah yang kita pinta. Sebagaimana firman Allah ﷻ :


وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا


"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa’: 69)


 Adapun orang yang Engkau murkai, mereka adalah Yahudi. Sedang orang yang tersesat adalah Nasrani. Rasulullah ﷺ bersabda:


اليَهُوْدُ مَغْضُوْبٌ عَلَيْهِمْ، وَالنَّصَارَى ضُلَّالٌ


“Yahudi adalah umat yang dimurkai dan Nasrani adalah umat yang tersesat.” (HR. Tirmidzi: 2954, Shahih al-Jami’: 8202)


Itu artinya setiap hari kita meminta agar dapat menempuh jalannya para Nabi dan Rasul, para shiddiq, syuhada’, dan orang-orang shalih. Kemudian dijauhkan dari jalannya umat Yahudi dan Nasrani.


Sehingga dari sini, sungguh sangat mengherankan jika ada umat Islam yang setiap kali shalat meminta dijauhkan dari jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani namun kenyataannya dia sendiri yang menempuh jalan mereka.


Peringatan tahun baru adalah jalannya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di sana ada terompet, lonceng serta kemaksiatan lain yang merupakan budaya mereka. Maka sangat disayangkan ketika ada seorang yang berstatus muslim membaca “ihdinash shirathal mustaqim” setiap hari namun ikut merayakan tahun baru.


Oleh sebab itu, seorang muslim dan muslimah tidak boleh ikut merayakan tahun baru, agar tidak bertentangan antara do’anya dengan kenyataan yang ia perbuat. Ingat kita ini muslim, pantang mengikuti jalan kaum yang dimurkai dan kaum yang tersesat. 



Semoga bermanfaat.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Senin, 28 Desember 2020

“KEISTIMEWAAN SURAH AL-KAHFI”

 “KEISTIMEWAAN SURAH AL-KAHFI;

عن أبي سعيد الخدري رضي اللَّه عنه، رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ


Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah.” (HR. ad-Darimi  3470 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, 6471)


Dalam riwayat lain, beliau bersabda,


مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ


“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Hakim 6169, Baihaqi  635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 6470)


Bahkan, karena kuatnya pengaruh cahaya yang Allah berikan, orang yang memperhatikan surat Al-Kahfi akan dilindungi dari fitnah Dajjal. Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ


“Siapa yang menghafal 10 ayat pertama surat Al-Kahfi maka dia akan dilindungi dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim 1919, Abu Daud 4325, dan yang lainnya)


Pelajaran yang terdapat didalam hadist:


1- Surat Al-Kahfi adalah surat pelindung dari berbagai fitnah. Fitnah yang paling besar adalah Fitnah Dajjal. Tidak ada Nabi dan Rasul diutus kecuali mengingatkan kaumnya dari besarnya fitnah Dajjal.

2-  Kita pun dituntut untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal di akhir tasyahhud shalat kita. 

3- Selain fitnah Dajjal ada 4 fitnah (ujian) yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi. Sebagai panduan kita dalam menghadapi berbagai fitnah. Diantaranya :

Pertama, ujian karena agama, kisah ashabul kahfi yang lari meninggalkan kampung halamannya dalam rangka menjaga imannya.

Kedua, fitnah harta, kisah shahibul jannatain (pemilik dua kebun), yang kufur kepada Tuhannya karena silau dengan dunianya.

Ketiga, ujian karena ilmu, kisah Musa dengan Khidr. Musa diperintahkan untuk belajar kepada Khidr, sekalipun beliau seorang Nabi yang memiliki Taurat. Karena di atas orang yang berilmu, ada yang lebih berilmu.

Keempat, fitnah kekuatan dan kekuasaan kisah Dzulqarnain. Seorang raja penguasa hampir semua permukaan dunia. Kekuasaannya membentang dari ujung timur hingga ujung barat. Namun beliau jadikan kekuasaannya untuk menegakkan keadilan dan syariat bagi seluruh manusia.

