Ahlussunnah wal jamaah Vs Wahabi
Ada ustadz wahabi yg mempermasalahkan niat. Kata mereka niat itu tidak perlu, krn org yg mengerjakan sesuatu pasti sudah ada niat. Misalnya orang yg sedang pakai baju dan berkemas untuk pergi ke suatu tempat. Nggak mungkin org tersebut tidak memiliki niat. Jadi, niat itu sudah ada saat kita mengerjakan sesuatu. Itu kata mereka.
Mereka mungkin kurang tau bahwa manusia itu memiliki gerakan yg tidak disengajainya, seperti reflek, latah, atau lupa. Artinya, tidak semua pekerjaan itu dibarengi kesengajaan.
Mereka juga mengatakan bahwa dalil niat itu hanya hadis Innamal A'malu bin Niyat, hadis ini tidak relevan dijadikan sebagai dalil wajibnya niat pada shalat, krn asbabul wurud hadis ini berkaitan dengan hijrahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Mereka kurang paham bahwa dalam ilmu tafsir itu ada Qaedah populer yg berbunyi sebagai berikut:
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
"Yang menjadi barometer pada dalil adalah keumuman lafazhnya, bukan kekhususan asbabul wurudnya."
Artinya, kekhususan latar belakang lahirnya hadis tidak dapat mempengaruhi keumuman lafazhnya. Walaupun ia dapat mempengaruhi keabsahan mafhum mukhalafah. Nah, di sini letak perbedaan antara Lafazh 'Am dan Mafhum Mukhalafah dalam kaitannya dgn asbabul nuzul atau asbabun nuzul.
Berdasarkan Qaedah ini, maka hadis tersebut bisa saja dijadikan dalil kewajiban niat pada shalat. Apakah hanya itu dalilnya?
Dalam kitab Majmu', Syarah Muhazzab, halaman 276, juz 3, Imam Nawawi berkata:
ونقل بن المنذر في كتابه الأشراف وكتاب الإجماع والشيخ أبو حامد الاسفراينى والقاضي أبو الطيب وصاحب الشامل ومحمد بن يحيى وآخرون إجماع العلماء على أن الصلاة لا تصح إلا بالنية
"Beberapa Ulama mengaatakan telah terjadinya konsensus (ijma') bahwa shalat tidak sah melainkan dengan niat. Di antaranya Ibju Munzir dalam kitab Al-Asyraf dan Al-Ijma', Abu Hamid Al-Isfiraini, Al-Qadhi Abu Thalib, Penulis kitab Syamil, Muhammad bin Yahya, dan beberapa ulama lainnya."
Kewajiban niat itu berdasarkan 4 dalil sekaligus, Al-Quran, Hadis, Ijma' dan Qiyas.
Dalil berupa Al-Quran adalah ayat ke 5, surat Al-Bayinah, sebagaimana keterangan Imam Mawardi dalam kitab Hawi Kabir sebagai berikut:
والدلالة على وجوبها قوله تعالى: {وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} [ البينة: 5] والإخلاص في كلامهم: النية
Dalil yang lain adalah Qiyas pada puasa. Sebagaimana pada puasa disyaratkan niat, pada shalat jg demikian.
Mereka juga mempermasalahkan tentang berbarengan niat dengan takbir. Kata mereka tidak ada dalil yg menegaskan bahwa niat itu harus berbarengan dgn takbir. Bahkan, sebagian yg lain menganggap keliru niat saat takbir. karena menurut mereka seharusnya saat takbir itu yg diingat adalah makna dari takbir, yakni Allah maha besar.
Dalam hadis yg diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إنما الأعمال بالنيات
Imam Ibnu hajar Asqalni memberi komentar terhadap hadis ini sebagai berikut:
قوله بالنيات الباء للمصاحبة ويحتمل أن تكون للسببية بمعنى أنها مقومة للعمل فكأنها سبب في إيجاده وعلى الأول فهي من نفس العمل فيشترط أن لا تتخلف عن أوله
"Ba (الباء) yg ada pada hadis tersebut bermakna mushahabah (المصاحبة). Artinya niat itu harus berbarengan dgn permulaan perbuatan."
