Jumat, 25 Desember 2020

“NGELAP BERKAH/ TABARRUK”

Tabarruk ( التَّبَرُّك ), ditinjau dari bentuk katanya merupakan mashdar dari tabarraka-yatabarraku (تَبَرَّكَ – يَتَبَرَّكُ) yang artinya mencari barakah. Di kalangan masyarakat Indonesia (baca: Jawa), tabarruk lebih dikenal dengan sebutan “ngalap berkah”.

Di dalam kitab-kitab ulama ternama disebutkan bahwa barakah adalah kebaikan yang meliputi sesuatu dan senatiasa bertambah. Barakah hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Dari-Nya barakah itu bersumber dan dari-Nya pula diminta.

Asy-Syaikh al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Mencari kebaikan yang senantiasa ada dan bertambah itu (barakah, pen.) hanya-lah dari Dzat yang memilikinya dan mampu memberikannya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Dia-lah yang menurunkan barakah tersebut dan menetapkannya. Adapun makhluk, sungguh tidak mampu memberikan barakah dan mewujudkannya. Tidak pula dia mampu mengukuhkan dan mengekalkannya.” (al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hlm. 335)

Dengan segala hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan barakah pada sebagian makhluk yang dipilih dan dikehendaki-Nya. Adakalanya pada tempat, manusia, waktu, amalan, sifat dan sebagainya. Semua itu sebagai tanda dari tandatanda kekuasaan dan prerogatif Allah subhanahu wa ta’ala atas seluruh makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ
“Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al- Qashash: 68)

Jadi, penentuan bahwa tempat, manusia, waktu, amalan, sifat dan sebagainya itu berbarakah, tak bisa dengan main kira-kira atau asal duga, apalagi direkayasa. Tak bisa pula berdasar pada wangsit, primpen, atau ramalan “orang pintar”. Semuanya harus merujuk kepada dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Melacak Akar Tabarruk

Fenomena tabarruk alias ngalap berkah bukan hal baru dalam kehidupan umat manusia. Salah kaprah dalam memahami dan menerapkannya benarbenar menjerumuskan pelakunya ke dalam kubangan syirik. Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, salah satu bukti sejarahnya.

Alkisah, kala itu umat Nabi Nuh ‘alaihissalam sangat mencintai orang-orang saleh yang hidup di tengah-tengah mereka; Wadd, Suwa’, Ya’uq, Yaguts, dan Nasr. Dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala, lima orang saleh tersebut meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan. Kepergian orang-orang mulia lagi terhormat yang selama ini membimbing dan mengarahkan mereka itu benar-benar menyisakan duka lara yang mendalam.

Sebagai bentuk penghormatan dan balas budi kepada mereka dibuatlah monumen berupa patung atau gambar mereka. Dipancanglah patung atau gambar mereka itu di tempat-tempat strategis, antara lain untuk mendobrak semangat ibadah dan kebaikan kala menyaksikan monumen para mendiang tersebut.

Kuburan mereka pun diistimewakan. Umat Nabi Nuh ‘alaihissalam ngalap berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala di sisi kuburan orang-orang saleh tersebut. Itulah awal penyimpangan mereka, dan dari situlah penyimpangan berikutnya yang lebih besar (syirik) bermula.

Roda zaman berputar, generasi pun berganti, sementara ilmu agama memudar seiring dengan wafatnya para ulama. Di saat itulah setan datang menggoda menyesatkan mereka.

Apa gerangan yang terjadi? Akhirnya, kuburan orang-orang saleh yang tadinya diistimewakan “sebatas” untuk tempat beribadah, berdoa, memohon berkah, rezeki, dan sebagainya dari Allah subhanahu wa ta’ala, kini menjadi tempat yang lebih sakral dan dikeramatkan.

Segala bentuk ibadah di sisi kuburan orang-orang saleh tersebut yang tadinya ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kini ditujukan kepada para penghuni kubur. Doa yang tadinya dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kini dipanjatkan kepada orang-orang saleh tersebut. Rezeki, keselamatan, kesehatan, dan sebagainya yang tadinya dimohon dari Allah subhanahu wa ta’ala, kini dimohon langsung dari orang-orang saleh tersebut. Tabarruk alias ngalap berkah yang tadinya dari Allah subhanahu wa ta’ala, kini langsung dari orang-orang saleh tersebut. Demikianlah seterusnya…

Dengan itu, terjadilah kesyirikan yang pertama kali di muka bumi ini. Kurang lebih tatkala perjalanan umat manusia baru berjalan 10 abad (seribu tahun) lamanya.

Ketika menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Nuh ayat 23 [2], Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Mereka (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, pen.) adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam agar membuat patung atau gambar (dalam bentuk orang-orang saleh tersebut) di majelis-majelis yang dahulu mereka beribadah padanya. Lalu  setan memerintah mereka agar memberi nama patung atau gambar tersebut dengan nama orang-orang saleh tadi.

Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam pun melakukannya, namun (ketika itu) belum disembah. Manakala generasi para pembuat patung atau gambar tersebut berlalu dan ilmu menjadi sesuatu yang dilupakan (dihapus), maka dijadikanlah patung atau gambar itu sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala.” (Fathul Bari 8/535)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa tidak sedikit dari ulama salaf yang mengatakan, “Ketika orang-orang saleh tersebut wafat, kaumnya menetapi kuburan mereka sebagai tempat ibadah, kemudian dibuatlah patung-patung dalam bentuk mereka, hingga berlalu masa yang panjang dan akhirnya mereka menyembahnya. Mereka menggabungkan antara dua fitnah; fitnah kubur dan fitnah patung (berhala). ” (Ighatsatul Lahafan 1/203)

Dengan penuh kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada mereka sebagai pemberi peringatan, mengajak mereka kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari kesyirikan serta semua yang mengantarkan kepadanya. Sembilan ratus limapuluh tahun lamanya beliau berdakwah, namun tak menyambutnya kecuali hanya segelintir orang saja dari mereka.