4- Surat Peneguh Hati

Mayoritas ulama mengatakan, surat Al-Kahfi Allah turunkan sebelum hijrah. Sehingga surat ini digolongkan sebagai surat Makiyyah. Tepatnya, surat ini diturunkan menjelang hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Seolah surat ini menjadi mukadimah, untuk perjuangan besar bagi kaum muslimin, hijrah meninggalkan kampung halamannya, berikut harta dan keluarganya.

Tentu saja, butuh perjuangan yang tidak ringan. Mereka harus siap dengan segala resiko, ketika mereka pindah ke Madinah. Semuanya serba menjadi taruhan. Mempertaruhkan harta dan kedudukan yang mereka bangun di Mekkah. Mempertaruhkan hubunngan keluarganya karena harus pisah di dua negeri yang berbeda. Mempertaruhkan keselamatan jiwa sesampainya di Madinah, yang masih harus bersaing dengan Yahudi di sekitarnya.

5- Demikian istimewanya surat ini, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jadikan sebagai sumber cahaya bagi manusia. Sehingga mereka terhindari dari fitnah Dajjal, fitnah dunia, dan agama. Tentu saja, ini bagi mereka yang berusaha merenungi kandungan isi dan maknanya.


Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :


1- Ashabul kahfi, kisahnya mengajarkan bahwa manusia harus mempertahankan agamanya, sekalipun dia harus terusir dari kampung halamannya. Hijrah menjadi solusi bagi orang yang diuji keimanannya. Menyelamatkan agama adalah suatu kewajiban dan harga mati.


أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا، إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا، فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا، ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا


Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala pemu­da-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangun­kan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). [Al-Kahfi, ayat 9-12]


2- Cerita Shahibul Jannatain (pemilik kebun), kisahnya mengajarkan agar manusia tidak silau dengan harta, sehingga lebih memilih dunia dan meninggalkan agamanya. Bahkan Nabi tidak khawatir dengan kefakiran, namun Nabi khawatir ketika dibentangkan dunia kepada umatnya. Sehingga mereka berlomba-lomba mengejarnya yang berakibat pada kebinasaan. Tidak sedikit orang muslim yang menggadaikan aqidahnya untuk harta, jabatan, dan kedudukan.


وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لأحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا ، كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلالَهُمَا نَهَرًا، وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالا وَأَعَزُّ نَفَرًا، وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا، وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لأجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا 


Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu mengha­silkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar. Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia, "Hartaku lebih banyak daripada hartamu, dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” Dan dia memasuki kebunnya sedangkan dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang; dan jika sekiranya aku dikembali­kan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.”[Al-Kahfi, ayat 32-36]


3- Kisah Musa & Khidir, kisahnya mengajarkan bahwa orang harus mendatangi sumber ilmu dan hidayah, dimanapun dia berada. Ilmu itu dicari dan didatangi, karenanya dalam Al Quran disebutkan dengan istilah Utul ‘Ilm (mendatangi ilmu). Dengan ilmu ia mampu membedakan yang haq dan yang batil, tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah dan yang lainnya.


وَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا 


Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.[Al Kahfi :65]


4- Kisah Dzulqarnain, kisahnya mengajarkan bahwa bumi ini akan Allah wariskan kepada siapapun yang Allah kehendaki diantara hamba-Nya. 


وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا، إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الأرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا 


Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, "Aku akan bacakan kepada kalian cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.[Al-Kahfi:83-84]



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KEKHAWATIRAN NABI TERHADAP PEMIMPIN YANG BODOH”

عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا : إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَ سَفْكَ الدَّمِ وَ بَيْعَ الْحُكْمِ وَ قَطِيْعَةَ الرَّحْمِ وَ نَشْوًا يَتَّخِذُوْنَ الْقُرْآنَ مَزَامِيْرَ وَ كَثْرَةَ الشُّرَطِ


Dari Auf bin Malik radhiAllahu anhu berkata Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

"Aku khawatir atas kalian enam perkara: imarah sufaha (orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin), menumpahkan darah, jual beli hukum, memutuskan silaturahim, anak-anak muda yang menjadikan Alquran sebagai seruling-seruling, dan banyaknya algojo (yang zalim)" (HR. ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabiir 18/57 no 105)


Pelajaran yang terdapat di dalam hadits: 


1- Yang dimaksud dengan imarah sufaha adalah para pemimpin yang memimpin umat Islam tidak menggunakan sunnah Rasul dan Syariat Islam.