Sehingga oleh ulama-ulama syafi'i mendefinisikan niat sebagai berikut:
النية قصد الشيئ مقترنا بالفعل
"Niat adalah Qashad yg menyertai dengan mengerjakan sesuatu."
Nah, oleh karena awalnya shalat adalah takbir, makanya dalam Mazhab Syafi'i disyaratkan harus berbarengan niat dgn takbir.
Jadi, apakah salah kalau niat berbarengan dengan takbir?
Nah, saya coba menampilkan referensi 4 mazhab?
Tujuannya, supaya wahabi tidak gagal paham dengan ibarat yg termaktub dalam kitab-kitab ulama besar yg representatif. Sehingga tidak sampai ngawur menyimpulkan bahwa salah kalau menetapkan niat harus berbarengan dengan takbir.
1. Mazhab Hambali. Dalam kitab Raudh Murbi' Syarah Zad Al-Mustaqni', karya Al-Buhuti, salah satu referensi penting dalam mazhab Hambali, disebutkan sebagai berikut:
(وينوي مع التحريمة) لتكون النية مقارنة للعبادة (وله تقديمها) أي النية (عليها) أي على تكبيرة الإحرام بزمن يسير عرفا إن وجدت النية (في الوقت) أي وقت المؤداة والراتبة ما لم يفسخه
Artinya, "Niat itu berbarengan dengan takbiratul ihram. Namun boleh niat sebelum takbir."
2. Mazhab Maliki. Dalam kitab Kifayatut-Thalibur-Rabbani 'Ala Risalati Ibni Abi Qairawani, salah satu rujukan dalam mazhab Maliki, disebutkan sebagai berikut:
ويشترط فيه أيضا مقارنة النية فإن تأخرت عنها فلا تجزئ اتفاقا، وإن تقدمت بكثير فكذلك وإن تقدمت بيسير فقولان مشهوران.
Artinya, "Disyaratkan pada takbir harus berbarengan dengan niat. Jika Niat mendahului takbir dalam rentang waktu yg lama, maka hukumnya tidak boleh. Sedangkan jika rentang waktunya pendek, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yg kuat adalah boleh."
3. Mazhab Hanafi. Dalam kitab Badai'us-Shanai', Salah satu kitab otoritatif dalam menjelaskan mazhab Hanafi, disebutkan sebagai berikut:
(وأما) بيان وقت النية فقد ذكر الطحاوي أنه يكبر تكبيرة الافتتاح مخالطا لنيته إياها، أي مقارنا أشار إلى أن وقت النية وقت التكبير، وهو عندنا محمول على الندب والاستحباب دون الحتم والإيجاب، فإن تقديم النية على التحريمة جائز عندنا إذا لم يوجد بينهما عمل يقطع أحدهما عن الآخر، والقران ليس بشرط، وعند الشافعي القران شرط
Artinya, "Niat harus berbarengan dgn takbir. Namun ini hukumnya sunnah, tidak wajib. berbeda dgn mazhab Syafi'i yg mensyaratkan mesti berbarengan niat dengan takbir."
Bagaimana dgn mazhab Syafi'i?
Ini seharusnya tidak perlu dinukil lagi, karena sudah sangat terang kecuali bagi orang yg menderita katarak. Dalam Kitab Majmu' Halaman 227, jilid 3, Imam Nawawi berkata:
قال الشافعي رحمه الله في المختصر (وإذا أحرم نوى صلاته في حال التكبير لا بعده ولا قبله) ونقل الغزالي وغيره النص بعبارة أخرى فقالوا قال الشافعي (ينوي مع التكبير لا قبله ولا بعده)
Artinya, "Imam Syafi'i berkata: Niat mesti ketika takbir, tidak boleh sebelumnya dan tidak boleh sesudahnya."