Akhirnya, Allah subhanahu wa ta’ala pun murka. Dia mengirim air bah yang amat dahsyat. Orang-orang yang menyambut dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam selamat, sedangkan yang menentangnya mati binasa. Mereka ditenggelamkan dalam kondisi yang amat mengenaskan.

Peristiwa tragis ini Allah subhanahu wa ta’ala abadikan dalam al-Qur’anul Karim; surah Nuh dan beberapa surat lainnya sebagai pelajaran berharga bagi segenap umat manusia.

Apakah salah kaprah tabarruk tersebut berhenti sampai di situ? Jawabannya, tidak. Ternyata kaum Yahudi dan kaum Nasrani pun terjebak dalam tabarruk yang salah kaprah itu.

Di dalam Shahih al-Bukhari (no. 427) dan Shahih Muslim (no. 528) disebutkan bahwa Ummu Habibah radhiallahu ‘anha dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bercerita tentang gereja yang pernah mereka lihat di negeri Habasyah (Ethiopia) dan di dalamnya terdapat gambar-gambar. Mereka berdua menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ ا يَوْمَ القِيَامَةِ
“Sesungguhnya mereka itu, jika ada orang saleh di tengah-tengah mereka dan meninggal dunia, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburannya dan membuat gambar-gambar padanya. Mereka itu sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.”

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Para pendahulu mereka berbuat demikian semata-mata untuk meneladani dan mengenang berbagai keteladanan mulia yang ada pada orang-orang saleh tersebut, terkhusus ketika melihat gambar-gambar mereka. Supaya lebih bersungguh-sungguh layaknya kesungguhan yang ada pada mereka. Aktivitas ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala pun mereka lakukan di sisi kuburan orang-orang saleh tersebut.

Keadaan seperti ini berjalan dalam masa yang cukup lama. Hingga datanglah generasi berikutnya yang tidak tahumenahu faktor utama yang melatarbelakangi perbuatan para pendahulu mereka itu.

Setan pun membisikkan kepada mereka bahwa dahulu ayah-ayah dan kakek-kakek mereka menyembah gambar-gambar tersebut. Akhirnya mereka menyembahnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya dari perbuatan semacam itu, mengecam keras orang yang melakukannya, dan menutup segala sebab yang mengantarkan kepadanya.” (Tafsir al-Qurthubi 2/5)

Subhanallah, proses penyimpangan mereka tak jauh berbeda dengan yang terjadi pada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Lagi-lagi fitnah gambar atau patung dan fitnah kubur yang menjerumuskan mereka ke dalam kubangan syirik.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terkumpul pengagungan terhadap patung (gambar) dan kubur. Karena itulah, berhala Laata diibadahi. Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan, dari Manshur, dari Mujahid, bahwa Laata adalah seorang yang membuat makanan dari adonan gandum untuk para jamaah haji. Ketika dia meninggal dunia, orang-orang menetapi (bertirakat) di atas kuburannya’.” (Ighatsatul Lahafan 1/184)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat khawatir bila umat Islam berbuat seperti mereka, menjadikan kuburan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tempat ibadah. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit yang berujung kematian, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ. قَالَتْ: فَلَوْ ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا
“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

Aisyah berkata, “Kalau bukan karena itu, niscaya akan ditampakkan kuburan beliau (di pekuburan umum). Hanya saja dikhawatirkan kuburan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dijadikan tempat ibadah.” (HR. al-Bukhari no. 1390 dan Muslim no. 529)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Alasan inilah yang menyebabkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembangunan tempat ibadah di atas kuburan. Karena perbuatan itulah yang menjerumuskan mayoritas umat manusia, adakalanya ke dalam syirik besar atau ke dalam syirik yang di bawahnya…

Adapun jika seseorang memaksudkan shalat di sisi kuburan untuk ngalap berkah di tempat tersebut, ini jelas-jelas penentangan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, penyelisihan terhadap agamanya, dan mengadakan hal baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh, kaum muslimin telah sepakat berdasarkan ilmu yang mendasar dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa shalat di sisi kuburan di larang dalam agama dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Jadi, di antara bid’ah dan sebab kesyirikan terbesar adalah shalat di sisi kuburan, menjadikan kuburan tersebut tempat ibadah, dan membangun masjid di atasnya. Sungguh, telah mutawatir riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perbuatan tersebut dan mengancamnya dengan keras.” (Iqtidha’ash-Shirathil Mustaqim 2/192)

Fitnah Tabarruk Menimpa Umat

Di antara ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap umat Islam, adanya orangorang yang gemar mengikuti kaum Yahudi dan kaum Nasrani dalam berbagai aspek

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti cara/jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal dengan sejengkal, sehasta dengan sehasta. Sampai-sampai apabila mereka masuk ke liang dhabb (sejenis biawak yang hidup di padang pasir), niscaya kalian akan mengikuti mereka.”

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?”

Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Lihat al-Lu’lu wal Marjan no. 1708)

https://youtu.be/4J9jjV7hDu0



Join :

Telegram : t.me/chymh

Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag

Tidak ada komentar:

“KEBERSAMAAN DAN PERTEMUAN”

kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah yang akan menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan, kebersamaan dan pe...