Dari Jabir bin Abdillah (ia berkata): "Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah: “Ya Ka’ab bin ‘Ujrah! Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan yang bodoh!”. Ka’ab bin ‘Ujrah bertanya: “Kenapa demikian ya Rasulullah, dan siapakah pemerintahan yang bodoh itu?”.Beliau menjawab: “Para umarah (penguasa) yang akan datang nanti sesudahku, mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak mengamalkan Sunnahku. Maka barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan menolong ke zhaliman mereka, maka mereka itu bukan dariku dan aku bukan dari mereka, dan mereka tidak akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat). Akan tetapi barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong kezhaliman mereka, maka mereka itu dariku dan aku dari mereka, dan mereka akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat)." (HR. Ahmad)

2- Pemimpin itu punya potensi dan peran yang sangat strategis, bagaimana bila pemimpin itu bodoh?.

Tanda tangannya itu bisa menentukn nasib banyak orang.

3- Sedangkan yang lain dikhawatirkan Rasûlullâh shallallah alaihi wa salam yaitu:

a- Menumpahkan darah. Saat ini tidak hanya membunuh yang darahnya tertumpah yang disebutkan disini, tetapi juga bisa meracuni orang atau bahkan dengan cara apapun bisa membunuh secara pelan-pelan misal lewat embargo dan sebagainya.

b- Jual beli hukum, salah satunya adalah suap menyuap dalam sebuah perkara.

c- Memutus silaturahim.

Memutus silaturrahim itu adalah dengan orang yang memiliki hubungan kekerabatan, baik karena hubungan darah ataupun karena perkawinan.

d- Anak-anak muda yang menjadikan al-Qur’an sebagai seruling-seruling. Mereka menyuarakan al-Qur'an dengan dinyanyikan tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj sehingga persis seperti suara nyanyian.

e- Banyaknya algojo yang merupakan lambang kedzaliman. Algojo masa kini adalah orang-orang yang dibayar bertujuan untuk merampas hak orang lain. Pihak ini bisa saja penguasa ataupun juga orang yang memiliki kuasa.


Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an:


1- Orang yang bodoh (kurang sempurna akalnya) tidak boleh mentasorufkan harta lebih lagi menjadi pemimpin pemerintahan


وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً وَارْزُقُوهُمْ فِيها وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً 


Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. [An-nisa:5]


2- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya imarah sufaha, karena mereka tidak mau mengambil petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peraturan, sehingga hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dikesampingkan. Akibatnya, rusaklah kehidupan, padahal hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kehidupan untuk manusia.


وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


“Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 179).



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“WANITA SHOLEHAH”

• WANITA YANG DISAYANGI Adalah ciptaan Tuhan yang dalam dirinya mengalir rasa cinta, takut (khouf) dan harap (rojaa') menguasai perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu, hari ke hari hingga perjalanan jasad dan nyawanya berakhir..


• WANITA YANG DI IMPIKAN Adalah yang mendekatkan hati yang telah jauh kepada Ar-Rahman Ar-Rahim di saat orang lain di lenakan kebendaan


• WANITA YANG DIKASIHI adalah Yang bersyukur dengan apa adanya, yang bersabar pada yang tiada, cinta pada hidup yang sederhana, yang tidak bermata kebendaan


• WANITA YANG DIRINDUKAN adalah Yang menutup auratnya dari pandangan mata AJNABI.. kehormatan dirinya menjadi mahal nilainya, di sanjung tinggi penduduk langit dan bumi..