Jadi permasalahan ini sudah selesai dibahas oleh ulama-ulama besar ratusan tahun yg lalu. tidak ada satupun yg melarang atau menyimpulkan salahnya niat yg berbarengn takbir. Itu cuma akal-akalan yg tidak memiliki dasar sama sekali.
Saya mau menantang wahabi, coba hadirkan satu saja referensi yg melarang niat berbarengan dengan takbir. Satu saja! Tentunya referensi dari ulama dulu yg kompetensinya sudah teruji lintas generasi...
Di antara akal-akalan Wahabi, mereka mengatakan kalau niat berbarengan dengan takbir, maka kapan waktunya mengingat makna takbir itu sendiri, yakni Allah Maha Besar?
Atau akal-akalan yg lain, mereka mengatakan bahwa kalau membarengkan niat dengan takbir, maka akan berakibat kepada memanjangkan takbir, Allaaaaaaaaaahu akbar, dan itu tidak boleh menurut Imam Nawawi.
Di samping akal-akalan, ini juga mengandung hoaks, karena Imam Nawawi tidak pernah mengatakan demikian (sejauh yg saya tau). Kalau memang ada silahkan tampilkan referensinya, Kapan Imam Nawawi bilang gitu dan dalam kitab apa?
Jadi, untuk menjawab dua akal-akalan yg sering sekali dijadikan dalil oleh mereka, maka pertama-tama yg harus mereka tau bahwa niat itu bukan mengeja dengan hati, Sengaja aku shalat Dhuhur 4 rakaat menghadap kiblat lillahi ta'ala. Buka begitu. Walaupun boleh juga begitu. Tapi hakikat niat itu sangat cepat.
Misalnya seperti anda ingin pergi liburan ke sebuah taman. Maka ketika memulai langkah untuk pergi, maka akan terlintas dalam benak anda bahwa anda akan mendatangi satu tempat yg Indah. Dan membayangkan bagaimana keindahan dan keasriannya taman. Dimana letak pohon dan tempat berkumpulnya. dst. Itu terlintas dengan sekejap, hanya seper sekian detik.
Jadi, niat itu sangat singkat. Makanya sunnah hukumnya tidak memanjangkan takbiratul ihram, alasannya supaya jangan hilang niat dari juzu'-juzu' kalimat Allahu Akbar, sebagaimana keterangan Khatib Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj sebagai berikut:
ويسن أن لا يقصره بحيث لا يفهم، وأن لا يمططه بأن يبالغ في مده بل يأتي به مبينا، والإسراع به أولى من مده لئلا تزول النية، وبخلاف تكبير الانتقالات لئلا يخلو باقيها عن الذكر
Artinya, "Membaca takbir dgn cepat lebih baik, supaya tidak hilangnya niat."
Bagaimana dengan hukum memanjangkan kalimat takbir?
Takbiratul Ihram berbeda ketentuanya dengan takbir intiqalat, kalau takbir intiqalat dianjurkan panjang asal tidak melewati batasan maksimalnya, yakni 7 alif (14 harkat). Sedangkan pada takbiratul Ihram disunnahkan cepat. Namun tidak mengapa kalau dipanjangkan asal tidak melewati batas maksimalnya.
Referensi: Kitab I'anatut-Thalibin:
وكذا يضر زيادة مد الألف الكائنة بين اللام والهاء إلى حد لا يقول به أحد من القراء. قال ع ش: وغاية مقدار ما نقل عنهم - على ما نقله ابن حجر - سبع ألفات، وتقدر كل ألف بحركتين، وهو على التقريب.
Artinya, "batas maksimalnya adalah 7 alif. Satu alif adalah dua harkat."
Satu harkat itu sama dgn satu ketokan. Jadi, tidak masalah memanjang takbir. Walaupun sebaiknya jgn.
Jadi, Niat itu harus berbarengan dengan takbir...
Join :
Telegram : t.me/chymh
Instagram : https://www.instagram.com/cahayaa.muslimah?r=nametag
Tidak ada komentar:
Posting Komentar