• WANITA YANG DISUKAI itu Menjadi dia pada dirinya sendiri, menjadi pelita untuk putra putri yang kelak menjadi cikal bakal penyambung perjuangannya di kemudian hari


Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh islam untuk seseorang wanita menerima gelar "shalehah" dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah subhanahu wa ta'ala, mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat yaitu :


1. Taat kepada Allah dan Rasul-NYA


2. Taat kepada suaminya


Berikut ini antara lain perincian dari dua syarat di atas :


1. Taat kepada Allah Ta'ala dan Rasul-NYA


Bagaiman taat kepada Allah ??


• Mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW melebihi dari segala-segalanya


• Menutup aurat


• Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliyah


• Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada Mahromnya


• Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan takwa


• Berbuat baik kepada ibu dan bapak


• Senantiasa bersedekah baik dalam keadaan susah atau pun senang


• Tidak berkhalwat dengan lelaki lain


• Bersikap baik dengan tetangga


2. Taat kepada suami


• Memelihara kewajiban terhadap suami


• Senantiasa menyenangkan suami


• Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah


• Tidak cemberut di hadapan suami


• Tidak menolak ajakan suami untuk tidur


• Tidak keluar tanpa seijin suami


• Tidak meninggikan suara melebihi suara suami


• Tidak membantah suami dalam kebenaran


• Tidak menerima tamu yang di benci suaminya


• Senantiasa memelihara diri, kebersihan fisik, kecantikan hati dan jiwa serta rumah tangganya



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“JANGAN SAMPAI MALAM TAHUN BARU MENJADI AJANG DOSA BERJAMA'AH”

Sahabat Fillah, bencana demi bencana menimpa negeri kita dengan jarak waktu yang  akhir-akhir ini. Mari kita instrospeksi diri.


Sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab berbunyi,


ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة


"Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat"


Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap muslim, agar ia intropeksi terhadap diri kemudian memperbaik dosa kesalahan tersebut serta mengiringi keburukan tersebut dengan segera melakukan kebaikan.


Semua musibah dan kesusahan yang menimpa kita adalah karena dosa dan maksiat yang kita lakukan.


Allah Ta’ala berfirman,


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ


“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syura: 30)


Oleh karena itu, janganlah engkau menambah dosa-dosa dan maksiat di malam hari ini. Jauhilah hura-hura dan foya-foya yang biasa orang-orang lakukan di malam tahun baru. Jangan engkau tumpuk dosa-dosa jama'ah di malam hari ini yang dapat mengundang adzab atau bencana dari Allah ta'ala.


Mari kita nasehati kerabat dan teman-teman kita agar tidak merayakan malam tahun baru ini yang penuh dengan kesia-siaan bahkan tak sedikit yang dipenuhi dengan kemaksiatan.


 Semoga bermanfaat


 بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ


۞اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّم۞



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“TIGA GOLONGAN YANG MENDAPAT ADZAB ALLAH SWT”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ . (رواه مسلم)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasûlullâh ﷺ bersabda: "Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, dan tidak mensucikan mereka." Abu Mu'awiyah menyebutkan, "Dan tidak melihat kepada mereka. Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih: yaitu orang tua yang berzina, pemimpin yang pendusta, dan orang miskin yang sombong." (Hadits Shahih Riwayat Muslim No: 156)


𝐏𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐩𝐚𝐝𝐚 H𝐚𝐝𝐢𝐭𝐬 𝐝𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐬 :


1.️ Hadits tersebut mengabarkan perihal perbuatan yang tidak pantas dan tidak layak dilakukan. Orang tua yang masih berada di zona menuruti syahwat seks bahkan disalurkan pada tempat yang tidak halal. Masuk ke dalam kategori tua bila di atas usia 40 tahun. Batas usia matang adalah usia di atas 40 tahun, jadi bila kenikmatan yang diburu masih sebatas dan seputar kenikmatan ragawi, maka orang tersebut belum bertemu dengan maqam kedewasaan.


2.️ Pemimpin dipilih dan diharapkan oleh bawahannya sebagai penyambung lidah, pengemban amanah, dan orang dititipkan pada pundaknya harapan-harapan kebaikan dunia akhirat. Oleh karenanya tidak pantas mereka yang dipilih dan dititipkan berbagai harapan kebaikan lalu berdusta dan berkhianat terhadap amanah umat (rakyat). 


3.️ Demikian pula orang yang tidak mempunyai kelebihan tertentu kemudian berperilaku sombong dengan kekurangannya, maka sungguh suatu sikap yang diluar batas kewajaran.


4️. Pesan hadits tersebut adalah, terdapat tiga golongan yang tidak mendapat rahmat Allah di hari kiamat dan tidak dibersihkan dosanya serta mendapat siksa yang pedih, yaitu :

1) Orang tua yang berzina,

2) Pemimpin yang berbohong, dan

3) Orang miskin yang sombong.


5️. Sebagai mukmin, kita harus berusaha :

1) menjauhi perbuatan zina, perkara yang mendatangkan adzab Allah;

2) senantiasa memiliki sifat jujur dan tidak membohongi orang yang memilihnya;

3) memiiliki sifat tawadlu' dan merendah diri dengan senantiasa mengharap bantuan dan limpahan karunia dari Allah.


Tema Hadits  yang berkaitan dengan ayat Al-Qur'an :


1. Ancaman bagi pelaku zina baik laki-laki maupun perempuan; 


اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۚ  وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۞


"Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman." (QS. An-Nur: 2)


2. Larangan seorang mukmin menikah dengan pezina laki-laki/perempuan,  juga dengan orang musyrik laki-laki/perempuan;


اَلزَّانِيْ لَا يَنْكِحُ اِلَّا زَانِيَةً اَوْ مُشْرِكَةً  ۖ  وَّالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَاۤ اِلَّا زَانٍ اَوْ مُشْرِكٌ  ۚ  وَحُرِّمَ ذٰ لِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ۞


"Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin." (QS. An-Nur: 3)



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Minggu, 27 Desember 2020

“IBADAH HAJI SEBELUM TIDUR”

Jika kamu merasa bersyukur atas segala rahmat Allah, jangan sungkan

Tunaikanlah ibadah haji sebelum tidur...

Ini sangat menarik, tolong luangkan 2 menit saja untuk membacanya.

Suatu hari Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Ali (R. A.) :Wahai Ali, lakukanlah 5 hal ini sebelum tidur...

<1.Berikan sedekah 4000 Dinar kemudian tidurlah.

<2.khatamkan Qur'an lalu tidur.

<3.Belilah surga, lalu tidurlah.

<4.perbaikilah hubungn dua orang yang tengah berselisih, kemudian tidurlah.

<5.Tunaikanlah satu kali haji, lalu tidurlah

Ali (R. A.) pun menjawab, Ya Rasulullah! Mana mungkin aku bisa melakukannya? Lalu Nabi (SAW) menjawab :

<4 kali membaca Al fatihah adalah sama dengan sedekah 4,000 Dinar.

<3 kali membaca surah Al ikhlas sama nilainya dengan menhatamkan satu Al - Qur'an.

<3 kali membaca shalawat (minimal membaca shallallahu Alaihi Wasallam) adalah harga surga.

<10 kali bacaan istighfar sama nilainya dengan menyambungkan silaturrahim dua orang yg berselisih.

<4 kali membaca subhanallah, alhamdulillah, Laa ilaaha ilallah, Allahu akbar sama dengan menunaikan satu kali Haji.

Lalu Ali (R. A.) pun berkata, Ya Rasulullah (SAW)! Kini aku akan menjalankan semua nasehatmu ini sebelum tidur!

<>Hanya butuh kurang dari Lima menit untuk menjalankannya, namun Lihatlah semua kebaikan amalan tersebut! Siapa tak ingin memperoleh semua kebajikan itu dalam buku catatan Amal baiknya?

<>untuk mengingatkan seseorang akan amalan ini, cara termudah adalah dengan menuliskan ke semua dzikir tersebut pada sehelai kertas, untuk dibaca sebelum tidur, dan tempelkan di dekat tempat tidur anda, untuk dibaca .... Dan tentu saja, dengan niat mengingat Allah...

Indahnya jika anda mau berbagi tulisan ini ke sebanyak Muslim yang anda kenal, karena jika atas usaha anda seseorang menjalankan amalan² ini, maka anda pun akan menerima pahala Dan kebaikannya... Insya Allah. Aamiin.. Yarabbal 'Aalamiin..

Suratul faatihah melindungi seseorang dari kemurkaan Allah

Surah Yasiin melindungi seseorang dari kehausan pada hari pengadilan.

Suratul Waaqi' ah melindungi seseorang dari kekafiran Dan kelaparan.

Surah Al - mulk melindungi manusia dari Azab kubur.

Surah Al - kautsar melindungi seseorang dari kejahatan musuh

Surah Al - kaafiruun melindungi dari kekafiran Saat ajal menjemput.

Surah Al - ikhlaas melindungi seseorang dari kemunafikan.

Surat Al - Falaq melindungi seseorang dari marabahaya.

Surat An - naas melindungi seseorang dari pikiran jahat.

Seandainya seseorang mengindahkan amalan² dalam pesan yang anda kirimkan ini Dan mengamalkannya, andapun akan meraih kebaikan karena telah menyampaikannya...

Saran
Jangan tunggu nanti. Kirimkan sekarang! Semoga Allah melimpahkan kesuksesan untuk setiap orang yang telah mengamalkan Dan menyampaikan pesan ini. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin "

️Semoga bermanfaat

Mohon maaf lahir batin



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“PUASA AYYAMUL BIDH: SEPERTI PUASA SATU TAHUN”

Barang siapa yang menjalankan puasa tiga hari ayyamul bidh, maka sama dengan puasa selama sebulan. Sedangkan jika dilakukan setiap bulan, maka sama dengan puasa selama setahun penuh.


وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فإن لك بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فإن ذلك صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ


“Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang Kaulakukan. Karena itu, maka puasa ayyamul bidh sama dengan berpuasa setahun penuh,” (HR Bukhari-Muslim).


[Keterangan:]


 Kenapa dinamakan ayyamul bidh? Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab ‘Umdatul Qari`Syarhu Shahihil Bukhari dijelaskan bahwa sebab dinamai ayyamul bidh terkait dengan kisah Nabi Adam AS ketika diturunkan ke muka bumi.


Riwayat Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari sehingga menjadi hitam/gosong. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari (tanggal 13, 14, 15). Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih. Puasa hari kedua, sepertiganya lagi menjadi putih. Puasa hari ketiga, sepertiga sisanya menjadi putih.


ثُمَّ سَبَبُ التَّسْمِيَةِ بِأَيَّامِ الْبِيضِ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا سُمِيَتْ بِأَيَّامِ الْبِيضِ لِأَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْضِ أَحْرَقَتْهُ الشَّمْسُ فَاسْوَدَّ فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ أَنْ صُمْ أَيَّامَ الْبِيضِ فَصَامَ أَوَّلَ يَوْمٍ فَأبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّانِيَّ اِبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّالِثَ اِبْيَضَّ جَسَدُهُ كُلُّهُ


“Sebab dinamai ‘ayyamul bidh’ adalah riwayat Ibnu Abbas RA, dinamai ayyamul bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari membakarnya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah SWT kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); ‘Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)’. Lantas Nabi Adam AS pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih.” Pendapat lain menyatakan bahwa dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang benderang disinari rembulan, dan rembulan selalu menyinari bumi sejak matahari terbenam sampai terbit kembali. Karenanya, pada hari-hari itu malam dan siang seluruhnya menjadi putih (terang).


وَقِيلَ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّ لَيَالِي أَيَّامِ الْبِيضِ مُقْمِرةٌ وَلَمْ يَزَلِ الْقَمَرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى طُلَوعِهَا فِي الدُّنْيَا فَتَصِيُر اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ كُلُّهَا بِيضًا


“Pendapat lain menyatakan, hari itu dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan dan rembulan selalu menampakkan wajahnya mulai matahari tenggelam sampai terbit kembali di bumi. Karenanya malam dan siang pada saat itu menjadi putih (terang),” (Lihat Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi, ‘Umdatul Qari` Syarhu Shahihil Bukhari, juz XVII, halaman 80).


Wallahu a'lam bish-shawaab



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“NASEHAT LEGENDARIS”

IMAM AHMAD

(Kisah Mengharukan Antara Imam Besar Ahlussunnah AHMAD BIN HAMBAL Dengan Seorang Penjahat Besar ABUL HAITSAM Rahimahumallah)


Abdullah bin Ahmad bin Hambal rahimahumallah berkata:


"Seringkali dahulu aku mendengar ayahku (al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah) berkata:


"Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam... Ya Allah, rahmati Abul Haitsam."


Maka aku bertanya padanya: "Wahai ayahanda, siapakah Abul Haitsam ?"


Beliau menjawab: "Seseorang dari kalangan A'rab (Badui) yang wajahnya sama sekali tak pernah kulihat.


Suatu malam ketika aku selesai dicambuk dahulu (karena fitnah al-Qur'an makhluk-pent), mereka (penguasa) menahanku di penjara bawah tanah yang gelap. Lalu seseorang mencolekku dan bertanya:


"Apakah engkau Ahmad bin Hambal ?"


Al-Imam Ahmad: "Benar."


Dia berkata: "Apakah engkau mengenalku?"


Al-Imam Ahmad: "Tidak."


Dia berkata kembali: "Aku adalah Abul Haitsam, sang perampok, peminum khamr, dan tukang begal. Tertulis dalam catatan Amirul Mukminin bahwasanya aku telah dicambuk sebanyak 18 ribu kali cambukan yang bermacam macam.


Dan sungguh aku telah mampu bersabar menanggung semua (siksaan) ini di atas jalan setan. Maka bersabarlah engkau wahai Ahmad, (karena engkau disiksa) di jalan Allah!"


Maka ketika mereka mengikatku dan memulai cambukannya, setiap kali cambuk mendarat di punggungku, aku teringat ucapan Abul Haitsam dan aku berkata dalam hati:


"Bersabarlah, engkau di jalan Allah wahai Ahmad!"




🌐 Sumber Artikel : Manaqib al-Imam Ahmad bin Hambal hal 450.




Semoga Allah mengampuni dan merahmati Abul Haitsam, si pemberi semangat sang Imam untuk tetap kokoh di atas kebenaran, walaupun dirinya sendiri bergelimang kejelekan.

 



Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya 

Barakallah fikum.

Wallahu a’lam



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Sabtu, 26 Desember 2020

“CARA MEMBERSIHKAN NAJIS ANJING”

Bismillah, walhamdulillah, was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Kita tak begitu asing dengan cara membersihkan najis.
Cukup dibasuhkan air atau dihilangkan menggunakan benda lainnya yang dapat menghilangkan sifat kenajisan (warna, aroma dan rasa).

Tapi untuk najis yang berasal dari anjing, mungkin sebagian kita belum begitu lumrah mengenalnya.

Cara membersihkannya ada sedikit penekanan, tak seperti membersihkan najis lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan pada hadis berikut :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ ، أُولاهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucikanlah bejana kalian apabila anjing minum padanya, dengan cara dibasuh 7 x. Cucian yang pertama dengan tanah (debu).” (Muslim no. 279).

Dalam hadits ‘Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِى الإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِى التُّرَابِ

“Jika anjing menjilati bejana kalian, cucilah sebanyak 7x dan gosoklah yang kedelapan dengan debu.” (HR. Muslim no. 280).

Dua hadis ini menjelaskan cara membersihkan najis anjing, yaitu dengan 7x basuhan, salah satunya menggunakan debu.

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan dalam kitab beliau “Al-Majmu’ “, bahwa basuhan debu dianjurkan pada basuhan pertama.
Bila tidak memungkinkan, maka pada salah satu basuhan berikutnya asal bukan basuhan terakhir atau ketujuh. (Lihat : Al-Majmu’ Syarhul Muhazdzab, 2/600)

Anda bisa saksikan perbedaan yang begitu mencolok dari cara membersihkan najis yang biasa kita kenal, harus 7 kali basuhan, salah satunya dengan debu.

Ini menunjukkan najisnya anjing dalam Islam adalah najis yang paling besar. Sampaipun babi yang keharamannya disinggung dengan tegas dalam Alquran, cara membersihkan najisnya tidak sampai seperti ini.
Menunjukkan ini bukan masalah sepele.

Apa Hikmahnya?
Apa gerangan hikmah dari cara mensucikan najis anjing yang berbeda ini?

Adanya penekanan dan sedikit merepotkan dalam membersihkan najis anjing, ternyata tersimpan pesan menarik. Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Al-Husaini rahimahullah, menerangkan dalam “Kifayatul Akhyar”,

الأمر بغسل سبعا انما كان لينفرهم عن مؤاكلة الكلاب

Perintah membersihkan najis anjing dengan cara dicuci tujuh kali, tujuannya adalah supaya menjauhkan masyarakat dari berbaur dengan anjing.

(Kifayatul Akhyar fi Hilli Ghayatil Ikhtishar, hal. 58)

-Ini menunjukkan, ketika seorang muslim memelihara anjing, bahkan berbaur nyaman dengan anjing, indikasi bahwa dia kurang peka menangkap pesan ini.
Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua.

Disamping itu, Islam mengharamkan setiap muslim memelihara anjing, kecuali untuk tujuan yang ditoleransi syariat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

“Siapa yang memelihara anjing selain anjing

Untuk menjaga hewan ternak
Anjing untuk berburu
Anjing penjaga tanaman
Maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu Qirot.” (HR. Muslim no. 1575).

&Inilah tiga tujuan yang diizinkan syariat dalam memelihara anjing.
Selain untuk tiga tujuan ini, atau kebutuhan yang mendesak lainnya, maka haram hukumnya bagi setiap muslim memelihara anjing.

Tidak main-main ancamannya bagi yang masih bersikeras, pahalanya akan berkurang 1 Qirot setiap harinya.

Tahukah anda berapa satu Qirat?

Yakni sebesar gunung Uhud!

(Lihat: Umdatul Qari 8/175 dan Fathul Bari 4/97)

Sungguh amat merugi, ketika pahala amal shalih hanya berfungsi menebus dosa ini, tidak dapat menaikkan derajat di sisi Allah.
Atau bahkan pahala seorang tak cukup menebus satu qirot ini, sehingga dia minus pahala.

Wal’iydzubillah, kita berlindung kepada Allah dari nasib sial seperti ini.

Menyentuh Anjing Apakah Najis?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

أما مس هذا الكلب فإن كان مسّه بدون رطوبة فإنه لا ينجّس اليد ، وإن كان مسّه برطوبة فإن هذا يوجب تنجس اليد على رأي كثير من أهل العلم ، ويجب غسل اليد بعده سبع مرّات إحداها بالتراب

Seorang yang menyentuh anjing, jika sentuhannya kering, tidak ada cairan basah, maka tidak najis.

Namun jika menyentuhnya dalam kondisi (tangan atau tubuh anjing) basah, maka tangan (pakaian atau bagian tubuh) yang tersentuh anjing menjadi najis menurut pendapat mayoritas ulama.

Wajib membasuh tangan itu 7x, salah satu diantaranya menggunakan debu.

(Majmu’ Farawa Ibnu ‘Utsaimin, 11/246).

Wallahua’lam bis shawab.



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

“KEBERSAMAAN DAN PERTEMUAN”

kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan pe...